All posts by Dimas Galih Putrawan

A writer, gamer, content creator. My Gaming Account: Steam: dimaspettigrew Epic Games Store: PTGRW Xbox: PTGRW

Wajib Beli Remaster, Ark: Survival Evolved di-Review Bomb!

GAMEFINITY.ID, Bandung – Studio Wildcard sudah mengumumkan Ark: Survival Evolved akan mendapat versi remaster-nya, Ark: Survival Ascended, yang rilis Agustus ini. Sayangnya, pengumuman ini membuat penggemar murka sampai mereka melakukan review bomb. Apa yang terjadi sebenarnya?

Versi Remaster dari Ark: Survival Evolved Diumumkan Bersama dengan Penundaan Ark 2

Ark: Survival Evolved remaster
Ark: Survival Ascended, versi remaster dari Ark: Survival Evolved

Sebelumnya, Studio Wildcard mengumumkan mereka memilih untuk menunda perilisan Ark 2 karena tantangan menggunakan Unreal Engine 5 untuk mengembangkannya. Pada saat yang sama, mereka juga mengumumkan versi remaster dari Ark: Survival Evolved yang juga dikembangkan menggunakan Unreal Engine 5, yaitu Ark: Survival Ascended.

Awalnya versi remaster itu akan rilis sebagai free update sebagaimana yang dilaporkan DualShockers. Pendiri Studio Wildcard, Jeremy Stieglitz, pernah menyebut di Twitter Januari lalu bahwa remaster itu akan gratis pada semua pemain. Cuitan itu kemudian dihapus.

Untuk menikmati Ark: Survival Ascended, mereka harus membelinya kembali. Khusus pengguna PlayStation, mereka harus mengeluarkan biaya sebesar US$39,99 hanya untuk versi remaster-nya. Lain cerita bagi pengguna PC dan Xbox, mereka harus membeli Ark Respawn Bundle yang berisi versi remaster serta Ark 2 senilai US$49,99. Jika mereka membeli versi remaster itu, progress mereka akan dipindahkan agar dapat menikmati game buatan Studio Wildcard itu.

Tidak hanya itu, server resmi Ark: Survival Evolved akan ditutup tepat setelah peluncuran Ark: Survival Ascended.

Baca juga: 

Merasa Dipaksa Beli Fans Murka dan Beramai-ramai Beri Review Bomb!

Pengumuman ini tentu menuai kemarahan penggemarnya. Mereka kecewa bahwa versi remaster-nya secara harfiah berupa update berbayar secara harga penuh. Mereka merasa dipaksa untuk membeli game yang sama dua kali.

Lebih buruk lagi, bundle dari Ark: Survival Ascended sama sekali tidak termasuk DLC yang sudah rilis sebelumnya. Ini berarti pemain harus membeli semua DLC kembali jika ingin menikmati remaster-nya.

Alhasil, penggemar beramai-ramai mengkritik keputusan Studio Wildcard ini baik di Reddit dan Steam. Tidak sedikit penggemar yang memperingatkan agar tidak membeli Ark: Survival Evolved.

Studio Wildcard belum memberikan tanggapan tentang kritikan pada Ark: Survival Ascended saat ini.

5 Alasan Marvel Cinematic Universe Meredup saat Phase 4

GAMEFINITY.ID, Bandung – Marvel Cinematic Universe atau lebih dikenal sebagai MCU menjadi pionir dalam membuat sebuah cinematic universe. Berkat hal ini, Marvel telah menetapkan standar baru dalam membuat film superhero. Phase 3 menjadi puncak dari franchise ini dengan Avengers: Endgame yang sekaligus menjadi akhir dari The Infinity Saga (Spider-Man: Far from Home menjadi penutup Phase 3).

Semenjak Phase 3 berakhir, banyak penggemar menilai MCU tidak lagi memiliki kualitas setara dengan ketiga phase sebelumnya, yaitu The Infinity Saga. Dapat dikatakan popularitas franchise Marvel ini tengah meredup semenjak dimulainya atau saat pertengahan Phase 4. Berikut adalah lima alasan Marvel Cinematic Universe meredup saat Phase 4.

