Category Archives: Game

Review The Bonfire Forsaken Lands

GAMEFINITY.ID, Denpasar – Dua hari yang lalu saya membuat preview dari The Bonfire: Forsaken Lands, dan pada artikel ini saya akan melakukan review the bonfire forsaken lands

Bagi yang malas membaca atau tidak punya waktu untuk membaca

Dengan harga yang diberikan termasuk sangat murah (setidaknya di regional Indonesia) cukup layak dibeli, tapi ini game bugnya banyak, repetitive, optimalisasi tidak terlalu bagus. Penulis menilai game ini 5.5/10 (buruk).

Gameplay

Game ini bertipe RPG Survival, dimana kalian diharuskan untuk bertahan selama mungkin atau bisa dikatakan hingga kalian mengalahkan bos utamanya. Kalian disini akan memanajemen para pengembara untuk melakukan tugasnya masing-masing seperti ada yang untuk mencari kayu, jadi prajurit, penjaga, dan lain sebagainya. Di game ini juga kalian harus memanajemen bahan-bahan seperti kayu, besi, kulit, makanan untuk membangun bangunan, membuat alat-alat, dan tentu saja untuk makan para pekerja kalian.

Sejujurnya tidak ada yang spesial dari gameplaynya, termasuk biasa aja. Cuma, menerut penulis ada rasa kurang dari gameplaynya. Misal, kita tidak bisa sesuka hati memberikan istirahat/tidur ke pekerja yang kelelahan ataupun memberi makan sebanyak atau semau kita ke suatu pekerja, jadi di awal bermain akan sedikit kebingungan dalam memanajemen energi (istirahat dan makan) pekerja.

Disamping itu, saya menemukan celah digame ini. Dimana jika kalian beberapa menit sebelum pergantian jam malam dan siang kalian bisa mengganti pekerja siang kalian ke pekerja malam kalian dan tiba tiba energi langsung balik lagi (istirahat cukup, makan cukup). Sehingga kalian tidak perlu menunggu jam siang lagi agar energi pekerja kalian balik.

Grafis yang okay

Karena ini termasuk 2D Platformer sehingga saya rasa grafis dimilikinya termasuk cukup, dengan artstyle minimalist landscape (yang penulis suka) membuat nilai lebih dari game ini walaupun sebenarnya menurut penulis tidak ada yg mencirikhas dari artstyle game ini. Penulis tidak bisa bilang grafis dari game ini memukau, namun tidak bisa juga bilang jelek, Cukup lah.

Astaga, Ini Sound Design Gimana?

Jelek. Maaf, separah itukah? ya!. Yang paling tidak saya suka adalah antara volume secara overal kecil tiba-tiba saja suara teriakan gembira dari pekerja yang ketika telah mengalahkan monster terdengar sangat keras dan suara teriakannya pun kurang “kedalamannya” atau bisa dibilang terlalu “buatan” suranya, kurang natural seandainya saja ada tombol untuk mematikan suara teriakan ini sudah pasti suara ini penulis matikan!.

Lalu secara overal kualitas music background, sound effect sentuhan, kurang rapih menurut penulis. Yang paling buruk nya, tidak ada opsi in-game untuk memperbesar atau memperkecil suara entah itu sound effect sentuhan, background music, ataupun suara teriakan pekerja tersebut. Dengan artstyle yang dibawa dan genre yang dibawa, sudah pasti sound effect di game ini sangat penting, dan sayangnya eksekusi mereka kurang bagus, dan secara overal jelek.

Bug Disana dan Disini

Seandainya game ini masih early access munkin saya tidak akan menilai terlalu keras game ini dari segi bug dan kestabilannya. Tapi sayang tidak, penulis mencoba kontak salah satu developer untuk menanyakan apakah game ini masih di kembangkan atau tidak namun belum dijawab. Berikut list bug yang penulis temui:

  • Pertama, tombol kembali di submenu pekerja tidak bekerja, sejujurnya ini sangat menjengkelkan dikarenakan untuk balik ke submenu sebelumnya penulis harus ke menu lainnya (bukan sub menu).
  • Kedua, Tombol Mute (sound effect ataupun background music) tidak bekerja. Tombul mute ini berada di resume game.
  • Ketiga menu 30FPS dan 60FPS tidak bekerja juga, tetap saja di lock di 30FPS (setidaknya di Xiaomi Redmi Note 5 Pro).
  • Keempat, tulisan terkadang keluar dari area tombol dan terkadang menjadi sulit dibaca.
  • Kelima, bukan bug sebenarnya ini tapi optimalisasi game ini termasuk buruk. Karena apa yang ada di tampilkan di layar tidak sekompleks dari game lain, sebut saja PUBGM ataupun Alto’s Oddesey.

