Category Archives: Game

Deretan Game Battle Royale yang Bukan Shooter

GAMEFINITY.ID, Bandung Game battle royale menjadi salah satu genre game terpopuler saat ini. Tujuan dalam memainkannya untuk menjadi pemain terakhir yang bertahan. PUBG, Fortnite, Apex Legends, dan Call of Duty: Warzone telah menguatkan popularitas genre ini. Keempat game tersebut menunjukkan bahwa shooter menjadi elemen genre yang biasa dipadukan dengan battle royale.

Namun, terdapat juga pemain yang ingin bermain battle royale namun tidak percaya diri atau berminat dengan genre shooter. Terdapat juga game bergenre ini yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan senjata seperti pistol, machine gun, dan shotgun. Berikut adalah deretan game battle royale yang bukan shooter.

Eternal Return (battle royale + MOBA)

Eternal Return battle royale MOBA
Eternal Return

Battle royale dan MOBA disatukan mungkin tidak akan terpikir oleh kebanyakan pemain. Namun, Kakao Games dan Nimble Neuron rupanya berupaya menyatukan kedua genre itu menjadi satu game, yaitu Eternal Return. Game ini telah memasuki early access pada 14 Oktober 2020.

Eternal Return gameplay battle royale
Gameplay Eternal Return

Eternal Return merupakan game MOBA dengan elemen survival ala battle royale. Dalam game ini, pemain akan berhadapan dengan 17 pemain lain untuk bertahan hidup dan bertarung di Lumia Island. Pemain atau tim yang paling terakhir bertahan akan menang.

Seperti kebanyakan game MOBA, Eternal Return memiliki total 57 karakter sejauh ini. Setiap karakter tentu saja memiliki skill dan ability yang berbeda-beda.

Eternal Return saat ini tersedia sebagai early access dan free-to-play di PC.

Naraka: Bladepoint

Naraka Bladepoint battle royale melee
Naraka Bladepoint

Game besutan NetEase ini berhasil mendobrak genre battle royale dengan memfokuskan melee. Naraka: Bladepoint telah menjadi jawaban bagi pemain yang bosan anggapan battle royale adalah shooter. Game ini telah rilis pada Agustus 2021.

Naraka Bladepoint gameplay battle royale
Gameplay Naraka: Bladepoint

Naraka: Bladepoint berfokus pada serangan jarak dekat alih-alih jarak jauh seperti kebanyakan game serupa. Lebih unik lagi, sistem combat-nya menggunakan rock/paper/scissors (suit). Terdapat tiga tipe serangan, regular, charge, dan counter. Regular mengalahkan counter, charge mengungguli regular, dan counter mendominasi charge. Sistem combat ini tentu mengandalkan keberuntungan. Siapapun yang paling beruntung menang.

Meski terdapat senjata jarak jauh seperti pistol dan busur panah, senjata jarak dekat mulai dari belati hingga pedang menjadi fokus utamanya. Setiap senjata memiliki keunggulan yang berbeda-beda jika dipergunakan. Ini menjadi elemen khas utama bagi Naraka: Bladepoint.

Naraka: Bladepoint bisa dimainkan di PC dan Xbox Series X|S. Versi Xbox One dan PlayStation 5-nya akan segera hadir.

Fall Guys

Fall Guys battle royale platformer
Fall Guys

Siapa yang tidak kenal makhluk bean yang menggemaskan ini? Mereka adalah bintang dari Fall Guys, game battle royale yang disatukan dengan platformer. Dibandingkan Naraka: Bladepoint, Fall Guys telah hadir terlebih dahulu pada Agustus 2020 dan langsung menjadi viral. Setelah menjadi free-to-play pada Juni 2022, popularitas game besutan Mediatronic ini meroket hingga mencapai 50 juta pemain dalam dua minggu.

Cara bermainnya sederhana. Pemain berperan sebagai bean dan harus menghadapi berbagai ronde melawan hingga 59 pemain lainnya. Ronde tersebut merupakan minigame ber-obstacle yang harus diselesaikan. Dari setiap ronde, pemain yang gagal menghadapi tantangan itu akan tereliminasi. Jika pemain berhasil melaju ke ronde final dan menjadi satu-satunya yang bertahan, ia akan menjadi pemenang.

Fall Guys gameplay battle royale
Gameplay Fall Guys

Visual yang imut dan berwarna menjadi pembeda dengan game battle royale lain. Karakter bean juga dapat dikustomisasi pemain menggunakan kostum unik dan menggemaskan. Bahkan, Fall Guys sering menghadirkan kostum hasil kolaborasi dengan franchise media lain mulai dari game hingga film.

