All posts by Dimas Galih Putrawan

A writer, gamer, content creator. My Gaming Account: Steam: dimaspettigrew Epic Games Store: PTGRW Xbox: PTGRW

Apex Legends Mobile Tambah Solo Mode di Update Aftershow

GAMEFINITY.ID, Bandung Update Hyperbeat akhirnya telah berakhir. Apex Legends Mobile kini menghadirkan update baru bertajuk Aftershow. Uniknya, update ini masih menjadi bagian dari season 2. Sebelumnya, Respawn Entertainment menghadirkan dua battle pass pada season 1.

Dalam update yang telah hadir 4 Oktober 2022 itu, komunitas Apex Legends dikejutkan dengan hadirnya mode yang paling dinanti. Mode tersebut merupakan solo mode dan hadir terlebih dahulu di mobile.

Solo Mode Akhirnya Hadir di Apex Legends Mobile Sebagai Bagian dari Update Aftershow

Apex Legends Mobile Aftershow Logo
Logo Aftershow di Apex Legends Mobile

Apex Legends sebenarnya terkenal sebagai game battle royale berbasis squad. Pemain harus bekerja sama dengan dua rekan timnya (atau satu orang dalam duo) untuk mengombinasikan ability Legend-nya demi menang. Namun, tidak sedikit pula yang meminta adanya solo mode di game battle royale besutan Respawn Entertainment itu.

Sebagai bagian dari update Aftershow, Apex Legends Mobile akhirnya menghadirkan solo mode. Dalam mode ini, pemain tidak perlu mengkhawatirkan rekan timnya. Seperti kebanyakan game battle royale lain, pemain hanya perlu menjadi yang terakhir bertahan dengan menyerang setiap musuh. Dengan begitu, pemain akan menjadi Apex Champion.

Hadirnya Solo mode di Apex Legends Mobile sebenarnya sudah bocor pada Juni 2022. Dilansir dari Charlie Intel, bocoran tersebut ditemukan oleh ThatOneGamingBot. Dikabarkan pula mode ini kemungkinan besar menjadi permanen.

Solo Mode Pernah Hadir Sebagai Time-Limited Mode di Apex Legends

Munculnya solo mode di versi mobile bukan pertama kali bagi Apex Legends. Respawn Entertainment pernah menambah mode tersebut di versi PC dan konsol. Solo mode hadir dalam waktu terbatas sebagai bagian dari season 2, Battle Charge, pada 2019. Sejak saat itu, mereka lebih memilih tidak membuatnya permanen.

Respawn Entertainment pernah menyampaikan hal ini di laman blognya pada 2021. “Saat kami memperkenalkan Solos sebagai time-limited mode tahun ini, kami merasa ini berdampak negatif terhadap game, terutama dalam mempertahankan pemain baru. Kami juga telah mendesain semua Legend dengan setiap ability­-nya untuk melengkapi permainan tim dan komposisi squad, tapi saat bermain solo beberapa ability Legend menjadi tidak berguna.”

Pemain PC dan Konsol Geram Menganggapi Kabar Ini!

Mendapati kabar hadirnya solo mode hadir di mobile, apalagi berpotensi menjadi permanen, komunitas Apex Legends menyampaikan kekecewaannya. Banyak dari pemain PC dan konsol merasa geram di media sosial. Salah satunya mencuit bahwa Respawn dan EA menganakemaskan versi mobile dibandingkan Apex Legends sebagai game utama.

Beberapa pemain lain justru telah memuji tim pengembang Apex Legends Mobile. Bahkan, salah satu di antaranya berargumen mobile menjadi platform yang cocok untuk solo mode.

Baca juga: Leaker Apex Legends Ungkap Map Titanfall Segera Hadir

Detail Lain Update Aftershow di Apex Legends Mobile

Apex Legends Mobile Aftershow Battle Pass
Battle pass baru Apex Legends Mobile, Aftershow

Selain solo mode, Apex Legends Mobile juga menghadirkan battle pass baru. Uniknya, jangka waktu battle pass Aftershow lebih singkat daripada sebelumnya. Setidaknya, reward yang tidak kalah keren masih dapat didapat pemain. Masih merasa terlalu singkat? Misi tambahan untuk boost Battle Pass XP akan tersedia pada 8-10 dan 15-17 Oktober 2022.

