All posts by Dimas Galih Putrawan

A writer, gamer, content creator. My Gaming Account: Steam: dimaspettigrew Epic Games Store: PTGRW Xbox: PTGRW

Yuri on Ice Populer, Tapi Kurang Menguntungkan bagi MAPPA

GAMEFINITY.ID, Bandung – Yuri on Ice telah menjadi salah satu kejutan terbesar di kalangan penggemar anime pada 2016. Serial anime yang berfokus pada figure skating itu telah meraih kesuksesan masif baik di Jepang dan di luar negeri.

Namun, MAPPA baru-baru ini mengungkap kesuksesan besar itu tidak berarti dapat menguntungkan bagi studio secara finansial.

Yuri on Ice Raih Popularitas Masif saat Penayangannya

Yuri on Ice on Studio MAPPA

Pada awal penayangannya pada musim gugur 2016, Yuri on Ice tidak terlalu mencuri perhatian. Namun, popularitasnya meledak saat episode 7-nya tayang. Elemen ambigu tentang hubungan antara Victor dan Yuri menjadi perhatian dan perbincangan publik.

Penggemar dan kritikus beramai-ramai memberikan pujian pada serial anime produksi MAPPA itu. Penokohan dan isu kecemasan turut tidak luput dari pujian. Bahkan, Yuri on Ice juga memenangkan berbagai penghargaan prestigius seperti Crunchyroll Anime Awards, Tokyo Anime Award, dan Anime Grand Prix.

Terlebih, Anime News Network mencatat bahwa Yuri on Ice menjadi anime paling trending di Twitter pada musim gugur 2016 dengan total 1.440.596 tweet, sementara posisi keduanya dipegang oleh Haikyuu!! dengan 348.109 tweet.

Baca juga:

Populer, Ternyata Tidak Menguntungkan bagi MAPPA

Di balik kepopuleran besarnya itu, ternyata MAPPA mengungkap Yuri on Ice kurang begitu menguntungkan bagi studio. CEO MAPPA Manabu Ohtsuka mengaku pada KOMPASS bahwa serial anime itu sangat viral dan populer, tapi justru tidak membuahkan keuntungan finansial.

“Produksi kami, Yuri on Ice, benar-benar sukses besar. Tapi dibandingkan kesuksean itu, uang yang dihasilkan pada studio sangat sedikit. Kami merasa studio kami telah bertanggung jawab untuk melanjutkan struktur ini dan kami mereasa kami harus menambah apa yang kami bisa lakukan sendiri. Kami tidak bisa mengontrol kapan kami akan mendapat produksi yang populer, jadi selama kita tidak untung dari kesemaptan terbatas, kami tidak bisa tumbuh sebagai perusahaan,” tutur Ohtsuka.

Sementara itu, MAPPA saat ini sudah terkenal telah memproduksi berbagai serial anime besar seperti Vinland Saga, Attack on Titan Season 4, dan Chainsaw Man. Faktanya, Chainsaw Man dan Campire Cooking in Another World with My Absurd Skill didanai sendiri oleh MAPPA. Metode ini bisa menguntungkan jika anime produksi mereka sendiri menjadi populer tetapi juga bisa merugikan jika gagal.

Apple Kembangkan AI Chatbotnya Sendiri? Demi Saingi ChatGPT?

GAMEFINITY.ID, Bandung – Apple tampaknya sedang membuat chatbot berbasis AI-nya sendiri. Rupanya, perusahaan pembuat iPhone dan Mac itu ingin mengikuti jejak sederetan raksasa teknologi lainnya untuk bersaing dengan ChatGPT buatan OpenAI. Proyek ini saat ini dipercaya belum akan terungkap pada publik.

Apple Buat Chatbot-nya Sendiri?

Apple chatbot

Menurut laporan dari Bloomberg, beberapa teknisi mengungkap Apple sedang membuat chatbot yang mereka sebut sebagai Apple GPT. Sebenarnya, proyek itu bernama Ajax. Proyek ini menggunakan Google Cloud dan dikembangkan dengan Google JAX, sebuah framework yang dibuat untuk mempercepat riset pembelajaran mesin.

Saat ini belum diketahui bagaimana Ajax akan berfungsi. Apple juga dilaporkan belum memiliki rencana untuk peluncuran dan platform-nya. Namun, sebuah sumber anonim menyebut pihak perusahaan kemungkinan akan mengumumkan proyek ini dalam waktu dekat. Ditambah, Apple juga menggelar earning call bulan depan, saat itulah Ajax berpotensi terungkap.

