All posts by Dimas Galih Putrawan

A writer, gamer, content creator. My Gaming Account: Steam: dimaspettigrew Epic Games Store: PTGRW Xbox: PTGRW

Konyol! The Day Before Alami Penundaan Lagi!

GAMEFINITY.ID, Bandung – Mulai dari mendadak menjadi game paling banyak di-wishlist hingga sederetan kontroversi, The Day Before sudah memicu kekhawatiran dan kritikan. Fntastic selaku pengembangnya sempat berjanji akan menampilkan cuplikan gameplay lebih lanjut. Nyatanya, mereka kembali menunda dari tanggal rilis 1 Maret 2023 karena sebuah alasan konyol!

Alami Penundaan Pertama Kali Hingga Picu Kontroversi

Sebelumnya, The Day Before benar-benar mencuri perhatian semenjak pengumuman perdananya. Alhasil, pemain yang ingin memainkannya berbondong-bondong memasukkan game tersebut di-wishlist di Steam. Game survival MMO itu mendadak menjadi game yang paling banyak di-wishlist.

The Day Before delayed again trademark
The Game Before sudah picu kontroversi bahkan sebelum rilis

Awalnya, game besutan Fntastic itu akan rilis 21 Juni 2022. Namun, Fntastic memutuskan untuk menundanya hingga 1 Maret 2023 dengan alasan ingin menggunakan engine Unreal Engine 5.

Lebih buruk lagi, Fntastic picu kontroversi karena mengandalkan relawan untuk membuat game tersebut. Banyak di antara mereka tidak dibayar sama sekali. Terlebih, track record Fntastic juga memicu netizen skeptis.

Baca juga: Alasan The Day Before Berpotensi Jadi Game Terburuk 2023

Alasan Penundaan The Day Before Ternyata…

Pada 25 Januari 2023, laman The Day Before di Steam tiba-tiba menghilang. Ini memicu tanda tanya bagi netizen, terutama pemain yang sudah penasaran dengan game-nya. Padahal sebelumnya Fntastic sudah berjanji akan menunjukkan cuplikan gameplay yang sesungguhnya setelah banyak dikritik.

Fntastic akhirnya buka suara begitu kabar ini beredar di dunia maya. Mereka mengungkap sebuah alasan konyol di balik hilangnya laman The Day Before di Steam. Masalah trademark diklaim sebagai pemicu utamanya.

“Sebelum perilisannya, Steam memblokir game kami karena permintaan seorang individu, karena nama The Day Before. Seperti yang diketahui, game kami pertama kali diumumkan pada tahun 2021. Saat pengumuman tersebut, trademark tersebut masih tersedia. Setelah pengumuman tersebut, seorang individu ternyata mengajukan permohonan judul The Day Before di Amerika Serikat sebelum kami,” tulis Fntastic melalui akun Twitter-nya.

Fntastic kemudian membagikan link yang dimaksud. Berdasarkan link tersebut, nama The Day Before sudah diklaim oleh Sun Jae Lee. Lee telah mengajukan nama tersebut pada Mei 2021 sebelum akhirnya terdaftar pada 1 November 2022.

Karena alasan ini, Fntastic tidak memiliki pilihan lain selain menunda The Day Before hingga 1 November 2023. Mereka berharap dapat menyelesaikan masalah trademark tersebut dengan meminta untuk menghubungi Sun Jae Lee. Alhasil, video gameplay yang sudah dijanjikan terpaksa mengalami penundaan.

Masalah trademark yang memicu laman Steam-nya dihapus dapat dikatakan sangat konyol. Fntastic sudah berjanji pada penggemar bahwa mereka akan menampilkan video gameplay. Tentu saja penggemar semakin curiga bahwa game ini berpotensi menjadi scam. Bukan tidak mungkin lagi The Day Before akan berakhir menjadi vaporware atau game yang tidak pernah rilis.