Apex Legends Mobile juga menghadirkan event login selama tujuh hari berturut-turut untuk lebih banyak reward pada 14-21 Oktober 2022. Reward utama dalam event ini adalah skin Epic Loba. Skin tersebut dapat diambil setelah Aftershow usai.

Update Aftershow di Apex Legends Mobile menjadi angin segar bagi pemain yang sudah menantikan solo mode. Meski begitu, permintaan mode tersebut hadir di PC dan konsol masih belum padam. Mereka berharap Respawn Entertainment dapat juga menambah solo mode secara permanen di Apex Legends.

FIFA 23 Kena Review Bomb, Ini Pemicunya!

GAMEFINITY.ID, BandungFIFA 23 akhirnya telah rilis pada 30 September 2022 (Ultimate Edition-nya resmi bisa dimainkan tiga hari sebelumnya). Akan tetapi, pemain justru sudah melakukan review bomb terhadap seri terbaru FIFA itu. Padahal, FIFA 23 sudah menjadi salah satu game yang paling dinanti tahun ini.

FIFA 23 Kena Review Bomb!

Pemain berbondong-bondong menulis review buruk di Metacritic tepat setelah mereka pertama kali memainkan FIFA 23. Mereka membagikan berbagai keluhan yang telah mereka alami selama bermain. Berbagai keluhan tersebut sampai memicu rasa frustrasi terhadap game tersebut.

User rating di Metacritic untuk versi PC-nya mendapat angka 2,0, terendah jika dibandingkan versi PlayStation 5 dan Xbox Series X|S. FIFA 23 juga mendapat mayoritas ulasan negatif di Steam, hanya 34 persen di antaranya positif. Kebanyakan pemain menganggap FIFA 23 tidak berubah banyak dari FIFA 22. Tidak sedikit pula yang mengecapnya sebagai game terburuk sepanjang franchise.

Anti-Cheat Jadi Pemicu Review-Bomb

FIFA 23 review bomb
Gagalnya anti-cheat di versi PC jadi pemicu review-bomb FIFA 23

Salah satu pemicu review bomb FIFA 23 adalah sistem anti-cheat di versi PC-nya. Pemain versi PC-nya telah mengeluh sistem anti-cheat tersebut memicu crash pada game tepat setelah dibuka. Pemain hanya mendapat pesan agar me-restart game karena error di sistem anti-cheat. Meski begitu, game tetap tidak bisa diakses.

EA sudah mengumumkan mereka telah mengetahui masalah ini di laman resminya. Mereka mengungkap solusi sementara adalah me-restart aplikasi EA, Origin, atau Steam sebagai Administrator. Meski begitu, The Gamer melaporkan versi PC-nya terdapat berbagai bug, salah satunya lag di menu dan buruknya optimisasi.

Baca juga: Game FIFA Milik EA Resmi Mengubah Namanya Mulai 2023

Microtransaction di FIFA 23 Juga Dikritik Habis-Habisan

Satu lagi penyebab review bomb FIFA 23 adalah microtransaction. Keluhan tentang microtransaction bukan hal baru di franchise FIFA. Pasalnya, beberapa entri sebelumnya, termasuk FIFA 22, juga mendapat keluhan serupa.

Pemain merasa microtransaction di FIFA 23 masih menerapkan mekanik pay-to-win. Mereka merasa sistem itu terasa tidak adil, terutama bagi yang tidak ingin menghabiskan banyak uang. Apalagi microtransaction ini sangat diterapkan dalam mode Ultimate Team dalam bentuk loot box.

Komentar Positif Justru Datang Dari Kritikus

Meski pemain telah mengemukakan komentar negatif terhadap FIFA 23, pendapat kritikus justru berbanding terbalik. Skor di Metacritic untuk versi PC-nya mencapai angka 76. Mereka telah memuji teknologi Hypermotion 2 telah membantu grafis dalam game lebih realistis. Bahkan beberapa menobatkannya sebagai game simulasi sepak bola terbaik saat ini.