Masih Bungkam dalam Penggunaan AI

Apple sebelumnya sudah terkenal dengan sistem AI bernama Siri, sebuah voice assistant yang memulai trend di kalangan raksasa teknologi. Sejak saat itu, berbagai voice assistant bermunculan seperti Alexa dari Amazon dan Cortana dari Microsoft. Alexa saat ini disebut lebih baik oleh kebanyakan pengguna dan kritikus.

Meski begitu, Apple masih cukup bungkam dalam pembahasan AI. Bahkan, pihak perusahaan melarang karyawannya untuk menggunakan ChatGPT.

Baca juga:

Laporan ini terungkap setelah Tim Cook, CEO Apple, berbicara pada Good Morning America. Dirinya mengaku bahwa bahwa AI generatif menjadi sesuatu yang diawasi ketat oleh pihak perusahaan.

Cook juga mengungkap kekhawatirannya tentang produk AI saat earning call Mei lalu. Ia mengaku terdapat beberapa masalah yang harus diatasi.

Bloomberg juga menambah John Giannandrea dan senior vice president of software engineering Craig Federighi memimpin inisiatif AI dari Apple. Giannandrea sebelumnya direkrut untuk mengawasi Siri dan kemampuan pembelajaran mesin.

Sementara itu, semenjak popularitas ChatGPT, banyak rakasasa teknologi yang merambah dalam mengandalkan AI. Google telah merilis chatbot Bard, sementara Microsoft mengandalkan teknologi OpenAI untuk merilis Bing Chat.

Saat ini, rencana Apple dalam mengandalkan AI masih belum diketahui.

Konten Modern Warfare 2 Bisa Ditransfer ke Call of Duty 2023?

GAMEFINITY.ID, Bandung – Activision tampaknya mengungkap sederetan konten Modern Warfare 2 bisa ditransfer ke game Call of Duty 2023. Entri Call of Duty selanjutnya tengah dikembangkan Sledgehammer Games dan dipercaya akan menjadi Modern Warfare 3.

Inilah Konten dari Modern Warfare 2 yang Bisa Ditransfer ke Call of Duty 2023

Baru-baru ini, akun Twitter resmi Call of Duty menggelar poling untuk bertanya apakah operator, senjata, dan bundle dari Modern Warfare 2 harus bisa ditransfer ke game berikutnya. Uniknya, kedua jawaban dari poling itu bertuliskan “Yes”. Jawaban keduanya justru ditambah “when is reveal?”.

Call of Duty 2023 Modern Warfare 2 content transfer

Keputusan ini benar-benar berbeda daripada entri Call of Duty sebelumnya. Biasanya, item yang sudah dibeli di setiap entri mainline game FPS besutan Activision itu tidak bisa ditransfer ke entri selanjutnya. Contohnya, saat Activision mengumumkan Warzone Caldera akan dimatikan, item kosmetik dari game battle royale itu tidak dapat ditransfer ke Warzone 2.0.

Baca juga:

Namun, Activision belum mengungkap begitu banyak detail tentang hal ini, begitu juga dengan konfirmasi resmi. Berdasarkan rumor yang selama ini beredar, tampaknya konten dari Modern Warfare 2 bisa digunakan di game Call of Duty selanjutnya. Tentunya pemain dan penggemar setia yang sudah membeli sederetan item di Modern Warfare 2 akan sangat senang.

Detail Call of Duty 2023 Sejauh Ini Menurut Leak

Deretan konten dari Modern Warfare 2 yang bisa digunakan di Call of Duty 2023 bukan satu-satunya rumor menurut leaker. Informasi lainnya telah bermunculan setelah closed alpha test, termasuk deretan screenshot.

Bocoran gambar dari game Call of Duty selanjutnya itu mulai tersebar di media sosial. Namun, Activision mengirim DMCA takedown request pada sederetan akun Twitter yang kedapatan memposting gambar tersebut. Dalam takedown notice-nya, pihaknya menyebut konten itu dari Call of Duty: Modern Warfare 3 yang belum rilis.

Game franchise FPS besutan Activision itu juga dilaporkan akan menghadirkan mini-map klasik, sistem perk baru, dan lainnya. Sistem perk itu tampak seperti kategori Gear. Map Terminal dan Scrapyard dari versi klasik Modern Warfare 2 ikut disebut akan kembali sebagai remaster.