Baca juga:

Empat Superhero Lama Tidak Lagi Tampil Semenjak Avengers: Endgame

Marvel Cinematic Universe Iron Man Snap
Karakter Iron Man dimatikan di Avengers: Endgame

Seperti yang diketahui secara umum, Avengers: Endgame menjadi penutup The Infinity Saga. Avengers: Endgame tidak hanya memuaskan penggemar dan kritikus secara keseluruhan sebagai penutup saga pertama yang terdiri dari Phase 1-3, tetapi juga sempat menjadi film dengan penghasilan box office terbanyak sebelum disalip kembali oleh Avatar yang dirilis ulang di China pada 2021.

Setidaknya dua superhero lama diceritakan telah mati setelah Avengers: Endgame, yaitu Iron Man dan Black Widow. Steve Rogers diceritakan kembali tinggal di masa lalu bersama Peggy Carter setelah mengalahkan Thanos bersama The Avengers, menyebabkan dirinya menua. Rogers kemudian pensiun sebagai Captain America. T’Challa atau Black Panther juga tidak lagi tampil setelah Endgame semenjak pemerannya, Chadwick Boseman, meninggal dunia.

Absennya keempat karakter ikonik sangat terasa bagi penggemar. Meski Black Widow sempat tampil di filmnya sendiri yang rilis 2021, film tersebut berlatar pada masa lalu. Hal ini menjadi salah satu faktor penggemar mulai meninggalkan MCU.

Baca juga:

Terlalu Banyak Proyek Marvel Cinematic Universe, Baik Film dan Serial TV

Marvel Cinematic Universe Wandavision
WandaVision menjadi serial televisi pertama di MCU Phase 4

Phase 4 menjadi awal baru bagi Marvel Cinematic Universe. Tidak hanya deretan film, Marvel Studios juga mengumumkan berbagai proyek serial televisi yang akan terhubung. Keputusan ini sebagai bagian dari upaya Disney untuk memanfaatkan layanan streaming Disney+ yang meluncur pada akhir 2019. Phase 4 juga menjadi awal dari The Multiverse Saga yang akan berakhir di Phase 6.

Namun, banyaknya proyek MCU dinilai sebagai bumerang. Pasalnya, tidak sedikit penggemar yang mengeluhkan begitu banyak film dan serial televisi yang harus disaksikan jika ingin terus mengikuti Marvel Cinematic Universe. Tidak heran banyak yang mulai meninggalkan MCU karena lelah dan kebingungan saat menonton setiap film dan serial televisi dari Phase 4.

Baca juga:

Beberapa Film Marvel Cinematic Universe Phase 4 Dapat Sambutan Kurang Memuaskan secara Komentar

Marvel Cinematic Universe Eternals
Eternals menjadi film MCU pertama yang mendapat mayoritas komentar negatif dari kritikus

Mayoritas film dari Phase 1-3 atau The Infinity Saga umumnya konsisten mendapat sambutan memuaskan dari kritikus dan penonton. Meski begitu, Thor: The Dark World menjadi contoh film yang dinilai pas-pasan bagi kritikus. Secara keseluruhan, The Infinity Saga dianggap menjadi momen MCU terbaik sekaligus standar bagi Marvel Studios untuk meneruskannya dengan Phase 4.

Walau dua film pembuka Phase 4, Black Widow dan Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings tetap mendapat sambutan hangat dari kritikus dan penonton, namun Marvel Studios tampaknya tidak dapat mempertahankan momentum itu. Hal tersebut terlihat dari Eternals yang mendapat komentar negatif dari kritikus. Doctor Strange and the Multiverse of Madness dan Thor: Love and Thunder setidaknya masih mendapat komentar positif, namun tidak sekuat dari berbagai film MCU sebelumnya. Setidaknya, Black Panther: Wakanda Forever mendapat sambutan hangat dari kritikus dan dinilai akhir yang memuaskan untuk Phase 4 bagi penggemar.

Sementara itu, semua serial televisi MCU Phase 4, dari WandaVision hingga She-Hulk: Attorney at Law mendapat sambutan relatif memuaskan dari kritikus.