EA telah mengandalkan teknologi Hypermotion 2 untuk memberikan pengalaman bermain lebih realistis dan otentik. Game Rant mencatat terdapat lebih dari 6000 animasi di dalam game serta akselerasi mekanik berdasarkan atribut masingmasing pemain tim sepak bola di dunia nyata.

FIFA 23 akan menjadi game terakhir seri FIFA oleh EA sebelum berganti nama sebagai EA Sports FC. Jika EA tidak mampu segera membuat perubahan, seri FIFA buatannya berpotensi tidak berakhir bahagia bagi penggemar setianya.

Leaker Apex Legends Ungkap Map Titanfall Segera Hadir

GAMEFINITY.ID, Bandung – Bukan lagi rahasia bahwa Apex Legends berkaitan erat dengan Titanfall. Pasalnya, keduanya memiliki latar dunia yang sama. Penggemar telah memperhatikan mulai dari beberapa karakter legend, senjata, dan lokasi berhubungan dengan dunia Titanfall.

Baru-baru ini, penggemar dikejutkan sebuah bocoran bahwa map Titanfall berpotensi hadir di Apex Legends. Ini dapat mewujudkan impian penggemar yang ingin menyaksikan kolaborasi langsung kedua franchise tersebut.

Kaitan Apex Legends Dengan Titanfall?

CBR menyatakan hubungan Titanfall dan Apex Legends ternyata lebih dalam daripada sekadar kameo dan easter egg. Disebutkan bahwa Kuban Blisk, salah satu antagonis utama Titanfall 2, menjadi orang yang mendirikan Apex Games. Pertandingan berdarah itu menghadiahkan popularitas, ketenaran, dan harta melimpah.

Apex Legends Ash Titanfall
Ash jadi satu-satunya legend yang pernah muncul di Titanfall

Beberapa karakter juga memiliki cerita latar belakang yang terkait dengan lore Titanfall. Contohnya, ayah Valkyrie terbunuh saat cerita Titanfall 2 dan Bangalore diceritakan sebelumnya bekerja di Interstellar Manufacturing Corporation. Ash telah menjadi satu-satunya karakter Titanfall 2 yang muncul sebagai legend setelah sebelumnya menjadi sosok antagonis.

Game Titanfall sendiri telah rilis 2014. Sekuelnya, Titanfall 2, pertama kali hadir 2016. Keduanya mendapat sambutan hangat dari kritikus. Meski begitu, penjualan Titanfall 2 telah dianggap mengecewakan karena harus bersaing dengan Call of Duty: Infinite Warfare dan ironisnya, Battlefield 1.

Baca juga: Apex Legends Kembali Gelar Event Halloween, Fight or Fright

Menurut Leaker, Map Titanfall Segera Hadir?

Dilansir dari Dexerto, leaker terpercaya KralRindo mengungkap terdapat data map Titanfall. Ia menyebut data tersebut ditemukan setelah update patch pada 29 September 2022.

Terdapat sembilan map yang ditemukan, semuanya merupakan map favorit penggemar di Titanfall 2. Map yang ditemukan di antaranya Angel City, Black Water Canal, Boneyard, Colony, Crash Site, Eden, Exoplanet, Homestead, dan Rise.

Apex Legends Titanfall Eden map
Eden, salah satu map favorit penggemar di Titanfall 2

KralRindo menyebutkan kesembilan map ini akan dipergunakan dalam mode baru bertajuk Capture Point. Mode ini dilaporkannya dapat menjadi time limited mode baru di Apex Legends. Masuk akal jika tidak ada satupun dari sembilan map ini dianggap cocok untuk format battle royale.

Jika temuan KralRindo akurat, penggemar Titanfall dapat berbahagia karena Apex Legends menghadirkan map favorit mereka. Belum diketahui kapan konten ini akan hadir. Kolaborasi dengan Titanfall dapat menjadi bagian dari season 15 yang akan meluncur 1 November 2022. Bisa saja Apex Legends menghadirkan legend baru langsung dari Titanfall.