Yang membuat nilai yang saya berikan untuk game ini anjlok ya sebagian besar dikarenakan bug ini. Bahkan beberapa bug tersebut bisa dikatakan sangat menyebalkan dan mengganggu ketika bermain!.

Story?

Tidak terlalu layak untuk ditulis, bahkan bisa saja saya anggap tidak ada story di game ini dikarenakan terlalu biasa saja. Begini, Kalian datang ke suatu tanah tanpa penghuni, membuat koloni, lalu pergi kesuatu tempat (penulis tidak ingin spoiler ini), lawan bos, selesa.

Kesimpulan

Menurut saya game ini masih layak untuk dibeli dikarenakan harganya, dan game ini lebih cocok untuk dimainkan bagi yang punya waktu luang yang sedikit (sekitar 10 menit) dan mengisi waktu luang tersebut dengan bermain game mobile, maka game ini cocok bagi mereka.

Bagi mereka yang mengharapkan bermain game ini layaknya game survival yang propper dan cerita yang menarik, kalian agak kecewa disini. Dikarenakan terlalu repetitive ditambah bug yang ada yang membuat memperburuk keadaan. oh dan mode Hardcorenya merupakan sentuhan yang manis.

Dead By Daylight Melakukan Crossover Dengan Resident Evil

GAMEFINITY.ID, Jakarta – Minggu ini adalah minggu yang memiliki kabar baik bagi para penggemar game FPS, minggu ini terjadi nya crossover antara Rainbow Six Siege dengan Rick dan Morty, Capcom juga baru mengonfirmasi bahwa Dead By Daylight akan mendapatkan Crossover dengan Resident Evil, sebelum dengan Dead By Daylight, Resident Evil pernah mengadakan crossover dengan Rainbow Six Siege, yang membuat Operator Zofia menjadi Jill Valentine. Tidak hanya itu, The Division 2 pun mengadakan crossover nya pada bulan februari dengan resident evil dengan character nya yaitu Leon Kennedy.

Sebelum Resident Evil Rilis ada game zombie yang telah rilis sebelum Resident Evil Rilis pada tahun 199 enam, game game zombie tersebut di peruntukkan untuk mempopulerkan genre game zombie dan juga membuat agar kita terobsesi dengan genre game zombie. Jika bukan karena Resident Evil Dan The House Of Dead, dapat memungkinkan bahwa game seperti Dead By Daylight, The Last Of Us, Left 4 Dead dan masih banyak lagi. Dead By Daylight di deskripsikan sebagai game horror yang asimetris, yang membuat kamu harus bermain sebagai pembunuh atau survivor.

Dalam gameplay nya kita bisa menjadi sebagai survivor bersama 4 orang survivor lain nya ataupun kita bisa menjadi sebagai pembunuh yang mengharuskan membunuh keempat survivor yang ada di dalam game. Meskipun sudah cukup lama semenjak awal rilis nya, akan tetapi konten DLC yang menambahkan karakter karakter dari berbagai film maupun game lain seperti dari A Nightmare On Elm, Scream, The Texas Chainsaw Massacre dan masih banyak lagi. Ditambah sekarang akan ada DLC baru yaitu crossover nya bersama Resident Evil.

Trailer yang berdurasi 23 detik dibuka dengan cipratan darah yang sudah kental dan lencana Umbrella yang di lemparkan ke lantai. Dapat di masuk akal bahwa salah satu karyawan Umbrella tewas di bunuh oleh killer di resident evil. Meskipun Trailer tersebut sangat singkat, tetapi korban yang sudah di bunuh tersebut di gantung dan di biarkan menjadi mangsa para zombie.


Sebagai Character Killer di dalam Dead By DayLight, bisa saja itu nemesis atau Mr X sebagai killer di dalam game Dead By Daylight, dan untuk para survivor nya kemungkinan character tersebut ialah Chris Redfield, dan Claire Redfield, Leon Kennedy, Jill Valentine, ataupun character lainnya. Jika Dead By Daylight Memasukkan game seperti Resident Evil Village, Memungkinkan bahwa Ethan Winters akan menjadi character yang populer di Dead By DayLight

Selain Resident Evil Village dan crossover nya Rainbow Six Siege dan Dead By Daylight, Ada juga Co-op RE:Verse yang sudah meluncurkan versi beta-nya. Selain itu, Capcom juga ingin membuktikkan bahwa Resident Evil lebih dari sekedar Action Shooter standard. Dengan crossovernya dengan Dead By Daylight, Resident Evil Dan Dead By Daylight akan menjadi pusat perhatian untuk para penggemar game Dead By Daylight atau Genre Survival dengan crossover nya tersebut. Membuat kita tidak sabar lagi untuk mencoba DLC crossover terbaru ini.