Spotify PHK 6 Persen Tenaga Kerjanya Demi Efisiensi

GAMEFINITY.ID, Bandung Platform streaming musik raksasa Spotify melakukan PHK pada enam persen tenaga kerjanya. Kabar ini turut menguatkan musim PHK massal di kalangan perusahaan teknologi raksasa seperti Google, Amazon, dan Microsoft. Tidak jauh berbeda, alasan di balik keputusan layanan streaming musik itu demi mengurangi anggaran sebagai dampak dari pandemic.

Sebanyak 6 Persen Karyawan Spotify Kehilangan Pekerjaan

Spotify Daniel Ek
Daniel Ek, CEO Spotify

CEO Spotify, Daniel Ek, menulis memo pada karyawan mengenai kabar pemutusan hubungan kerja tersebut. Memo tersebut kemudian menjadi publik di blog resmi layanan streaming musik raksasa itu pada 23 Januari 2023. Ia mengumumkan perusahaan yang dipimpinnya akan mem-PHK sebanyak 6 persen dari tenaga kerja, atau kurang lebih 600 karyawan.

“Seperti yang telah diketahui, selama beberapa bulan terakhir kita telah berusaha keras untuk mengendalikan anggaran, namun itu belum cukup,” tulis Ek.

Daniel Ek mengaku keputusan tersebut sangat sulit namun menjadi jalan terbaik bagi perusahaan. Ia juga memikirkan kontribusi setiap karyawannya.

“Seperti pemimpin lainnya, saya berharap untuk mempertahankan kekuatan semenjak pandemi dan percaya bahwa bisnis global kami yang luas dan berisiko rendah terhadap dampak pelambatan iklan akan melindungi kami. Jika dipikir lagi, saya terlalu ambisius dalam berinvestasi sebelum pertumbuhan pendapatan,” ungkapnya.

Dampak terbesar dari pengumuman ini adalah hengkangnya Dawn Ostroff, kepala konten Spotify. Ostroff bergabung dengan perusahaan pada 2018 untuk membantu pengembangan bisnis iklan dan podcast.

Baca juga: PHK Massal Tidak Berimbas Pada Apple, Apa Rahasianya?

Bagaimana dengan Bisnis Podcast?

Spotify The Joe Rogan Experience
The Joe Rogan Experience, podcast eksklusif terpopuler di Spotify

Hengkangnya Dawn Ostroff memicu pertanyaan terhadap masa depan bisnis podcast bagi Spotify. Padahal, perusahaan streaming musik raksasa itu sudah semakin serius merambah dengan mengakuisisi beberapa podcast yang menjadi eksklusif. Contohnya mulai dari The Joe Rogan Experience yang menjadi salah satu podcast terpopuler dan terkontroversial, hingga serial audio Batman Unburied.

Spotify sendiri telah mengakuisisi berbagai studio dan bisnis podcast seperti Gimlet, Parcast, Anchor, Megaphone, dan Chartable. The Verge berpendapat Spotify masih harus mencari cara agar anak perusahaan podcast-nya dapat berkerja secara harmonis. Namun, Spotify masih akan terus menganggap bisnis podcast sebagai kesempatan terbesarnya untuk pertumbuhan.

Bukan lagi rahasia bahwa Spotify sangat merugi karena harus membayar lisensi musik pada label rekaman sebagai jualan utama. Setidaknya, bisnis podcast dan audiobook dapat menguntungkan.

Fortnite Hadirkan Kolaborasi dengan Dead Space

GAMEFINITY.ID, Bandung – EA sebentar lagi akan merilis Dead Space versi remake, salah satu game sci-fi horor yang paling dinanti tahun ini. Kabar gembiranya lagi, Fortnite mengumumkan mereka telah berkolaborasi dengan Dead Space. Ternyata event kolaborasi ini sudah dimulai!

Sempat Bocor oleh Leaker

Sebelum kabar ini resmi diumumkan Epic Games, para leaker Fortnite mendapati informasi tentang kolaborasi Dead Space pada Desember lalu. Mereka memperkirakan kolaborasi kedua belah pihak itu akan dimulai 23 Januari 2023. Namun, belum ada informasi lebih lanjut saat itu.