Fall Guys sudah bisa dimainkan sebagai free-to-play di PC, Nintendo Switch, PlayStation 4, PlayStation 5, Xbox One, dan Xbox Series X|S.

Baca juga: Fall Guys Umumkan Season 2, Satellite Scramble!

Rumbleverse (battle royale + brawler)

Rumbleverse battle royale brawler
Rumbleverse

Satu lagi game battle royale yang berfokus pada serangan melee dibesut oleh Iron Galaxy dan Epic Games. Rumbleverse merupakan game battle royale dengan elemen brawler. Pertama kali rilis Agustus 2022, game ini telah menawarkan sesuatu yang unik dalam formula battle royale-nya, yaitu menambah elemen game brawler dan fighting.

Rumbleverse gameplay battle royale
Gameplay Rumbleverse

Dalam game ini, maksimal 40 pemain akan bersaing dan bertarung di Grapital City. Tujuan akhirnya untuk menjadi seorang pemain terakhir yang bertahan. Karakter pemain hanya akan mengandalkan pukulan dan tendangan alih-alih senjata api. Namun, terdapat senjata jarak dekat yang bisa diambil dan dipergunakan.

Pemain juga harus melakukan loot untuk mempelajari skill, dan mengumpulkan potion untuk meningkatkan stat (maksimal 10 potion bisa dikonsumsi). Tidak jauh berbeda dari game battle royale lain, pemain harus tetap berada di lingkaran yang semakin menyusut di sekitar Grapital City. Jika berada di luar lingkaran tersebut selama 10 detik, pemain akan didiskualifikasi.

Game ini telah dibanding-bandingkan dengan Fortnite, selain visualnya yang cerah, tone-nya juga dapat dikatakan sebagai wacky. Setidaknya Rumbleverse telah menghadirkan formula yang berbeda daripada game battle royale lain sebagai ciri khasnya.

Rumbleverse telah tersedia di PC, PlayStation 4, PlayStation 5, Xbox One, dan Xbox Series X|S.

Keempat game tersebut telah membuktikan bahwa game battle royale tidak selalu identik dengan shooter. Jika pemain mengincar game battle royale yang unik, keempat game yang telah disebutkan dapat menjadi alternatif pilihan. Game manakah yang pernah dicoba atau telah masuk wishlist?

Update informasi menarik lainnya seputar game hanya di Gamefinity. Gamefinity.id menyediakan jasa pengisian top up dan voucher game dengan cara yang mudah dan pastinya terjangkau.

Hideo Kojima Pernah Menggarap Game Lanjutan Death Strandings Untuk Stadia

GAMEFINITY.ID Kutai Kartanegara – Setelah pengumuman jadwal penutupan Stadia, kini muncul kabar pembatalan proyek game lanjutan eksklusif dari Death Stranding. Game ini sendiri dikatakan sebagai proyek kolaborasi antara Hideo Kojima dan Google, yang rencananya akan rilis eksklusif di Stadia, dengan konsep “game horor episodik” single-player.

Pertama kali diumumkan pada tahun 2019, Google tampak penuh percaya diri  dengan visi besar dari teknologi cloud streaming. Dengan ide-ide baru seperti Stream Connect, Google akhirnya membentuk Stadia Games & Entertainment, yang dipimpin oleh veteran industri video game, Jade Raymond (Assassin’s Creed & Watch Dogs), untuk menciptakan pengalaman yang hanya mungkin terjadi di Stadia.

Namun, sekitar satu tahun kemudian, platform Cloud Gaming besutan Google itu dilaporkan telah kehilangan ratusan ribu target pengguna mereka, dan Google mulai meruntuhkan divisi Stadia Games and Entertainment.

Google sendiri sebenarnya telah bekerjasama dengan beberapa pengembang terkenal di industri video game, untuk membuat beberapa judul eksklusif di Stadia. Dan salah satunya adalah pengembang dari seri game Metal Gear dan Death Stranding, Hideo Kojima.

Baca juga: Twitter Hadirkan Reels Video Imersif Ala TikTok

Google Stadia | Proyek Game Single-Player Yang Dibatalkan

Proyek Game Single-Player Yang Dibatalkan

Mengutip dari laman web 9to5google, Google dilaporkan pernah membuat kerjasama dengan Hideo Kojima untuk menggarap proyek game lanjutan eksklusif dari Death Stranding. Akan tetapi, proyek itu akhirnya dibatalkan karena game tersebut mengusung sistem permainan single-player. Dimana Google percaya bahwa tidak ada lagi pasar untuk pengalaman permainan solo.