5 Game Dengan Rating Terburuk di Steam

GAMEFINITY.ID, Salatiga – Di era gaming modern ini, Steam menjadi pilihan nomor satu para gamers untuk membeli game. Steam sendiri menjadi pilihan nomor satu bagi publisher besar maupun developer indie untuk memasarkan produknya.

Dengan jumlah game yang mencapai lebih dari 10 ribu, wajar saja apabila tidak semua game yang ada di Steam bagus dan layak untuk dimainkan. Beberapa game dengan kualitas yang sangat buruk ternyata masih dijual di platform ciptaan Gaben ini.

Lalu apa saja game-game tersebut? Ini dia daftarnya.

FlatOut 3: Chaos and Destruction

FlatOut 3 merupakan game ketiga dari seri FlatOut, game street racing hasil besutan Team6 Studios dan Strategy First. Game ini merupakan game dengan rating terburuk di Steam dengan skor 1.48 dan review “Overwhelmingly Negative”.

Para pemain FlatOut 3 mengeluhkan banyaknya bug, grafik yang membuat pusing, AI dan bot yang terlalu bodoh dan mekanisme game yang buruk. Alhasil hampir semua pemain mengajukan refund setelah memainkan game yang mengerikan ini.

Jika kalian penasaran dan nekat untuk mencoba FlatOut 3, kalian bisa membelinya seharga 90 ribu rupiah.

Uriel’s Chasm

Uriel Chasm merupakan game indie bergenre shooter 16-bit yang dikembangkan oleh Rail Slave Games. Uriel’s Chasm menempati posisi kedua game terburuk dengan rating 1.71 dan review “Mostly Negative”.

Game ini ternyata memang didesain sangat buruk oleh sang developer untuk meningkatkan kesan dystopia dan mimpi buruk. Sehingga apabila kalian memainkan game ini, kalian akan disambut dengan grafik yang membuat mual, audio bgm yang memusingkan kepala dan storyline yang benar-benar absurd.

Jika kalian ingin merasakan pengalaman bermain Uriel’s Chasm, kalian bisa membeli game ini seharga 46 ribu rupiah.

Command and Conquer 4 : Tiberian Twilight

C&C 4 Tiberian Twilight adalah game besutan EA dan merupakan seri C&C terakhir sebelum vakum selama 6 tahun. Game ini merupakan game ketiga rating terburuk sekaligus game AAA terburuk nomor satu di platform Steam dengan rating 1.79 dan review “Overwhelmingly Negative”.

Tiberian Twilight sering dituduh sebagai biang atas matinya seri Command and Conquer. Para pemain mengeluhkan sistem dimana pemain wajib menyambungkan game ke server EA meskipun hanya untuk bermain single player. Akibatnya, ketika server Tiberian Twilight mati, player tidak bisa memainkan game ini sama sekali.

Meskipun server Tiberian Twilight kini down, game ini masih dijual di Steam seharga 282 ribu rupiah.

Kinetic Void

Kinetic Void merupakan game space adventure ciptaan Badland Studio. Game ini menempati posisi keempat game terburuk di Steam dengan skor 1.85 dengan review “Overwhelmingly Negative”.

Alasan mengapa rating Kinetic Void sangat rendah dikarenakan developer dituduh melarikan uang para gamers yang sudah membeli game ini saat early access namun ternyata pengembangan Kinetic Void berhenti total.

Padahal jika dilihat dari screenshot Steam page, Kinetic Void punya potensi yang sangat tinggi bahkan bisa menyaingi game space sandbox lain seperti No Man’s Sky.

Meskipun berhenti pengembangannya, Kinetic Void masih dijual di Steam seharga 136 ribu rupiah.

Spacebase DF-9

Spacebase DF-9 merupakan game base building besutan Double Fine Production. Spacebase menempati peringkat kelima game terburuk dengan skor 1.87 dan review “Overwhelmingly Negative”.