Skin Isaac Clarke dari Dead Space Tersedia di Fortnite, Wajib Pakai Mata Uang Dunia Nyata

Fortnite x Dead Space items
Item dari kolaborasi Fortnite x Dead Space

Bentuk kolaborasi Fortnite dengan Dead Space berbentuk skin karakter Isaac Clarke. Isaac Clarke sendiri merupakan tokoh utama dari seri game sci-fi horor besutan EA itu. Pemain dapat membeli skin tersebut di Item Shop seperti biasa selama waktu terbatas.

Namun, laman resminya menyebut pemain hanya dapat memperoleh skin tersebut menggunakan uang di dunia nyata alih-alih V-Bucks. Skin Isaac Clarke tersedia sebagai bagian dari Strange Transmission Quest Pack yang dibanderol seharga US$11,99. Bundle tersebut sudah termasuk RIG Back Bling, USG Ishimura Back Bling, dan Plasma Cutter Pickaxe.

Jika membeli bundle tersebut, pemain juga akan memperoleh 1.500 V-Bucks. Maka secara teknis pemain sudah membeli 1.500 V-Bucks yang setara dengan US$11,99. Pada dasarnya, pemain seperti mendapat bonus setelah membeli V-Bucks dari bundle kolaborasi Dead Space. Namun, Gamespot memaparkan terdapat syarat yang harus dilakukan untuk mendapatkan V-Bucks tersebut.

Syarat untuk mendapat V-Bucks tersebut adalah menjalankan berbagai quest Strange Transmissions. Pemain hanya harus menyelesaikan berbagai quest yang disediakan sebelum mendapat total 1.500 V-Bucks.

Baca juga: Fortnite Chapter 4 Resmi Diluncurkan, Ini Detailnya!

Sementara itu, Fortnite juga berkolaborasi dengan The Kid Laroi. Kolaborasi tersebut menghadirkan berbagai item seperti skin dan emote yang terinspirasi dari The Kid Laroi. Ditambah lagi, penyanyi asal Australia itu akan menggelar konser virtual bertajuk Wild Dreams mulai 27 Januari 2023 pukul 18:00 waktu New York.

Dead Space remake akan rilis di PC, PlayStation 5, dan Xbox Series X|S pada 27 Januari 2023. Untuk menyambutnya, item Isaac Clarke sudah tersedia di Fortnite mulai sekarang!

5 Rekomendasi Anime Healing yang Cocok Saat Bersantai

GAMEFINITY.ID, Bandung – Anime healing atau iyashikei merupakan subgenre dari genre slice of life. Umumnya, serial anime bergenre seperti ini menampilkan suasana yang santai. Dipercaya juga bahwa iyashikei memiliki efek healing bagi penontonnya, sehingga cocok untuk ditonton saat merasakan penat dari kehidupan nyata.

Alhasil, anime healing dapat menjadi bentuk eskapisme menyenangkan yang menenteramkan jiwa bagi penontonnya. Jadi, genre inilah sangat cocok untuk ditonton saat santai. Berikut adalah lima rekomendasi anime healing yang cocok saat santai.

Aria, Anime Healing Kaya Pesan Moral

Anime healing Aria
Aria

Mungkin judul ini merupakan serial lawas, tetapi Aria menjadi salah satu anime healing terpenting yang wajib direkomendasikan. Diadaptasi dari serial manga berjudul sama oleh Kozue Amano oleh Hal Film Maker, Aria telah tayang selama tiga season dan telah mendapat OVA serta dua film di bioskop.

Aria berfokus pada Akari Mizunashi, seorang undine atau gondolier (pendayung gondola) dari Aria Company yang bertugas memandu turis di Neo Venezia. Neo Venezia sendiri merupakan sebuah kota di planet Aqua (Mars yang telah ber-terraform) yang terinspirasi dari kota Venice di Italia.