Kabarnya, game tersebut telah mendapatkan persetujuan awal dari Google dan telah memulai tahap awal pengembangan. Namun, tak lama setelah mockup pertama pada pertengahan 2020, Google membatalkan proyek tersebut sepenuhnya.

Game kolaborasi dengan Kojima Productions itu diklaim akan menjadi sebuah “game horor episodik,” dengan Hideo Kojima yang bersemangat untuk memanfaatkan potensi cloud gaming.  Tapi pada akhirnya, dikatakan bahwa Manajer Umum Stadia, Phil Harrison, telah membuat panggilan terakhir kepada Kojima Productions untuk membatalkan proyek game mereka.

Suka dengan artikel ini? Jangan lupa untuk membaca artikel menarik lainnya hanya di https://gamefinity.id/

Wann Ungkap Rolenya Di Piala Presiden 2022

GAMEFINITY.ID, Jakarta – Wann yang saat ini bergabung dalam Tim World akhirnya ungkap role yang akan dimainkannya di ajang Piala Presiden yang akan diadakan pada bulan November mendatang. Dilansir dari One Esport, Wann bersama dengan mantan pemain Evos Legend lainnya yaitu Donkey, Luminaire, Rekt, dan Oura telah mengonfirmasi kalau timnya telah mendaftarkan dirinya di Piala Presiden Esport 2022 yang diunggah di story Instagram Evos Luminaire, ihsanbesarik.

Mereka akan berpartisipasi di Piala Presiden dalam rangka turut meramaikan acara disana sebagai publik, yang artinya mereka bakal bersaing dengan tim-tim pemula. Nah, penasaran role apakah yang akan ia bawakan apabila World telah lolos seleksi nantinya? Dan Apakah ia masih menjadi Midlaner, jungler, atau justru bukan keduanya?

Baca juga: Buntut Remehkan Kemampuan Pemain Wanita, Federasi Catur Internasional Pecat Komentator Ilya Smirin

Wann Akhirnya Buka Suara Soal Rolenya Di Piala Presiden Esport 2022

Bukti pendaftaran Piala Presiden yang akan diikuti oleh Wann
Evos World resmi daftarkan timnya di Piala Presiden Esport 2022 ( Instagram: ihsanbesarik )

Selama ini Wann sebelum berpisah dari Evos dikenal piawai menggunakan role Midlaner dan juga Jungler, melalui perbincangannya dengan Ihsan Besarik atau Luminaire di Live stream Wann, akhirnya ia mulai ungkap Role-nya. Dan memutuskan untuk bermain sebagai jungler nanti. Sebelumnya Wann akan mengisi sebagai Midlaner, akan tetapi niat tersebut dibatalkan olehnya.

Menurut Wann, alasan dirinya tidak jadi mengisi Midlaner lantaran masih belum yakin jika ia bisa bermain secara optimal nantinya. Ia juga takut jika terjadi trust issues diantara timnya. Akhirnya role tersebut dipercayakan kepada Luminaire.

“Jadi dong, masa nggak jadi. Gua kan udah nawar ke Luminaire, mau nggak tuker role? Dia sih iya-iya aja. Tapi gua sempat mikir kalau ia yang ngisi jungler, bakal kacau nih. Yaudah daripada itu mending gua aja yang jadi jungler-nya. “ kata Wann di Livestream-nya.

Dengan bergabungnya mereka ini kembali, tentunya sudah dinantikan oleh fanbase Evos itu sendiri, walaupun mereka berlima sudah saling menganggap rekannya menjadi keluarga sendiri, agar chemistry dapat terbentuk kembali, mereka harus kembali berlatih secara intens dan rutin apalagi mereka ini sudah jarang mengikuti berbagai turnamen yang ada.

Google akan Segera Menonaktifkan Google Stadia

GAMEFINITY.ID, Kabupaten Malang – Google dilaporkan akan menutup kembali salah satu layanan milik mereka. Layanana yang akan ditutup tersebut adalah Google Stadia, platform game streaming service buatan Google. Kabarnya, Stadia akan resmi ditutup pada tanggal 18 Januari 2023 tahun depan.