Baca juga:

CGI yang Dinilai Buruk

Marvel Cinematic Universe Thor Love and Thunder bad CGI
Thor: Love and Thunder menjadi contoh film MCU Phase 4 yang terdapat CGI buruk

Salah satu keluhan terbesar adalah berkurangnya kualitas CGI di beberapa proyek Phase 4. Hal ini sangat terlihat di Thor: Love and Thunder dan She-Hulk: Attorney at Law dengan adegan ber-CGI yang dinilai buruk.

CBR melaporkan terdapat laporan Marvel memiliki ekspektasi tidak realistis tentang CGI, terutama dalam memperlakukan VFX artist. Mereka dipercaya memberi tenggat waktu begitu ketat dan tidak masuk akal. Alhasil, ini berdampak pada kualitas CGI dalam proyek MCU Phase 4.

CGI bukan satu-satunya keluhan terbesar, tetapi juga adegan pertarungannya. Padahal hampir setiap adegan pertarungan di MCU menjadi ikonik dan dinilai mendebarkan penonton. Namun, Phase 4 memiliki adegan pertarungan yang tidak begitu menantang dan juga membosankan.

Baca juga

Tidak Lagi Ramah bagi Penggemar Baru

Marvel Cinematic Universe Ant-Man and the Wasp Quantumania
Ant-Man and the Wasp: Quantumania menjadi film pembuka MCU Phase 5

Seperti yang disebutkan sebelumnya, terdapat banyak film dan serial televisi Marvel Cinematic Universe dimulai dari Iron Man pada 2008. Sebelum Phase 4, banyak penggemar yang rela menonton semua filmnya sebelum sebuah film terbaru rilis. Namun, karena begitu banyak konten berupa film dan serial televisi, hal ini justru dapat menjenuhkan.

Saat ini, penggemar film biasa sangat sulit untuk catch up dengan film terbaru MCU. Mereka menilai sangat sulit untuk binge-watch semua film dan serial televisi Marvel Cinematic Universe. Untuk menonton serial televisinya, mereka wajib berlangganan Disney+. Belum lagi terdapat detail penting di setiap proyeknya yang mungkin akan membingungkan penggemar saat menonton film terbaru MCU.

Marvel Cinematic Universe kini memasuki Phase 5 dengan Ant-Man and the Wasp: Quantumaania. Sayangnya, film terbaru Ant-Man itu justru mendapat komentar tidak memuaskan oleh kritikus yang mengkritik ceritanya. Alhasil, Ant-Man and the Wasp: Quantumania mendapat skor 47 persen di Rotten Tomatoes. Ini menjadi awal yang tidak sesuai harapan bagi Marvel dan juga penggemarnya.

Marvel sendiri sudah memastikan mereka akan mengurangi proyek serial televisi untuk Phase 5. Secret Invasion menjadi serial televisi terbaru bagi MCU yang akan rilis 21 Juni 2023 dan akan menghadirkan kembali Nick Fury. Guardians of the Galaxy Vol. 3 menjadi film selanjutnya yang akan rilis 5 Mei 2023. Penggemar tentu berharap Marvel Cinematic Universe dapat kembali seperti saat masa kejayaannya saat Phase 3.

Blackpink Luncurkan Game Mobile Sendiri, Rilis Tahun Ini

GAMEFINITY.ID, Bandung – YG Entertainment mengumumkan mereka akan meluncurkan Blackpink The Game sebagai game mobile pada paruh kedua tahun ini. Mereka telah merilis preview pertama dari game mobile tersebut baru-baru ini.

Blackpink The Game Akan Rilis Tahun Ini

Kabar itu diumumkan pada 4 April 2023. Mereka akan merilis mobile game berdasarkan IP Blackpink pada paruh kedua tahun ini. Game tersebut dibuat sebagai bentuk kerjasama dengan pengembang game TakeOne Company.

“Melalui format baru ini, penggemar akan bisa melihat aspek beragam dari Blackpink yang belum pernah dilihat sebelumnya. Kami harap penggemar di seluruh dunia dapat menikmati dan mendapat pengalaman istimewa di dunia Blackpink the Game.”

