Category Archives: Game

4 Alasan Kenapa Orang Indonesia Kurang Berminat Terhadap Game Berkualitas

GAMEFINITY.ID, Singkawang – Game di dunia ini tentunya bermacam-macam, ada yang menurut sebagian orang bagus dan ada juga yang jelek. Namun ternyata ada beberapa game bagus yang kurang diminati oleh orang Indonesia.

Nah sebenarnya apa sih alasan mereka untuk tidak memilih game yang bagus? Simak penjelasannya berikut.

1. Perangkat yang Tidak Memadai

Alasan yang pertama adalah perangkat yang kurang atau tidak memadai. Game-game dengan grafis yang bagus serta fitur-fitur yang melimpah dapat membuat game tersebut menjadi semakin berat, sehingga diperlukan perangkat dengan spek tinggi untuk memainkan game tersebut.

Nah, karena game tersebut dianggap berat, banyak gamer yang akhirnya memilih untuk memainkan game ringan walaupun harus mengorbankan grafis dan fitur.

2. Kalah Cepat Rilis

Siapa cepat dia dapat, mungkin itulah kata yang cocok dengan hal ini. Biasanya game yang lebih cepat rilis akan lebih cepat dikenal dan melekat di pikiran orang banyak, hal itulah yang membuat game tersebut lebih populer dari game lainnya.

Sudah ada beberapa kejadian di mana game dengan gameplay dan grafis yang lebih bagus akan kalah dengan game yang rilis duluan.

3. Kebanyakan Orang Indonesia Suka Gameplay yang Sederhana

Alasan ketiga ini mungkin berbeda dengan pendapat sebagian orang. Biasanya, orang Indonesia lebih cenderung memilih game dengan gameplay sederhana karena dinilai tidak ribet untuk memainkannya.

Sedangkan game berkualitas biasanya memiliki gameplay dan alur cerita yang cukup kompleks dan rumit untuk dipahami para pemain.

4. Game Tersebut Kurang Gaul

Yak alasan yang terakhir ini pasti sering kalian jumpai. Terkadang ada beberapa orang yang bermain game dengan tujuan hanya ingin terlihat gaul dan keren. Walaupun ada beberapa game yang berkualitas, mereka meninggalkan game tersebut karena tidak gaul.

Nah itulah tadi beberapa alasan kenapa game yang berkualitas jarang diminati oleh orang-orang di Indonesia.

Fantastis, Epic Games Habiskan 168 Miliar Untuk Berikan Game Gratis Selama 9 Bulan Pertama

GAMEFINITY.ID, Purworejo – Selama beberapa tahun terakhir, Epic Games Store telah kita kenal sebagai toko game dengan game gratisnya yang diberikan tiap minggu. Bahkan ada yang sampai bilang “Klaim dulu, mainnya mah belakangan aja” karena saking seringnya memberikan game gratis. Tapi sayangnya kebanyakan dari kita hanya klaim gamenya saja tanpa memainkannya sama sekali.

Memang, game gratisan ini menjadi salah satu senjata Epic Games dalam mendongkrak jumlah penggunanya. Tapi apakah kalian tahu berapa banyak biaya yang Epic Games keluarkan untuk membuat game gratisan seperti itu?

Belum lama ini, sebuah dokumen yang bagikan oleh pendiri GameDiscoverCo, Simon Carless mengungkapkan bahwa Epic harus mengeluarkan biaya lebih dari $ 11,6 juta dolar atau sekitar 168 miliar Rupiah untuk memberikan game gratis dalam sembilan bulan pertama operasinya, yaitu antara Desember 2018 dan September 2019.

Want to know how much $ the devs of those ‘free’ Epic Games Store games got, & how many copies were grabbed? Here’s the first 9 months to September 2019. pic.twitter.com/5hkLb1VEjj

— Simon Carless (@simoncarless) May 3, 2021

Dokumen tersebut merupakan bagian dari dokumen gugatan sidang perseteruan antara Epic Games vs. Apple pada 3 Mei yang lalu. Bagi kalian yang tidak tau, perseteruan ini dimulai pada bulan Agustus tahun lalu dimana Epic Games yang diduga menyalahi aturan pembelian in-app purchases di App Store yang membuat Apple menghapus Fortnite dari App Store.

Epic Games

Dari dokumen tersebut dapat kita lihat berapa banyak biaya yang harus Epic Games keluarkan tiap game dengan banyaknya pengguna yang mengklaim game tersebut. Sebagai contoh, Subnautica yang menjadi game pertama yang digratiskan diklaim oleh 4,6 juta pengguna dengan biaya yang harus dikeluarkan sebesar 1.4 juta dollar, termahal kedua setelah Batman Arkham dengan 1.5 juta dollar atau sekiar 21.6 miliar Rupiah.