Setiap episodenya memiliki pesan moral yang dapat diambil selama perjalanan kehidupan Akari. Visual dari anime-nya juga sangat indah dan tidak kalah dengan anime modern lainnya, terutama dalam penggambaran Neo Venezia. Musik beralunan lambat turut membantu anime ini mengalir dalam penceritaannya, melengkapi visual dan mood riang-nya.

My Roommate is a Cat

Anime healing My Roommate is a Cat
My Roommate is a Cat

Dianimasikan oleh Zero-G, My Roommate is a Cat merupakan serial anime yang diadaptasi dari serial manga karya Minatsuki. Anime ini menjadi serial bergenre healing yang wajib ditonton.

My Roommate is a Cat berfokus pada hubungan Subaru Mikazuki, seorang novelis misteri, dan kucing peliharaannya, Haru. Uniknya, ceritanya terbagi menjadi dua perspektif, yaitu dari Subaru dan Haru. Keduanya

Mungkin beberapa episode pertama akan memiliki elemen mood sedih, tetapi di balik itu, setidaknya interaksi Subaru dan Haru tetap menghibur. Apalagi interaksi dengan tokoh lainnya masih mengundang gelak tawa.

Non Non Biyori, Anime Healing Gambaran Desa di Jepang

Anime healing Non Non Biyori
Non Non Biyori

Jika berbicara tentang anime healing, Non Non Biyori menjadi salah satu rekomendasi wajib yang sering menjadi perbincangan. Serial anime yang menceritakan kehidupan empat orang gadis, yaitu Renge, Hotaru, Natsumi, dan Komari dapat mengundang humor dan tetap santai.

Berlatar di sebuah desa, keempat gadis berusia yang berbeda-beda diceritakan menikmati kehidupan dengan cara tersendiri. Pada dasarnya, konflik yang disajikan antara keempat gadis dan karakter lain tidak menjenuhkan, justru tetap membuat santai.

Serial anime yang diadaptasi dari manga karya Atto ini berhasil menggambarkan desa Jepang yang asri dan damai. Ditambah, serial anime oleh Silver Link ini juga menggambarkan sebuah perjalanan demi mengenang masa kecil yang lugu.

Baca juga:

Girls’ Last Tour

Anime healing Girls' Last Tour
Girls’ Last Tour

Genre Iyashikei dan post apocalyptic mungkin terdengar tidak masuk akal karena keduanya memiliki mood berlawanan. Namun, Girls’ Last Tour berhasil menggabungkan kedua genre ini tanpa membuat penontonnya sedih dan frustrasi. Serial anime ini merupakan adaptasi dari manga karya Tsukumizu.

Girls’ Last Tour berfokus pada Chito dan Yuuri, dua gadis yang bertahan dari sebuah bencana di sebuah kota. Mereka berdua berkelana untuk mencari makanan dan peralatan demi bertahan hidup.

Meski anime ini berlatar waktu setelah sebuah bencana dahsyat, bukan lagi alasan bagi anime buatan studio White Fox ini perlu elemen yang menyedihkan. Girls’ Last Tour setidaknya menawarkan momen harapan dan semangat di balik kesuraman bagi penontonnya.

Laid-Back Camp

Anime healing Laid Back Camp
Laid-Back Camp

Laid-Back Camp atau dikenal sebagai Yuru Camp sudah dipastikan wajib menjadi rekomendasi jika mencari anime bergenre iyashikei. Seakan-akan, anime healing ini menawarkan panorama pegunungan di Jepang, membuat penontonnya seakan ingin berkemah di sana. Bahkan, Crunchyroll mencatat pariwisata kemah musim dingin di Jepang meningkat pesat berkat penayangan anime-nya.

Diadaptasi dari manga karya Afro, Laid-Back Camp berfokus pada para gadis yang hobi berkemah, terutama Rin dan Nadeshiko. Rin awalnya terbiasa berkemah sendiri. Semenjak kedatangan Nadeshiko, hidupnya berubah dan ia mulai berkemah bersama dirinya dan juga teman-temannya, terutama di prefektur Yamanashi.