Dilansir dari Soompi, Blackpink The Game menjadikan pemain sebagai produser Blackpink di sebuah dunia multiverse. Pemain akan membantu setiap anggotanya berkembang melalui simulasi latihan dan manajemen. Terdapat pula fitur Blackpink World di mana pemain dapat memasang avatarnya sendiri dan berkomunikasi dengan pengguna lain di seluruh dunia.

Selain itu, terdapat lagu baru yang akan dijadikan soundtrack dari game ini. Soundtrack tersebut beserta MV-nya akan rilis pada kemudian hari.

Baca juga: 

TakeOne Company Juga Mengembangkan Game BTS, BTS World

Ini bukan kali pertama grup K-pop mendapat game-nya sendiri. Sebelumnya, BTS telah meluncurkan mobile game-nya sendiri pada 2019 yang berjudul BTS World. Menariknya,  TakeOne Company juga ikut berperan dalam pengembangan BTS World. Ini menjadi kali kedua bagi TakeOne Company untuk mengembangkan game berdasarkan grup K-pop.

“Kami bangga mengungkap game resmi pertama Blackpink, girl group terbaik sedunia. Berkat kolaborasi dari pengetahuan dari konten gameperusahaan kami dan partisipasi aktif anggota Blackpink, kami akan tunjukkan game unik dari sebelumnya,” ungkap perwakilan TakeOne Company.

Tentu ini satu lagi ketertarikan pengembang game untuk memanfaatkan budaya K-pop. Dalcomsoft sendiri sudah terkenal dengan seri rhythm game Superstar dimulai dari Superstar SMTown pada 2014. Sejak saat itu, Dalcomsoft merilis seri game Superstar lain setelah mencapai kesepakatan dengan agensi lain seperti Superstar JYP dan Superstar YG.

Blackpink The Game akan rilis paruh kedua tahun ini. Sementara itu, lagu terbaru Jisoo, Flower, sudah rilis dan sudah menjadi video paling banyak ditonton dalam 24 jam tahun ini di YouTube.

Utamakan Kreator, Konami Buka Studio Baru di Osaka

GAMEFINITY.ID, Bandung – Masih merayakan hari jadinya yang ke-50 sejak 19 Maret 2023, Konami mengumumkan mereka telah membuka studio baru di Osaka. Hal ini dilakukan karena perusahaan berambisi untuk mencapai peluang pertumbuhan jangka panjang dalam 50 tahun ke depan.

Cabang baru yang dinamakan Konami Osaka Studio itu akan memiliki peralatan teknologi mutakhir yang diperlukan untuk membuat game, di antaranya peralatan motion capture. Studio itu disebut akan mengutamakan kreator dalam pengembangan game.

Konami Buka Studio Baru di Osaka demi Mengutamakan Kreator

Konami Osaka Studio
Studio baru Konami di Osaka

“Konami Osaka Studio menjadi relokasi dari studio yang sudah ada dan muncul dari konsep ‘Creators First’. Studio itu memiliki ciri khas lingkungan yang dikembangkan dengan baik di mana kreator dapat mempraktikkan potensi penuhnya, dan terletak di sebuah lokasi dengan akses transportasi praktis. Sebagai pusat produksi besar di Jepang Barat, fasilitas ini sudah penuh dengan peralatan motion capture dan studio suara yang diperlukan untuk pengembangan produk,” tulis Konami dalam laman persnya.

Konami Osaka Studio map
Peta lokasi Konami Osaka Studio

Studio baru itu terletak di Osaka Umeda Twin Towers South lantai 23. Konami menjelaskan Studio Osaka-nya dapat membantu melanjutkan pertumbuhan jangka panjang bagi perusahaan selama 50 tahun ke depan.

Sementara itu, pengembang Silent Hill dan Castlevania itu berencana untuk membuat pusat R&D (research and development) generasi selanjutnya di Tokyo. Kantor itu akan bernama Konami Creative Front Tokyo Bay. Fasilitas itu direncanakan akan selesai 2025.