Pemicu Google Stadia Gagal Secara Spektakuler

GAMEFINITY.ID, Bandung – Layanan cloud gaming milik Google, Stadia, sempat dianggap sangat menjanjikan oleh pemain dan kritikus. Ekspektasi pun sangat tinggi sebelum peluncuran resminya pada 19 September 2019. Sayangnya, Google memutuskan untuk mematikannya pada 18 Januari 2023.

Meski Google sebelumnya telah memastikan Stadia tidak akan mati, akhirnya mereka menyerah. Pemain yang menggunakan Stadia dapat dikatakan tergolong kecil. Dengan kata lain, Google telah gagal menarik peminat platform cloud gaming-nya. Berikut ini adalah pemicu Stadia gagal secara spektakuler.

Peluncuran Stadia yang Mengecewakan

Google Stadia controllerq
Ilustrasi controller Stadia

Ambisi Google menghadirkan teknologi cloud gaming dapat dikatakan sangat besar. Mereka mengaku Stadia membantu pemainnya mampu bermain game hanya melalui server cloud. Pemain hanya butuh internet untuk bermain game yang tersedia melalui teknologi streaming tanpa konsol atau PC mahal. Pemain dapat mengakses Stadia di gawai apapun, termasuk PC, ponsel, atau tablet.

Saat peluncuran resminya, Stadia sudah mengalami banyak masalah. Harapan pemain saat mencobanya pun berujung kekecewaan. Masalah teknis kerap ditemukan pemain dan kritikus.

Contohnya, The Verge mendapati beberapa fitur yang dijanjikan sama sekali tidak tersedia. Mereka juga mendapati kualitas gambar 4K tidak seperti semestinya.

Peluncuran yang mengecewakan menjadi awal buruk bagi Stadia. Terlebih, pada awal peluncuran, layanan ini hanya 22 judul game. Ironisnya, tier gratisnya belum tersedia hingga April 2020.

Paket berlangganan Stadia Pro dibanderol seharga 9,99 dolar AS. Pelanggan paket ini dapat memainkan koleksi game secara gratis dan memainkannya dalam kualitas gambar 4K.

Studio Game In-house Stadia Ditutup

Google sempat mendirikan divisi Stadia Games and Entertainment demi mengembangkan judul game secara internal. Studio pertamanya didirikan di Montreal pada 24 Oktober 2019, sementara studio keduanya dibuka di Playa Vista, Los Angeles pada Maret 2020. Google juga mengakuisisi Typhoon Studios pada Desember 2019.

Secara mengejutkan, Google menutup Stadia Games and Entertainment pada Februari 2021. Otomatis, Google memutuskan tidak lagi berfokus mengembangkan game eksklusif di Stadia.

Dilansir dari The Verge, manajer general Stadia Phil Harrison mengemukakan, “kami percaya ini adalah jalan terbaik demi membangun Stadia sebagai bisnis jangka panjang yang membantu mengembangkan industri.” Dari pernyataan ini, Google telah berjanji akan berkomitmen pada Stadia sebagai platform.

High on Life previously on Stadia
High on Life sebelumnya dikembangkan untuk Stadia

Bahkan, IGN mencatat bahwa The Quarry dan High on Life sebelumnya dikembangkan di studio milik Google itu. Keduanya berpindah setelah Google menutup studio game internalnya. The Quarry telah rilis Juni 2022 dan mendapat ulasan memuaskan dari kritikus. High on Life dijadwalkan rilis 13 Desember 2022 di PC, Xbox One, dan Xbox Series X|S.

Manajemen yang Buruk

Awal peluncuran dan tutupnya studio internal menjadi dua pertanda besar. Google telah dianggap tidak memahami industri game, apalagi menyediakan platform-nya.