C-Station selaku studio di balik serial anime ini berhasil menggambarkan pemandangan prefektur Yamanashi dengan visual yang mengagumkan. Tempat ikonik seperti Asagiri Plateau, Danau Shibire, dan Kuil Yanahime tergambar mendekati seperti aslinya. Anime ini menawarkan atmosfer seakan penontonnya sedang berkemah sambil menikmati interaksi santai setiap karakternya.

Itulah lima rekomendasi anime healing atau iyashikei yang cocok untuk ditonton saat santai. Serial anime manakah yang kamu mau tonton?

O2Jam Online Jadi Salah Satu Game Terburuk di Steam!

GAMEFINITY.ID, Bandung – O2Jam telah kembali di PC melalui Steam dengan nama O2Jam Online. Comeback-nya franchise rhythm game ini di PC tentu sudah sangat dinantikan oleh penggemar setianya. Sayangnya, O2Jam Online justru mengecewakan dan menjadi salah satu game terburuk sepanjang masa di Steam.

Mengenal O2Jam, Salah Satu Franchise Rhythm Game Legendaris Asal Korea

O2Jam sendiri merupakan franchise rhythm game asal Korea yang cukup melegenda. Tentunya, gamer era 2000-an, terutama yang sering nongkrong di warnet, sudah tidak asing dengan judul ini. Meski tidak begitu sepopuler game lainnya seperti Ragnarok Online dan Dota, rhythm game ini tetap dikenang oleh penggemar setianya.

O2Jam Online Classic Game
Gameplay O2Jam PC

O2Jam pertama kali rilis sebagai game PC online pada Juni 2003 oleh O2Media. Game tersebut disebut-sebut sebagai MMO rhythm game pertama di dunia. Uniknya, O2Jam menawarkan tantangan dengan tingkat kesulitan tinggi dan bahkan dapat menandingi Beatmania IIDX.

Sayangnya, server untuk game pertamanya resmi ditutup tahun 2012. Pada tahun yang sama, MoMo Corp mengambil alih brand rhythm game itu dan merilis sebuah game baru di mobile. Game tersebut bernama O2Jam U. Kemudian, MoMo Corp merilis O2Jam Music & Beat untuk mobile juga.

O2Jam juga pernah berkolaborasi dengan Pump It Up dan EZ2AC yang juga memberikan lagunya dapat dimainkan di O2Jam Music & Beat. EZ2ON Reboot: R juga telah menghadirkan DLC kolaborasi dengan O2Jam.

Sayang sekali, O2Jam U sudah tidak lagi tersedia di App Store dan Google Play. Sementara itu, O2Jam Music & Beat berubah menjadi game berbayar berjudul O2Jam Music & Game.

Baca juga: Ubisoft Buang Game Project Q, Ada Apa Sebenarnya?

O2Jam Online Rilis, Dikritik Habis-Habisan Hingga Jadi Salah Satu Game Terburuk di Steam

Begitu laman resminya mengumumkan bahwa O2Jam akan kembali ke PC dengan judul O2Jam Online, banyak penggemar setianya heboh. Mereka sudah lama ingin menyaksikan brand rhythm game yang mereka cintai itu kembali ke PC setelah berpindah haluan ke mobile.

Saat O2Jam Online rilis 17 Januari 2023, penggemar langsung kecewa begitu memainkannya. Mereka langsung mengutarakan opini negatif terhadap game ini. Saat artikel ini ditulis, game ini hanya mendapat rating 4 persen, dengan 45 dari 1.072 review berupa ulasan positif (saat artikel ini ditulis). Ini menjadikannya salah satu game terburuk di Steam.

O2Jam Online Gameplay
Gameplay O2Jam Online tidak jauh berbeda dari O2Jam Music & Game di Mobile

Pemain berpendapat O2Jam Online hanya sekadar port PC dari O2Jam Music & Game di mobile. Jika memperhatikan dari visualnya, mudah untuk menyatakan grafik dari kedua game tidak jauh berbeda.