Selain itu, perusahaan bertutur bahwa pihaknya akan menaikkan gaji pokok karyawannya mulai Maret 2023. Hal ini dilakukan demi mengembangkan managemen berbasis human capital, menambah keterlibatan karyawan, dan membuat perusahaan semakin kompetitif.

Sebagai Bagian dari Ambisi untuk Kembali ke Industri Game AAA?

Konami sudah memaparkan mereka akan kembali ke industri game AAA selama dua tahun terakhir. Mereka telah vakum dari produksi game AAA pada pertengahan 2010-an. Game AAA terakhir yang paling dikenal adalah Metal Gear Survive yang rilis 2018 dan mendapat kritikan dari penggemar.

Perusahaan sudah mengumumkan Silent Hill 2 Remake yang akan dikembangkan bersama Bloober Team. Tidak hanya itu, Silent Hill f juga tengah dikembangkan. Keduanya menjadi proyek Silent Hill baru setelah 10 tahun.

Baca juga:

Sementara itu, terdapat rumor bahwa Konami akan mengumumkan remake dari Metal Gear Solid 3: Snake Eater dan game Castlevania baru dalam waktu dekat. Namun, belum diketahui lebih banyak lagi selain itu. Bahkan, game Dead Cells menghadirkan DLC kolaborasi dengan Castlevania bertajuk Return to Castlevania pada 6 Maret lalu.

Konami tentu berharap agar studio baru di Osaka itu dapat membantu mengembalikan kejayaannya sebagai pengembang game besar seperti dulu.

Disney Dreamlight Valley, Life Sim Bersama Karakter Disney

GAMEFINITY.ID, Bandung Disney Dreamlight Valley merupakan game life simulation yang dikembangkan oleh Disney dan Gameloft. Dalam game ini, karakter pemain diceritakan berada di lembah magis yang penuh dengan karakter Disney dan Pixar. Valley tersebut mendapat kutukan yang memicu setiap karakternya kehilangan ingatan.

Game ini pertama kali rilis sebagai early access pada 6 September 2023 di PC, Nintendo Switch, PlayStation 4, PlayStation 5, Xbox One, dan Xbox Series X|S. Saat early access, pemain wajib membayar Founder’s Pack atau berlangganan Game Pass untuk menikmati game ini. Gameloft akan merilis game ini sebagai free-to-play paling cepat tahun ini.

Baca juga: 

Sinopsis Disney Dreamlight Valley

Karakter pemain diceritakan meninggalkan kehidupan kota untuk tinggal kembali di pedesaan. Saat ke dunia mimpi setelah tertidur, mereka tiba di Dreamlight Valley, sebuah lembah magis yang penuh dengan karakter Disney dan Pixar. Namun, lembah itu sudah terkutuk.

Disney Dreamlight Valley peace
Dreamlight Valley sebelumnya merupakan desa yang damai di mana semua penghuninya hidup harmonis

Dreamlight Valley dulunya menjadi desa penuh harmoni di kalangan karakternya, tetapi semuanya berubah saat sang ruler (penguasa) tiba-tiba meninggalkannya. Saat itu, Night Thorn bertumbuh di sekitar desa, memicu kutukan The Forgetting yang menghilangkan ingatan setiap penghuninya.  Banyak karakter yang mengungsi ke alam asalnya masing-masing demi berlindung dari Night Thorn. Karakter pemain diceritakan memutuskan untuk mengembalikan lembah seperti sediakala dan menyingkirkan semua Night Thorn.

Pemain dapat menggunakan sihirnya sendiri bernama Dreamlight untuk menyingkirkan Night Thorn. Mereka juga dapat berkenalan dengan karakter Disney seperti Mickey Mouse, Goofy, dan Donald Duck sambil membantu mengembalikan ingatan mereka. Selain itu, pemain juga dapat berkunjung ke alam asal karakter lain di Dream Castle demi mengajak mereka untuk kembali tinggal di Dreamlight Valley.