Meski Google telah berinvestasi besar-besaran dan berjanji akan bertahan dalam jangka panjang, Stadia tidak mampu bertahan dari persaingan ketat platform game. Pustaka game-nya masih tidak bertambah secara masif, minimnya komunikasi, dan model bisnis yang buruk. Ketiga hal tersebut menjadi pertanda Google memiliki manajemen buruk terhadap Stadia.

Baca juga: Google akan Segera Menonaktifkan Google Stadia

Masa Depan Cloud Gaming?

Gagalnya Stadia menjadi contoh peringatan bagi industri game. Meski begitu, Stadia tetap memicu tren cloud gaming bagi perusahaan teknologi raksasa. Amazon telah resmi meluncurkan Luna pada 1 Maret 2021. Microsoft mulai berfokus pada Xbox Cloud Gaming mulai dari peluncurannya pada 15 September 2020 khusus pelanggan Xbox Game Pass Ultimate.

Keduanya masih harus bersaing dengan GeForce Now milik Nvidia yang diluncurkan sebagai beta pada 2015 sebelum resmi hadir Februari 2020. Ketiganya telah berekspansi dalam pengembangannya dan menawarkan berbagai keuntungan tersendiri.

Google Stadia dapat dikatakan sebagai salah satu pionir teknologi cloud gaming. Namun, awal yang mengecewakan, minim judul game dari studio internal, dan manajemen yang buruk menjadi pemicu kegagalan secara spektakuler. Ini menjadi salah satu kegagalan besar bagi Google.

Apex Legends Kembali Gelar Event Halloween, Fight or Fright

GAMEFINITY.ID, Bandung – Oktober telah tiba, berarti beberapa game tengah mempersiapkan event spesial untuk merayakan Halloween! Apex Legends akhirnya kembali mengadakan event Halloween bertajuk Fight or Fright selama empat minggu!

Seperti tahun-tahun sebelumnya, event Fight or Fright menghadirkan mode time-limited dan skin bertema Halloween. Event ini akan digelar mulai 4 Oktober hingga 1 November 2022 mendatang.

Event Fight or Fright dimulai dengan Mode Shadow Royale

Mode khusus event Fight or Fright, Shadow Royale dipastikan akan kembali. Tahun ini, mode limited-time tersebut akan menggunakan map Olympus After Dark. Map Olympus sendiri merupakan salah satu map terfavorit pemain. Map tersebut akan disusupi twist menyeramkan menjadi Olympus After Dark.

Shadow Royale sebenarnya tidak jauh berbeda dengan mode reguler squad beranggotakan tiga orang di Apex Legends. Bedanya, pemain yang telah kalah dapat respawn sebagai shadow. Mereka memiliki ability tambahan berupa double jump, menghidupkan kembali seorang rekan, menembus dinding, dan menambah lebih banyak damage jarak dekat.

Pemain juga akan kedatangan mode gun run dan control dalam event ini. Dengan kata lain, event ini menghadirkan tiga mode yang dapat dimainkan setiap minggunya. Berikut adalah jadwal mode limited-time beserta lokasi map-nya sepanjang event:

Apex Legends Fight or Fright Event schedule
Jadwal event Fight or Fright di Apex Legends
  • 4-11 Oktober 2022: Shadow Royale di map Olympus After Dark
  • 11-18 Oktober 2022: Gun Run di map Estates After Dark, Skulltown, dan Fragment East
  • 18-25 Oktober 2022: Control di map Lava Siphon, Barometer, and Labs After Dark
  • 25 Oktober-1 November 2022: Shadow Royale di map Olympus After Dark

Baca juga: [Rumor] Trailer Game NFS Unbound Akan Dirilis Bulan Depan

Skin Bertema Halloween Tersedia di Store Apex Legends

Apex Legends Fight or Fright Event 2022 skins sale first week
Pilihan skin yang akan hadir di store pada 4-11 Oktober 2022
Apex Legends Fight or Fright Event 2022 skins sale second week
Pilihan skin yang akan hadir di Store pada 11-18 Oktober 2022

Event ini tidak akan lengkap jika tanpa ada skin spesial Halloween. Apex Legends akan menghadirkan berbagai bundle berisi skin Halloween dari tahun-tahun sebelumnya. Tidak tanggung-tanggung, mereka juga mengadakan promo selama event tersebut berlangsung.