Activision tentunya akan mengungkap detail lebih lengkap tentang Call of Duty 2023 dalam waktu dekat.

Baldur’s Gate III Dipastikan Miliki 17.000 Variasi Ending!

GAMEFINITY.ID, Bandung – Baldur’s Gate III tentu menjadi proyek RPG ambisius oleh Larian Studios begitu keluar dari early access pada 3 Agustus 2023. Saking ambisiusnya, tim pengembang sempat mengungkap game RPG epic ini memiliki cinematic total 174 jam, bahkan melebihi Game of Thrones. Lebih mengejutkannya lagi, ternyata game ini memiliki 17.000 variasi ending.

Ada 17.000 Variasi Ending di Baldur’s Gate III

Baldur's Gate III massive RPG

Sebuah video dari channel YouTube Fextralife mengungkap telah melakukan wawancara dngan Chrystal Ding, salah satu penulis utama game-nya. Dalam video itu, Chrystal Ding mengatakan dirinya telah mengerjakan ending Baldur’s Gate III selama 6 bulan dan terdapat 17.000 variasi ending yang tersedia.

Hal itu bukan berarti terdapat 17.000 ending yang berbeda-beda, melainkan hanya variasinya. Setiap variasi tersebut memiliki perbedaan yang mungkin kecil dan tidak terlalu signifikan. Berbicara tentang total jumlah ending yang berbeda, Chrystal Ding mengaku ia tidak dapat menghitungnya.

Hal ini tampaknya dibenarkan oleh direktur publishing Larian Studios Michael Douse. Ia mencuit di Twitter, “Oh tidak, mereka dapat angka 17.000.”

Bakal Jadi Game RPG yang Masif

Tampaknya Baldur’s Gate III akan menjadi satu lagi game RPG yang sangat ambisius. Larian Studios mengaku bahwa pemain bisa menyelesaikan main campaign-nya dalam 75 hingga 100 jam. Jika ingin menyelesaikan segalanya atau mencapai 100% completion, mereka setidaknya bisa menyelesaikan game-nya dalam sekitar 200 jam.

Baca juga:

Menurut laman blognya, Larian mengaku semua adegan cinematic di Baldur’s Gate III berdurasi total 174 jam. Jumlah itu bahkan dua kali lipat dari semua episode Game of Thrones. Tidak hanya itu, game RPG besutan mereka itu juga memiliki lebih banyak dialog cinematic daripada tiga novel Lord of the Rings.

“Semua kontennya akan memberi kamu pilihan dan konsekuensi dalam jumlah banyak, memastikan petualangan semuanya akan menjadi unik,” tutur pihak Larian.

Baldur’s Gate III akan resmi rilis di PC dan Mac pada 3 Agustus 2023 dan di PlayStation 5 pada 6 September 2023. Sementara itu, versi Xbox Series X|S akan segera hadir.

Overwatch League Terancam! Nasibnya akan Ditentukan pada Akhir Musim

GAMEFINITY.ID, Bandung – Overwatch League ternyata mengalami masa depan yang cukup suram. Hal ini buntut dari Activision Blizzard melakukan PHK terhadap karyawan departemen esports-nya. Mereka juga meminta semua tim esports yang telah berpartisipasi untuk memutuskan agar menentukan nasib kompetisi Overwatch terbesar itu pada akhir musim ini.

Activision Blizzard Minta Semua Tim Tentukan Nasib Overwatch League pada Akhir Musim

Activision Blizzard mengungkap dalam laporan keuangan kuartal keduanya mengenai masa depan Overwatch League. Pihaknya menyebut telah menawarkan semua tim yang berpartisipasi biaya penghentian sebesar US$6 juta jika mereka memilih tidak melanjutkan.

“Selama kuartal kedua, kami melakukan amandemen beberapa kebijakan tertentu terhadap kesepakatan kolaborasi pada tim yang berpartisipasi di Overwatch League. Menurut kebijakan terbaru, setelah akhir dari musim Overwatch League ini, semua tim akan menentukan untuk menetapkan kesepakatan operasional terbaru. Jika tim memilih tidak melanjutkan dengan kesepakatan baru ini, sebuah biaya penghentian sebesar US$6 juta akan dibayar pada setiap tim,” tulis Activision Blizzard.

Nasib di Tangan Semua Tim yang Berpartisipasi

Overwatch League in danger

Berdasarkan pernyataan tersebut, Overwatch League kini sedang terancam. Activision Blizzard mempercayakan semua pemilik tim yang berpartisipasi untuk memilih untuk lanjut atau tidak.