Para pengguna Stadia sendiri nantinya juga akan mendapatkan refund setelah penutupannya. Phil Harrison menulis dalam blog miliknya, bahwa mereka akan melakukan refund terhadap semua hardware yang dibeli di Google Store dan juga seluruh game dan add-on yang dibeli di Stadia Store. Phil Harrison juga mengunngkapkan bahwa proses pengembalian dana akan dilaksanakan hingga paling lambat pertengahan Januari 2023.

Google Stadia In-image | USGamer
Presentasi saat Google Stadia Rilis 2019 Lalu | USGamer

Saat ini, status Stadia Store sudah ditutup sehingga para pengguna tidak dapat melakukan pembelian apapun di dalamnya. Google pun juga telah menerangkan bahwa proses refund akan dilakukan secara otomatis dan pelanggan tidak perlu mengembalikan sebagian besar hardware dari Stadia seperti Chromecast Ultra.

Baca Juga: Butuh Lebih dari 1800x Percobaan untuk Kalahkan Malenia

Terkait dengan kebijakan pengembalian di atas, Google menerapkan sebuah pengecualian pada para subscribers dari Stadia Pro. Mereka tidak akan mendapatkan refund atas pembelian Stadia Pro. Namun, mereka dapat mengakses dan menikmati game di Stadia hingga ditutup pada awal tahun depan.

Google sendiri menyertakan alasannya dibalik penutupan Stadia kali ini. Mereka mengatakan bahwa Google Stadia tidak mampu mendapatkan tempat di hati para pemain game streaming service. Meskipun pengembangannya telah dilakukan maksimal, mereka mengakui bahwa komunitas Stadia sendiri terbilang kecil. Belum lagi mereka harus menghadapi raksasa layanan streaming game lainnya seperti Xbox Game Pass, Nvidia GeForce Now, dan Amazon Luna.

Baca Juga: Kreator BlazBlue Hengkang, Fighting Game di Ujung Tanduk

Sebenarnya, Google sendiri sudah mengeluarkan tanda-tanda bahwa Stadia akan dihentikan mulai dari awal tahun ini dengan menutup tim pengembangan game internal Stadia. Selain itu, mulai dari Maret kemarin, Google seolah-olah sudah mengganti fokusnya dalam pengembangan Stadia. Mereka lebih memilih untuk menjual lisensinya untuk digunakan perusahaan lain, contohnya adalah promosi AT&T yang menawarkan game gratis di Stadia, dan CapCom yang merilis demo Resident Evil Village di platform yang sama.

Twitter Hadirkan Reels Video “Imersif” Ala TikTok

GAMEFINITY.ID Kutai Kartanegara – Twitter akhirnya menjadi salah satu raksasa media sosial yang mengadaptasi reels video bergulir ala TikTok. Perusahaan media sosial itu bahkan juga menambahkan Carousel video ke Explore Tab, yang akan menunjukkan video-video populer di Twitter.

Twitter dilaporkan akan bergabung dalam gelombang perusahaan-perusahaan media sosial yang mengadaptasi reels video milik TikTok.  Dalam sebuah postingan blog (via The Verge) yang diunggah pada hari Kamis (Hari Jumat waktu Indonesia), perusahaan mengumumkan bahwa Twitter akan memperbarui pemutar video mereka untuk mempermudah pengguna dalam aktivitas penjelajahan video.

“Video adalah bagian besar dari percakapan publik, dan merupakan salah satu cara paling menarik yang dapat dilakukan orang untuk mengekspresikan diri mereka secara online.” Tulis artikel blog Twitter.

“Untuk membantu mempermudah (dalam) menemukan dan menonton apa yang terjadi, kami meluncurkan dua pembaruan baru tentang cara Anda menikmati video di Twitter mulai hari ini.”

Baca juga: [Rumor] Trailer Game NFS Unbound Akan Dirilis Bulan Depan

Reels twitter
Twitter | Reels Video Dengan Tampilan Imersif

Reels Video Dengan Tampilan Imersif

Sepertinya TikTok masih menjadi masalah besar bagi para perusahaan-perusahaan media sosial negara barat. Bahkan, beberapa perusahaan raksasa media sosial yang menyalin fiturnya tidak selalu berhasil dimata pengguna. Salah satunya adalah desain ulang di Instagram, yang mengubah postingan foto menjadi feed menggulir full screen. Desain ulang ini telah memicu reaksi balik, dari mayoritas pengguna platform media sosial tersebut.

Twitter sendiri mengatakan bahwa “penampil media imersif” milik mereka, akan mulai diluncurkan di aplikasi Twitter (iOS) berbahasa Inggris, dalam beberapa hari kedepan.