Apex Legends Fight or Fright Event 2022 skins sale
Skin baru di event Fight or Fright tahun ini

Tidak hanya skin dari event sebelumnya, Apex Legends juga menghadirkan setidaknya enam skin baru spesial Halloween. Contohnya adalah Steampunk Wanderer untuk Octane dan Deadly Teddy untuk Revenant.

Apex Legends Fight or Fright Event 2022 skins sale final two weeks
Lebih banyak pilihan skin di store pada dua minggu terakhir event

Selama dua minggu terakhir event ini, pilihan skin spesial event Fight of Fright lebih banyak. Jadi siapkan Apex Coins sebanyak mungkin untuk memborong skin favorit pemain sepanjang event.

Begitulah detail dari event Fight or Fright tahun ini di Apex Legends. Event tersebut akan dimulai 4 Oktober 2022 dan berakhir 1 November 2022.

Deretan Game Battle Royale yang Bukan Shooter

GAMEFINITY.ID, Bandung Game battle royale menjadi salah satu genre game terpopuler saat ini. Tujuan dalam memainkannya untuk menjadi pemain terakhir yang bertahan. PUBG, Fortnite, Apex Legends, dan Call of Duty: Warzone telah menguatkan popularitas genre ini. Keempat game tersebut menunjukkan bahwa shooter menjadi elemen genre yang biasa dipadukan dengan battle royale.

Namun, terdapat juga pemain yang ingin bermain battle royale namun tidak percaya diri atau berminat dengan genre shooter. Terdapat juga game bergenre ini yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan senjata seperti pistol, machine gun, dan shotgun. Berikut adalah deretan game battle royale yang bukan shooter.

Eternal Return (battle royale + MOBA)

Eternal Return battle royale MOBA
Eternal Return

Battle royale dan MOBA disatukan mungkin tidak akan terpikir oleh kebanyakan pemain. Namun, Kakao Games dan Nimble Neuron rupanya berupaya menyatukan kedua genre itu menjadi satu game, yaitu Eternal Return. Game ini telah memasuki early access pada 14 Oktober 2020.

Eternal Return gameplay battle royale
Gameplay Eternal Return

Eternal Return merupakan game MOBA dengan elemen survival ala battle royale. Dalam game ini, pemain akan berhadapan dengan 17 pemain lain untuk bertahan hidup dan bertarung di Lumia Island. Pemain atau tim yang paling terakhir bertahan akan menang.

Seperti kebanyakan game MOBA, Eternal Return memiliki total 57 karakter sejauh ini. Setiap karakter tentu saja memiliki skill dan ability yang berbeda-beda.

Eternal Return saat ini tersedia sebagai early access dan free-to-play di PC.

Naraka: Bladepoint

Naraka Bladepoint battle royale melee
Naraka Bladepoint

Game besutan NetEase ini berhasil mendobrak genre battle royale dengan memfokuskan melee. Naraka: Bladepoint telah menjadi jawaban bagi pemain yang bosan anggapan battle royale adalah shooter. Game ini telah rilis pada Agustus 2021.

Naraka Bladepoint gameplay battle royale
Gameplay Naraka: Bladepoint

Naraka: Bladepoint berfokus pada serangan jarak dekat alih-alih jarak jauh seperti kebanyakan game serupa. Lebih unik lagi, sistem combat-nya menggunakan rock/paper/scissors (suit). Terdapat tiga tipe serangan, regular, charge, dan counter. Regular mengalahkan counter, charge mengungguli regular, dan counter mendominasi charge. Sistem combat ini tentu mengandalkan keberuntungan. Siapapun yang paling beruntung menang.

Meski terdapat senjata jarak jauh seperti pistol dan busur panah, senjata jarak dekat mulai dari belati hingga pedang menjadi fokus utamanya. Setiap senjata memiliki keunggulan yang berbeda-beda jika dipergunakan. Ini menjadi elemen khas utama bagi Naraka: Bladepoint.