Menariknya, Epic Games tidak membayar sepeserpun untuk game Metro: 2033 Redux, ini mungkin disebabkan oleh game Metro Exodus yang eksklusif satu tahun di Epic Games pada tahun 2019. Sayangnya kita tidak bisa melihat berapa biaya yang Epic Games keluarkan untuk game GTA V karena hanya sampai September 2019 sedangkan GTA V digratiskan pada Mei 2020.

Dengan total biaya yang harus dibayarkan sebesar $ 11,6 juta selama sembilan bulan pertamanya, yang mungkin bagi kita jumlahnya cukup banyak, tetapi ini tidak seberapa jika dibandingkan dengan pendapatannya dari game Fortnite yang mencapai 28,7 miliar dolar atau sekitar 400 triliun rupiah lebih.

Gimana menurut kalian? Jumlah yang besar bukan?

Kocheng: Battle of Boings, Game Online PVP Multiplayer Paling Unik yang Wajib Dicoba!

GAMEFINITY.ID, Jakarta – Kocheng: Battle of Boings merupakan salah satu game online PVP multiplayer dengan slingshot dan bounce mekanik yang unik. Game ini awalnya adalah prototipe yang dibuat selama 1 minggu untuk diluncurkan ke penerbit pada awal tahun 2018. Kemudian game ini dilanjutkan ke program Indigo Game Startup Incubation di tahun 2019.

Game Kocheng: Battle of Boings ini terinspirasi dari judul-judul game klasik seperti Cat Dog dan Gunbound, namun game ini dipadukan dengan premis dan gameplay yang unik. Game yang telah dilanjutkan menjadi program Indigo Game Startup Incubation yang dimana Melon (Oolean) sebagai publisher ini diharapkan bisa membawa esensi nostalgia dari game klasik tersebut ke dalam nuansa yang lebih fresh.

Indigo Game Startup Incubation sendiri merupakan program inkubasi startup pertama untuk pengembang game Indonesia yang sustain di industri game. Tujuan dari program ini supaya konten game yang dibuat pengembang game Indonesia bisa mendominasi pasar game nasional, bahkan pasar game global.

Pada game ini kamu akan berperan sebagai Kocheng Oyen dan temannya para Boing (Boneka yang hidup di malam hari) untuk bertempur dan memantulkan satu sama lain di dalam sebuah crane ajaib, untuk dinobatkan sebagai juara antara para boings di crane.

Game Kocheng: Battle of Boings ini memiliki sinopsis berupa arena yang diisi dengan banyak mesin arcade yang seru. Mesin arcade yang seru tentu akan penuh oleh para pengunjung yang ingin bermain. Di antara semua game arcade di arena tersebut, ada salah satu game yang paling menonjol yaitu Claw Machine Game. Claw Machine Game ini diisi dengan boneka hewan dengan ekspresi wajah yang lucu.

Ekspresi lucu dari boneka ini disebut dengan Owning The Boings. Tidak ada satu orang pun yang bisa memenangkan permainan di Claw Machine Game ini hingga berbulan-bulan. Entah kenapa tidak ada satupun boneka yang keluar dari mesin tersebut, seolah-olah boneka meluncur sendiri ketika sudah dicengkram oleh mesin. Saat malam tiba, terjadi sesuatu yang aneh pada mesin tersebut. Di saat semua mesin dimatikan, tiba-tiba box OtB menyala dengan sendirinya dan berubah menjadi area Battleground.

Semua Boings yang di dalam menjadi hidup dan di antara mereka banyak yang melemparkan diri satu sama lain ke beberapa mesin yang ada di sekitar. Karena bentuknya yang bulat, Boings ini sangat sensitif terhadap kekuatan dan mudah memantul ketika terkena mesin.

Untuk karakter Kocheng sendiri merupakan boing kucing berwarna oren jahe dan merupakan seorang pemimpin permainan. Ia kerap mengadakan putaran pertempuran setiap malam untuk memutuskan siapa yang terbaik dan yang terburuk di antara mereka semua.

Boing terbaik akan dinobatkan sebagai juara dan boing yang terburuk maka tidak boleh meluncur sendiri ketika ada cakar mesin yang bisa meraihnya saat siang hari. Jadi boing yang terbaik lah yang bisa bertahan di dalam mesin arcade.