PC Gamer mendapati resolusi game tersebut tidak dapat melebihi 1080p. Bahkan, game ini terlihat lebih buruk secara visual di monitor 2K dan 4K. Masalah teknis ikut menggerogoti game tersebut berupa desync audio dan lag yang memicu pemainnya melewatkan note saat bermain.

O2Jam Online Music Shop
Tidak ada pilihan pembelian lagu secara permanen di Music Shop

Lebih buruknya lagi adalah monetisasi yang diterapkan pada game ini. Meski O2Jam Online secara teknis merupakan free-to-play, pemain seakan dipaksa untuk membeli lagu yang hanya bisa dimainkan selama seminggu atau sebulan. Sama sekali tidak ada pilihan untuk membeli lagu secara permanen, bahkan juga note skin-nya yang juga harus dibeli untuk seminggu atau sebulan.

Ironisnya, meski menggunakan Online pada judulnya, sama sekali tidak ada mode multiplayer. Secara keseluruhan, game ini hanya menawarkan mode single player. Satu-satunya fitur online hanyalah Global Leaderboard.

Secara keseluruhan, penantian penggemar terhadap O2Jam Online akhirnya berujung kekecewaan. Game tersebut telah menjadi salah satu game terburuk sepanjang masa di Steam semenjak peluncurannya. Tampaknya sangat disayangkan jika reputasi O2Jam semakin memburuk karena hal ini.

Alba: A Wildlife Adventure, Game Adventure yang Edukatif

GAMEFINITY.ID, Bandung Alba: A Wildlife Adventure merupakan game open world adventure yang dapat mengedukasi sekaligus menjadi media healing pemainnya. Game ini dikembangkan oleh Ustwo Games dan pertama kali dirilis di PC dan Apple Arcade pada 11 Desember 2020. Alba: A Wildlife Adventure menjadi game yang cocok untuk dimainkan anak-anak.

Sinopsis Alba: A Wildlife Adventure, Game yang Mengedukasi Sekaligus Healing

Berlatar di Secarral, sebuah kota di pulau di Spanyol. Alba Singh, tokoh utamanya, mengunjungi kakek dan neneknya untuk berlibur selama satu minggu. Ia dan temannya, Ines, kemudian membentuk sebuah organisasi restorasi lingkungan setelah menyelamatkan lumba-luma yang terdampar.

Namun, sang walikota mengumumkan sebuah hotel mewah akan dibangun. Lokasi pembangunan tersebut berada di cagar alam lokal yang telah mengalami kebakaran. Ingin menghentikan pembangunan hotel itu, Alba dan Ines memutuskan untuk membuat petisi dan meminta tanda tangan warga lokal.

Sambil mengumpulkan tanda tangan untuk petisi itu, Alba juga harus membantu membersihkan pulau dari sampah dan menyelamatkan satwa. Tidak hanya itu, ia juga harus memotret setiap satwa sebagai tugasnya untuk meningkatkan kesadaran warga akan kelestarian hewan dan lingkungan.

Gameplay Alba: A Wildlife Adventure (9/10)

Alba: A Wildlife Adventure gameplay
Gameplay Alba: A Wildlife Adventure

Alba: A Wildlife Adventure memiliki gameplay yang sangat menyenangkan sekaligus ramah anak. Tujuan utama pemain adalah mengumpulkan tanda tangan warga lokal sambil menyelesaikan berbagai misi. Terdapat berbagai misi yang sebenarnya sederhana namun masih menantang.

Salah satu misi yang paling penting adalah saat Alba menggunakan ponselnya untuk memotret satwa lokal, mulai dari yang tergolong common hingga sangat rare. Beberapa binatang, bahkan yang common sekalipun, membutuhkan ketelitian saat mencarinya, apalagi ini membutuhkan pemain mengitari setiap tempat di kota.