Akhir-akhir ini, Activision Blizzard sedang mengalami masalah dalam menyelenggarakan Overwatch League dan Call of Duty League. Pihaknya mengaku tidak yakin apakah kedua liga esports itu dapat bertahan dalam jangka panjang. Hilangnya sponsor, dampak Covid-19, dan kontroversi budaya frat boy perusahaan dipercaya sebagai penyebab masalah keduanya.

Baca juga:

Komisioner Sean Miller mengungkap pada The Verge bahwa Blizzard tetap berkomitmen pada esports Overwatch tidak peduli apakah Overwatch League akan berakhir karena pilihan setiap tim yang berpartisipasi.

“Saya ingin menjelaskan satu hal penting, bahwa Overwatch tetap berkomitmen pada ekosistem kompetitif pada 2024 dan selanjutnya. Serta kami sedang membangun sebuah sistem global baru yang memprioritaskan pemain dan penggemar,” tutur Miller.

Kenyataannya, 50 karyawan departemen esports mengalami PHK. Keputusan PHK itu disebut sebagai kekecewaan signifikan dari Activision Blizzard esports.

Nasib Overwatch League akan ditentukan setelah musim 2023 resmi berakhir. Sementara itu, babak grand final-nya akan digelar di Toronto, Kanada pada 28 September hingga 1 Oktober.

Overwatch 2 Alami Penurunan Player Engagement, Kenapa Ya?

GAMEFINITY.ID, Bandung – Sembilan bulan setelah peluncuran sebagai early access, Overwatch 2 ternyata mengalami penurunan player engagement. Hal itu baru-baru ini terungkap dari pengakuan Activision Blizzard. Namun, mereka berharap update selanjutnya yang bertajuk Invasion dapat merebut kembali perhatian pemain.

Overwatch 2 telah meluncur sebagai free-to-play pada Oktober 2022. Game besutan Blizzard itu sukses mencapai lebih dari 35 juta pemain dalam bulan pertamanya. Namun, game FPS ini tidak luput dari kritikan, termasuk batalnya PvE Hero Mode.

Activision Blizzard Akui Player Engagement Overwatch 2 Menurun

Melalui laporan keuangan kuartal kedua 2023-nya, Activision Blizzard mengungkap game FPS free-to-play-nya itu telah menurun secara bertahap para periode itu. Tentu ini menjadi pertanda bahwa persaingan game live service sangat ketat akhir-akhir ini tanpa memandang brand dan studio.

GameRant menyebut batalnya PvE Hero Mode sebagai faktor utama turunnya player engagement Overwatch 2. Pasalnya, Blizzard mempromosikan mode PvE itu demi menaikkan hype dan buzz sekuel dari Overwatch itu. Akan tetapi, mereka memilih untuk membatalkannya, memicu amarah penggemar setianya.

Terlebih lagi, map resmi buatan Blizzard terbaru berupa map Antartic Peninsula untuk Control pada Februari lalu. Setiap season-nya, mereka hanya menyediakan deretan konten lain berupa kosmetik, limited-time mode, event, dan hero baru. Tentu ini menjadi salah satu faktor Overwatch 2 mulai mengalami penurunan.

Season 6: Invasion Jadi Harapan Baru?

Overwatch 2 Invasion new hero

Activision Blizzard mengakui bahwa mereka berharap update besar selanjutnya, Overwatch 2: Invasion dapat merebut kembali perhatian pemain. Update yang juga menjadi season keenam itu akan rilis pada bulan depan.

Baca juga:

Season keenam itu diharapkan menjadi update terbesar. Terdapat deretan konten baru yang akan muncul, yaitu mode Flashpoint, PvE Story Mission, hero support baru, dan lainnya. Terlebih lagi, season tersebut akan dimulai bertepatan dengan Overwatch 2 mulai tersedia di Steam.

“Sementara engagement dan player investment di Overwatch menurun secara bertahap di kuartal ini, tim Overwatch sangat berharap dengan perilisan Overwatch 2: Invasion pada 10 Agustus,” ungkap Activision Blizzard dalam laporan keuangannya.

Tentunya, season terbaru dari Overwatch 2 itu diharapkan untuk menaikkan hype bagi pemainnya. Jika Blizzard sukses merebut kembali perhatian pemain, bukan tidak mungkin game ini bisa kembali bersaing dengan sederetan game FPS high-profile lainnya.