Naraka: Bladepoint bisa dimainkan di PC dan Xbox Series X|S. Versi Xbox One dan PlayStation 5-nya akan segera hadir.

Fall Guys

Fall Guys battle royale platformer
Fall Guys

Siapa yang tidak kenal makhluk bean yang menggemaskan ini? Mereka adalah bintang dari Fall Guys, game battle royale yang disatukan dengan platformer. Dibandingkan Naraka: Bladepoint, Fall Guys telah hadir terlebih dahulu pada Agustus 2020 dan langsung menjadi viral. Setelah menjadi free-to-play pada Juni 2022, popularitas game besutan Mediatronic ini meroket hingga mencapai 50 juta pemain dalam dua minggu.

Cara bermainnya sederhana. Pemain berperan sebagai bean dan harus menghadapi berbagai ronde melawan hingga 59 pemain lainnya. Ronde tersebut merupakan minigame ber-obstacle yang harus diselesaikan. Dari setiap ronde, pemain yang gagal menghadapi tantangan itu akan tereliminasi. Jika pemain berhasil melaju ke ronde final dan menjadi satu-satunya yang bertahan, ia akan menjadi pemenang.

Fall Guys gameplay battle royale
Gameplay Fall Guys

Visual yang imut dan berwarna menjadi pembeda dengan game battle royale lain. Karakter bean juga dapat dikustomisasi pemain menggunakan kostum unik dan menggemaskan. Bahkan, Fall Guys sering menghadirkan kostum hasil kolaborasi dengan franchise media lain mulai dari game hingga film.

Fall Guys sudah bisa dimainkan sebagai free-to-play di PC, Nintendo Switch, PlayStation 4, PlayStation 5, Xbox One, dan Xbox Series X|S.

Baca juga: Fall Guys Umumkan Season 2, Satellite Scramble!

Rumbleverse (battle royale + brawler)

Rumbleverse battle royale brawler
Rumbleverse

Satu lagi game battle royale yang berfokus pada serangan melee dibesut oleh Iron Galaxy dan Epic Games. Rumbleverse merupakan game battle royale dengan elemen brawler. Pertama kali rilis Agustus 2022, game ini telah menawarkan sesuatu yang unik dalam formula battle royale-nya, yaitu menambah elemen game brawler dan fighting.

Rumbleverse gameplay battle royale
Gameplay Rumbleverse

Dalam game ini, maksimal 40 pemain akan bersaing dan bertarung di Grapital City. Tujuan akhirnya untuk menjadi seorang pemain terakhir yang bertahan. Karakter pemain hanya akan mengandalkan pukulan dan tendangan alih-alih senjata api. Namun, terdapat senjata jarak dekat yang bisa diambil dan dipergunakan.

Pemain juga harus melakukan loot untuk mempelajari skill, dan mengumpulkan potion untuk meningkatkan stat (maksimal 10 potion bisa dikonsumsi). Tidak jauh berbeda dari game battle royale lain, pemain harus tetap berada di lingkaran yang semakin menyusut di sekitar Grapital City. Jika berada di luar lingkaran tersebut selama 10 detik, pemain akan didiskualifikasi.

Game ini telah dibanding-bandingkan dengan Fortnite, selain visualnya yang cerah, tone-nya juga dapat dikatakan sebagai wacky. Setidaknya Rumbleverse telah menghadirkan formula yang berbeda daripada game battle royale lain sebagai ciri khasnya.

Rumbleverse telah tersedia di PC, PlayStation 4, PlayStation 5, Xbox One, dan Xbox Series X|S.

Keempat game tersebut telah membuktikan bahwa game battle royale tidak selalu identik dengan shooter. Jika pemain mengincar game battle royale yang unik, keempat game yang telah disebutkan dapat menjadi alternatif pilihan. Game manakah yang pernah dicoba atau telah masuk wishlist?

Update informasi menarik lainnya seputar game hanya di Gamefinity. Gamefinity.id menyediakan jasa pengisian top up dan voucher game dengan cara yang mudah dan pastinya terjangkau.