Bisa disimpulkan kalau game ini terdapat banyak sekali karakter boings yang bisa dimainkan, mulai dari Kocheng oyen yang bar-bar hingga hewan-hewan lucu lainnya yang memiliki kepribadian iseng namun menggemaskan. Setiap boing memiliki keunggulan dan keunikan sendiri dibanding boing yang lain, sehingga perbedaan tiap boing tidak hanya dilihat dari penampilannya saja. Nah, game multiplayer terdapat 2 mode yaitu 2 v 2 dan 1 v 1. Sehingga kamu bisa memainkannya bersama dengan teman dan membentuk tim.

Sama halnya dengan mode permainannya, game ini memiliki 2 mode yaitu Mode Mantul untuk mekanik dan premis yang fresh, serta mode Timpuk untuk mode klasik tanpa mantul-memantul yang dimana semua dikontrol dengan slingshot yang sama. Fitur selengkapnya yang bisa kamu di dalam game Kocheng: Battle of Boings, antara lain:

  •  “Bouncing” yang unik
  • 1 vs 1 (Game multiplayer untuk dimainkan secara duel dengan teman)
  • 2 vs 2 (Game multiplayer agar kamu bisa memainkannya dalam bentuk tim)
  • Drag dan penggunaan yang mudah digunakan untuk belajar mekanika ketapel
  • Mode Mantul untuk meluncurkan lawan yang ada di sekitar
  • Mode Timpuk untuk menembak lawan yang ada di sekitar
  • Terdapat banyak karakter lucu dan menggemaskan yang bisa digunakan dengan kemampuan yang unik.

Saat ini game Kocheng: Battle of Boings masih dalam tahap pengembangan versi BETA. Artinya game ini tidak lama lagi akan hadir di PlayStore untuk bisa kamu mainkan.

Saingi Dota, Riot Umumkan Serial Animasi League of Legends

GAMEFINITY.ID, Salatiga – Persaingan antara Dota 2 dan League of Legends semakin memanas. Setelah sebelumnya Dota 2 merilis serial animasi Dota : Dragon’s Blood, kini League of Legends juga bakal merilis serial animasi.

Pada tanggal 3 Mei 2021 kemarin, Riot merilis video teaser dan pengumuman tentang serial animasi League of Legends : Arcane. Video berdurasi 19 detik ini menunjukkan beberapa cuplikan dari serial League of Legends : Arcane beserta sejumlah karakter yang bakal hadir mengisi serial ini.

Plot League of Legends : Arcane

Dalam cuplikan teaser tersebut, diperlihatkan dua Champions yaitu Jinx dan Vi. Persaingan dari kedua karakter ini yang dikabarkan bakal menjadi pusat dari cerita League of Legends : Arcane.

Riot mengambil setting tempat utama di kota Piltover dan Zaun. Kedua kota ini diceritakan sedang mengalami perselisihan antara satu sama lain akibat kesenjangan sosial. Kota Zaun sendiri merupakan kampung halaman dari Jinx dan Vi dan menceritakan bagaimana kedua karakter ini hidup dan tumbuh di kota Zaun dan perjalanannya menuju kota Piltover.

Selain Jinx dan Vi, Champions yang bakal mengisi LoL : Arcane ialah Warwick dan Caitlyn. Beberapa Champions lain yang kemungkinan besar bakal muncul yaitu Viktor, Blitzcrank dan Ziggs.

Produksi dan Animasi

Dari segi produksi, Riot kembali menggandeng Fortiche Production dalam penggarapan animasi LoL : Arcane. Sebelumnya Fortiche Production telah mengerjakan berbagai promosional video LoL seperti RISE : Worlds 2018, WARRIORS : World 2014 dan tentunya, MV POP/STARS oleh K/DA.

Berbeda dengan Dota : Dragon’s Blood, LoL : Arcane bakal menggunakan animasi full 3D dibandingkan Dragons’ Blood yang menggunakan 2D. Selain itu Riot menargetkan audiens para remaja sekitar 14 tahun keatas. Berbeda dengan Dota yang target audiensnya merupakan penonton dewasa 21 tahun keatas.

Sebenarnya Riot sendiri telah mengumumkan pembuatan projek animasi League of Legends sejak tahun 2019, jauh sebelum pengumuman projek Dota : Dragon’s Blood. Namun projek animasi harus mengalami penundaan dan baru selesai pada tahun 2021 dikarenakan wabah COVID-19 yang melanda.

Serial League of Legends : Arcane direncanakan akan rilis perdana pada akhir tahun 2021 di platform streaming Netflix.