Game ini dapat diselesaikan dengan waktu yang relatif singkat, kurang lebih 2-3 jam. Ini mungkin tidak akan memuaskan bagi beberapa pemain yang ingin bermain dengan waktu yang lama. Kabar baiknya, jika belum sempat menyelesaikan semua misi setelah ceritanya tamat, pemain dapat bermain kembali demi melakukannya.

Yang terpenting lagi, Alba: A Wildlife Adventure didesain sebagai media edukasi agar pemainnya dapat lebih aware terhadap lingkungan hidup. Tidak hanya mengetahui keberagaman satwa yang bisa ditemukan di dunia nyata, tetapi setiap tindakan yang dilakukan Alba juga dapat diterapkan.

Menjalankan setiap misi dalam game ini juga tidak ada batas waktu yang signifikan. Pemain dapat bersantai dalam memainkannya seleluasa mungkin. Sebagai game healing, Alba: A Wildlife Adventure relatif tidak menjenuhkan, justru membuat seakan sedang ikut berlibur.

Control (8/10)

Sebagai game open world adventure, kontrol Alba: A Wildlife Adventure terbilang standar. Pemain dapat mengendalikan Alba menggunakan keyboard dengan perpindahan kamera menggunakan mouse. Terdapat juga tombol angka 1-4 untuk membuka daftar misi, kamera ponsel, peta, dan jurnal satwa. Sayangnya, kontrolnya tidak dapat dikustomisasi, meski sensitivitas dapat diatur.

Graphics (9/10)

Berbicara tentang grafik, visual Alba: A Wildlife Adventure mengandalkan gaya kartun 3D. Mungkin grafiknya tidak akan begitu memukau pemainnya, tetapi Ustwo Games berhasil membuat visual dari game ini menjadi menarik.

Desain setiap karakter relatif sederhana tetapi memiliki daya tarik tersendiri. Animasi pergerakan karakternya pun terasa mengalir. Setiap detail pada tempat dan juga setiap satwa pun diperhatikan. Bahkan, Ustwo Games berhasil menggambarkan setiap satwa seperti yang terlihat di dunia nyata semaksimal mungkin.

Music (9/10)

Musik pada Alba: A Wildlife Adventure cenderung santai, sangat cocok untuk game adventure seperti ini. Mulai dari ambient seperti embusan angin dan kumpulan suara camar di pantai saja sudah cukup membuat game ini membuat pemainnya merasa sedang berada dalam posisi Alba.

Musik latar hanya digunakan saat momen-momen terpenting dalam cerita, itupun sudah menjadi poin plus untuk game ini. Secara keseluruhan, musik dalam game ini terasa seperti healing dari distraksi agar fokus dalam bermain.

Addictive (9/10)

Alba: A Wildlife Adventure animal
Alba: A Wildlife Adventure juga menjadi media edukasi dalam mengenalkan berbagai satwa

Berkat visualnya yang memiliki daya tarik dan juga elemen edukasi pada ceritanya, game ini dapat menjadi media healing yang sayang untuk dilewatkan. Setiap tantangan yang ditawarkan game ini terlihat sederhana, namun tetap menantang bagi anak-anak dan dewasa. Game ini membuat ketagihan saat pemainnya penasaran dengan ceritanya dan ingin berusaha menyelesaikan semua misi.

Baca juga: Review Melatonin: Game Ritme Dalam Mimpi

Verdict untuk Alba: A Wildlife Adventure

Alba: A Wildlife Adventure menjadi game yang dapat dijadikan media edukasi. Jadi, pesan moral dalam game ini tetap tersampaikan tanpa harus membuatnya membosankan. Game ini juga dapat dimainkan saat santai sekaligus menjadi media healing dari rasa penat. Namun, waktu penyelesaian yang cukup singkat mungkin menjadi sesuatu yang sangat disayangkan.

Untuk Alba: A Wildlife Adventure, penulis memberi total score 8.8.

Alba: A Wildlife Adventure tersedia di PC, Apple Arcade, Nintendo Switch, PlayStation 4, PlayStation 5, Xbox One, dan Xbox Series X|S.