Baca juga:

Gameplay Disney Dreamlight Valley (9/10)

Disney Dreamlight Valley gameplay 2
Disney Dreamlight Valley mungkin mengingatkan pada Animal Crossing secara gameplay, namun tetap menyenangkan

Secara gameplay, mungkin Disney Dreamlight Valley paling mengingatkan pada Animal Crossing, di mana pemain mengontrol karakternya yang tinggal di sebuah lembah. Ada juga sistem progression RPG di mana pemain dapat level up untuk meningkatkan energi sihir dan mendapat reward tertentu.

Terdapat pula berbagai aktivitas yang dapat dilakukan seperti berkebun, memancing, menggali, menambang, dan berfoto. Keempat hal pertama itu penting untuk dilakukan saat menjalankan main quest dan side quest. Pasalnya, terdapat kewajiban untuk mengumpulkan barang dan juga memasak makanan serta membuat sebuah barang baru.

Disney Dreamlight Valley wardrobe customization
Contoh tampilan kustomisasi penampilan karakter pemain

Baca juga:

Slot inventory memang terbatas. Bedanya dengan Animal Crossing, peralatan, furnitur dan pakaian tidak memenuhi inventory tersebut. Khusus untuk pakaian, pemain dapat mengustomisasinya. Pakaian juga mendapat kustomisasi penampilan pemain di dalam game.

Pemain dapat berinteraksi dengan berbagai karakter Disney, termasuk villain seperti Ursula dan Mother Gothel. Di sini, mereka dapat membangun friendship level yang menjadi kewajiban untuk mulai menjalankan side quest. Pemain dapat mengajak mereka hang out sambil melakukan aktivitas demi mendapat tambahan friendship level.

Terdapat mata uang Star Coin yang dapat diperoleh dengan menjual isi inventory pemain di stall milik Goofy. Star Coin itu dapat dipergunakan dengan membeli pangan dan biji untuk berkebun di stall Goofy, material tertentu di stall milik Kristoff, beberapa bahan makanan di restoran Remy, dan juga pakaian serta furnitur di toko milik Scrooge McDuck. Pemain juga dapat membayar Scrooge McDuck untuk membangun bangunan dan meng-upgrade toko serta rumah pemain.

Terdapat pula microtransaction yang dapat mempercepat progress pemain dan juga berbagai item berupa furnitur dan pakaian. Sejauh ini, microtransaction tidak terlalu berdampak pada progress.

Baca juga:

Control (8/10)

Kontrol di Disney Dreamlight Valley relatif simpel. Begitu pula dengan UI-nya yang mudah dimengerti. Menu-nya menyediakan informasi tentang daftar resep makanan, map, dan lainnya. Terdapat pula tombol shortcut untuk membuat section di menu yang terkadang tidak mudah untuk diingat.

Graphics (9/10)

Disney Dreamlight Valley world
Grafik yang ditampilkan seakan menjadikan game ini sudah menjadi full release

Melihat dari grafiknya, dapat dikatakan setiap gambar dan animasi dalam game ini memiliki kualitas tinggi. Dunia di dalam game ini terlihat menakjubkan meski masih tergolong early access. Hampir semua grafik di dalam game ini terlihat alami dan mengalir walau ada beberapa yang tergolong tidak konsisten saat menggerakkan kamera.

Baca juga:

Music (9/10)

BGM di Disney Dreamlight Valley kebanyakan terinspirasi dari musik Disney, contohnya sebut saja When You Wish Upon a Star yang menjadi lagu khas untuk Disney. Terdapat pula lagu yang terinspirasi dari film Disney lain. Kebanyakan deretan lagu ini membuat rileks sekaligus menjadi menyenangkan.

Addictive (8/10)

Disney Dreamlight Valley menawarkan pengalaman bermain life simulation yang menyenangkan berkat ceritanya yang semakin membuat penasaran. Game ini menjadi menyenangkan bagi semua kalangan usia, bahkan jika mereka bukan penggemar berat Disney sekalipun.

Game ini memiliki satu kekurangan yaitu soal grinding. Sering sekali, pemain harus mendapatkan barang dengan melakukan aktivitas seperti menambang, memancing, dan menggali demi menyelesaikan quest. Mendapat barang yang sesuai kebutuhan mungkin membutuhkan keberuntungan. Jika energi sihirnya sampai habis, pemain sering sekali harus mengonsumsi makanan atau kembali ke rumah untuk recover. Grinding seperti ini terasa merepotkan.