“Penampil media imersif yang diperbarui dari Twitter (akan) memperluas video ke layar penuh dengan satu klik, memungkinkan Anda (untuk) mengakses pengalaman menonton penuh dan imersif dengan (lebih) mudah.”

“Penampil media imersif kami akan tersedia dalam beberapa hari mendatang bagi orang-orang yang menggunakan Twitter dalam bahasa Inggris di iOS.”

Suka dengan artikel ini? Jangan lupa untuk membaca artikel menarik lainnya hanya di https://gamefinity.id/

Gelar Media Sneak Peek, Asus Kenalkan ExpertBook B3000

GAMEFINITY.ID, Jakarta – Jumat (30/9), Asus menutup akhir September dengan menggelar Media Sneak Peek untuk produk terbarunya Asus ExpertBook B3000. Pada kegiatan tersebut Asus memperlihat produk ExpertBook B3 yang memiliki fitur detachable. Asus ExpertBook B3000 merupakan produk pertama convertible yang menawarkan Touch Screen dan Tablet Mode. Launching Asus ExpertBook B3000 sendiri baru akan hadir pada Oktober 2022 mendatang

Produk ini dibuat sebagai bentuk Asus mendukung produktivitas para penggunanya yang sangat mobile. Latar belakang produktivitas inilah yang menjadi alasan Asus ExpertBook hadir. Memberikan kenyamanan dalam bekerja, kegiatan sehari-hari dan edukasi. Asus ExpertBook memang diciptakan secara khusus untuk berbagai kegiatan tanpa harus merasa terbebani, karena ukuran yang sangat efisien dan ringan untuk dibawa-bawa.

ExpertBook 3000

Menurut Dominikus Susanto, Selaku Senior Manager Qualcomm Snapdragon, Sejauh ini baru Asus yang membawa Qualcomm Snapdragon sebagai processor. Sebelumnya Asus juga memiliki laptop yang menggunakan Qualcomm Snapdragon sebagai processor sebelum Asus ExpertBook B3000 ini, yaitu Asus Nova Go.

Tentu saja dengan membawa Snapdragon sebagai processor, Asus ExpertBook B3000 ini memiliki beberapa keunggulan. beberapa di antaranya adalah Penggunaan baterai yang dapat digunakan hingga 1 hari full. Dari sisi Kamera dan Audio yang dibawa oleh Asus ExpertBook B3000, pemakaian telah disempurnakan dan menjadi advance dengan dukungan AI. Tentu saja ini berbeda dari kebanyakan laptop yang akan menimbulkan noice reduction pada hasil  gambar ataupun audio.

Baca juga: ASUS Zenbook 14 OLED (UX3402) Kini Semakin Elegan & Powerful

Asus ExpertBook B3000 ini memang tidak dirancang untuk kegiatan seperti multimedia ataupun kegiatan desain. Segmentasi yang disasar Asus juga menurut Rifan Fernando, selaku Field Engineer Lead dari Asus, adalah untuk kebutuhan edukasi, bisnis dan manufacturing yang memudahkan setiap orang untuk melakukan kegiatan produktivitas mereka.

Selain itu, produk Asus ExpertBook B3000 ini menggunakan duo camera yang berukuran 13 Megapixel untuk kamera utama dan 5 Megapixel untuk kamera depan. ExpertBook B3000 ini menawarkan Detachable dengan fitur touch screen dan pen stylus. Untuk pen stylus-nya sendiri, Asus mengklaim bahwa dengan charger 15 detik penggunaannya dapat digunakan selama 45 menit. Tentu saja ini adalah terobosan alternatif yang sangat penting bagi mereka yang mobile, sehingga tidak perlu takut akan baterai yang tiba-tiba habis.

Asus ExpertnBook B3000

Seperti kebanyakan produk Asus, ExpertBook B3000 juga mendapatkan uji US Military Grade Realibility sama seperti produk lainnya. Hanya saja karena memang bentuknya yang dirancang untuk kegiatan sehari-hari, maka banyaknya uji tidak sama dengan laptop Asus kebanyakan. Hanya ada sekitar 8 uji untuk uji Military Gradi dan beberapa uji untuk security manajemen. meskipun begitu, teknologi Spill Resistence sudah dimiliki oleh laptop mungil ini.

Spill Resistance sendiri adalah sebuah teknologi untuk menahan air yang masuk dengan sistem yang sama seperti talang air. Teknologi ini memungkinkan user dapat melakukan tindakan preventif dan membuatnya terlihat aman dan kuat dari segala kondisi.