Botak Gaming! Ternyata Ini 5 Game yang Dimainkan oleh Master Deddy Corbuzier

GAMEFINITY.ID, Singkawang – Siapa yang tidak kenal dengan pria berkepala botak yang satu ini. Setelah sukses sebagai pesulap, kini Deddy Corbuzier memilih untuk menjadi presenter tv dan Youtuber. Namun tampaknya karir Deddy Corbuzier sebagai presenter tak akan lama lagi, pasalnya ia kini sudah mulai bermain video game.

Akankah pria bernama asli Deddy Cahyadi ini akan menjadi Youtuber Gaming? Apa saja game yang dimainkan oleh pria kekar ini? Berikut 5 game favorit Deddy Corbuzier yang kerap dimainkan bersama anaknya Azka.

1. Crysis 3

Crysis 3 adalah game FPS yang muncul pada tahun 2013. Game yang dikembangkan oleh Crytek dan didistribusikan oleh Electronic Arts ini memiliki alur cerita lanjutan dari seri Crysis sebelumnya yaitu Crysis 3. Dengan grafis yang lumayan bagus, game ini dapat dimainkan di platform PC, Xbox 360, dan Playstation.

2. Tom Clancy’s Splinter Cell: Blacklist

Tom Clancy’s Splinter Cell: Blacklist adalah game yang bertema aksi. Splinter Cell yang dirilis pada tahun 2013 ini dapat dimainkan di platform PC serta konsol. Alur cerita game ini bermula dari sebuah kelompok teroris yang menamakan dirinya The Engineers sedang berusaha menghancurkan aset milik Amerika bernama Blacklist.

3. Metal Gear Solid

Metal Gear Solid adalah game action yang dirancang oleh Hideo Kojima. Dikembangkan oleh Konami Computer Entertaiment Japan, game ini menjadi game pertama yang meluncur di platform Playstation oleh Konami pada tahun 1998.

4. The Last of Us

Game ini dikembangkan oleh Naugthy Dog dan diterbitkan oleh Sony Interactive Entertainment. Deddy Corbuzier suka dengan game ini karena alur ceritanya yang keren dan menarik. Dimulai dengan terinfeksinya warga Amerika Serikat dengan jamur bernama Cordyceps yang dapat membuat manusia menjadi agresif. Kalian dapat menggunakan konsol Playstation 3 dan 4 untuk memainkannya.

5. God of War

Yak, God of War. Game yang satu ini tentu saja sudah tidak lagi asing di telinga para gamer. Game buatan Santa Moniac Studios ini memang mengisahkan petualangan Kratos melawan para dewa.

Ngomong-ngomong soal Kratos, siapa disini yang merasa om Deddy Corbuzier mirip dengan karakter tersebut? Itulah tadi beberapa game yang Deddy Corbuzier mainkan. Gimana? Udah cocok jadi Youtuber Gaming belum?

Sobat Ambyar Wajib Main, Game Lokal Project Heartbreak Siap Rilis Tahun Depan

GAMEFINITY.ID, Purworejo – Berbicara game naratif, kita patut bangga dengan game lokal berjudul Coffee Talk dengan kesuksesannya menembus pasar internasional. Kesuksesan game ini terbukti dengan menjadi satu-satunya game dari Asia Tenggara yang masuk nominasi DICE Awards.

Namun dengan kesuksesan game ini, tak lantas membuat sang director Mohammad Fahmi “Famitsu” yang sebelumnya juga mengembangkan game What Comes After berhenti begitu saja. Belum lama ini, Famitsu mengumumkan game terbarunya berjudul ‘Project Heartbreak’.

Dilihat dari trailernya, game Project Heartbreak ini sepertinya terfokus dengan tema musik dengan merperlihatkan seorang gitaris. Jika kita lihat tags dari laman Steam nya, game ini seperti gabungan point and click dari What Comes After dan dating sim dari game Coffee Talk.

Ilustrasi dari game ini dikerjakan oleh Soyatu dan Pinga Penguin. Menariknya, karena tema utamanya adalah musik, pengisi soundtracknya adalah dari sebuah band rock indie asal Jakarta, L’Alphalpha.

Project Heartbreak

Untuk saat ini Famitsu belum bisa memberikan detail lebih lanjut mengenai game Project Heartbreak ini, namun menurutnya para gamer harus siap merasakan pahit manis yang bisa bikin patah hati persis seperti lirik lagu diatas yang juga menjadi deskripsi game ini.

Dengan menggandeng publisher Fellow Traveller, game Project Heartbreak rencananya akan dirilis tahun 2022 walau belum ada tanggal pasti. Game ini sudah tersedia untuk di wishlist di Steam.

Gimana, siapkah kalian dibikin mewek game ini?