Baca juga:

Verdict untuk Disney Dreamlight Valley

Secara keseluruhan, Disney Dreamlight Valley terasa seperti game yang sudah jadi meski masih tergolong early access. Walau begitu, belum banyak karakter Disney dan Pixar yang hadir melalui realm yang akan menjadi bagian dari update mendatang. Ceritanya yang simpel dan mudah diikuti serta beberapa elemen game-nya sudah menyenangkan. Meski begitu, grinding dapat jadi merepotkan saat mengumpulkan bahan demi menyelesaikan berbagai quest.

Untuk Disney Dreamlight Valley, penulis dapat memberi total score sebesar 8,6.

Disney Dreamlight Valley tersedia sebagai early access berbayar di PC, Mac, PlayStation 4, PlayStation 5, Xbox One, Xbox Series X|S, dan Nintendo Switch. Game ini akan menjadi free to play paling cepat tahun ini.

WWE Sepakat Merger dengan UFC Jadi Satu Perusahaan

GAMEFINITY.ID, Bandung – Endeavor Group Holdings, pemilik Ultimate Fighting Championship (UFC), mengumumkan mereka akan mengakusisi World Wrestling Entertainment (WWE). Tidak hanya itu, kedua brand sports entertainment itu akan merger sebagai satu perusahaan.

WWE Merger dengan UFC Karena Endeavor Group

WWE
WWE telah terkenal sebagai brand wrestling (gulat) terbesar di dunia

Akuisisi WWE oleh Endeavor Group resmi diumumkan pada 3 April 2023. Bersamaan dengan itu, Endeavor akan membentuk sebuah perusahaan baru berisi dua brand sports entertainment global ikonik UFC dan WWE. Pihak Endeavor akan memiliki 51 persen saham perusahaan itu, sementara 49 persennya dimiliki para pemegang saham WWE.

Baca juga:

Dilansir dari The Hollywood Reporter, perusahaan baru itu akan dipimpin oleh CEO Endeavor Ari Emanuel. Emanuel akan tetap menjadi di CEO untuk semua bisnis Endeavor, termasuk di antaranya agensi WME dan IMG. Vince McMahon selaku kepala eksekutif dan pemegang saham mayoritas WWE, akan jadi kepala eksekutif perusahaan baru itu. Mark Shapiro akan menjadi presiden dan COO dari Endeavor dan perusahaan baru itu.

UFC with WWE
UFC sendiri telah menjadi brand MMA terbesar di dunia sejak 2011

Sementara itu, Dana White akan tetap menjadi presiden UFC. Nick Khan juga akan menjadi presiden WWE.

Baca juga:

“Bersama, UFC dan WWE akan memiliki pencapaian global, skala yang impresif, dan distribusi omnichannel. Pada tahun fiskal akhir 2022, UFC dan WWE mencapai pendapatan US$2,4 miliar dan 10 persen pertumbuhan penghasilan tahunan semenjak 2019,” ungkap kedua perusahaan itu.

“Selama beberapa dekade, Vince dan timnya sudah mencontohkan jejak rekam luar biasa dalam inovasi dan pembuatan nilai pemilik saham, dan kami percaya diri bahwa Endeavor dapat membawa nilai tambahan secara signifikan bagi pemilik saham dengan membawa UFC dan WWE bersama,” ungkap Ari Emanuel.

Baca juga:

“Bersama, kami akan menjadi perusahaan live sports dan entertainment besar dengan basis penggemar kolektif lebih dari miliaran orang dan kesempatan pertunbuhan yang menyenangkan. Perusahaan baru ini akan memaksimalkan nilai keseluruhan dari hak media, monetisasi sponsor, pengembangan konten baru, dan melakukan merger serta akuisisi lainnya demi memperkuat brand yang kuat dan stabil,” ungka Vince McMahon.

Transaksi ini sudah sepakati oleh semua dewan direksi dari kedua perusahaan. Kesepakatan ini masih harus disetujui oleh regulator dan diharapkan menjadi sah pada paruh kedua tahun ini.