Secara singkat, alasan rating buruk Spacebase DF-9 sama dengan Kinetic Void. Developer berhenti mengembangkan game disaat para pemain membeli game pada early access. Namun bedanya, Spacebase DF-9 mendapatkan unofficial patch dari fanbase yang geram dengan Double Fine namun masih ingin memainkan Spacebase DF-9.

Spacebase DF-9 kini dijual dengan harga 90 ribu rupiah.

Oke itu tadi daftar 5 game dengan rating terburuk di Steam. Untuk list lebih lengkapnya, kalian bisa cek di website ini.

Akhirnya, EA dan Respawn Umumkan Apex Legends Mobile

GAMEFINITY.ID, Purworejo – Nampaknya PUBG Mobile dan Free Fire akan punya pesaing baru. Setelah bulan lalu hadir di Nintendo Switch, kini EA dan Respawn mengumumkan Apex Legends Mobile lewat press release di websitenya.

Menurut Game Director Apex Legends, Chad Grenier, game ini dirancang khusus untuk layar sentuh dengan kontrol yang efisien dan telah dioptimisasi untuk layar smarthphone.

Screenshot Apex Legends Mobile

Grenier juga mengatakan bahwa Apex Legends Mobile dikerjakan oleh tim yang menangani Apex Legends versi PC dan konsol, dengan bantuan partner pihak lain.

Seperti versi PC dan konsol, game ini akan menjadi game free to play lengkap dengan Battle Pass dan item kosmetik. Dan yang paling penting, nantinya game ini juga tidak akan ada sistem pay to win.

Namun, Apex Legends Mobile ini tidak dibekali fitur cross-play dengan versi PC dan konsol karena memang sepenuhnya didesign hanya untuk smartphone.

Sampai saat ini belum ada informasi kapan game ini akan dirilis, namun Respawn mengatakan bahwa Apex Legends Mobile akan dimulai dengan closed beta test di India dan Filipina pada akhir bulan ini dan hanya di perangkat Android.

Setelah itu, secara bertahap versi beta akan diperluas ke perangkat iOS dan wilayah lain di seluruh dunia. Nantinya Respawn juga akan meluncurkan halaman untuk prapendaftaran game ini.

Ini merupakan kabar yang sangat menggembirakan bagi para mobile gamer setelah sebelumnya Apex Legends telah digembor-gemborkan akan hadir di perangkat mobile. Dengan ini akhirnya para mobile gamer bisa mencicipi game battle royale yang sudah ditunggu-tunggu ini.

Gimana, sudah tidak sabar mau main game yang satu ini?

Hadir di PC, Harga Days Gone versi Epic Games Jauh Lebih Murah dari Steam

GAMEFINITY.ID, Purworejo – Kejutan hadir dari Sony, setelah kemarin membawa game first party PlayStation seperti Horizon Zero Dawn ke PC, kini giliran Days Gone yang juga dipastikan akan hadir di PC. Hal ini menjadi angin segar pagi gamer PC yang sebelumnya tidak bisa memainkan game-game ekslusif PlayStation tersebut.

Game besutan Bend Studio ini rilis di PS4 pada tahun 2019 yang lalu, bergenre open-world post apocalypic. Pemain akan berperan sebagai Deacon St. John dengan motornya untuk bertahan dari serangan penduduk yang telah menjadi zombie.

Game ini akan hadir di PC melalui dua platform yaitu Epic Games dan Steam. Menariknya, harga dari kedua platform tersebut sangat berbeda jauh, dimana versi Steam dijual dengan harga 729 ribu sedangkan di Epic Games hanya 19 USD atau sekitar 275 ribu saja, kurang dari setengahnya.

Hal ini kemungkinan karena Sony baru saja menginvestasikan dana sebesar 200 juta USD ke pihak Epic Games, sehingga harganya bisa lebih murah.

Tidak hanya sekedar port saja, Days Gone versi PC akan mendapatkan dukungan ultra-wide monitor, unlock framerate dan grafis yang ditingkatkan dari versi PS4. Selain itu, fitur baru seperti New Game Plus, Survival Mode, Challenge Mode yang telah hadir di PS4 via update terbaru juga akan hadir di PC.

Days Gone akan hadir di PC pada 19 Mei nanti di Steam dan Epic Games Store, tepat sebulan dari sekarang.

Gimana nih para PC gamer, beli yang di Steam atau Epic Games?

Preview The Bonfire: Forsaken Lands

GAMEFINITY.ID, Denpasar – Akhir-akhir ini, game yang satu ini sering dijadidakan perbincangan dikarenakan developper dari game ini termasuk ramah terhadap warga Indonesia dan termasuk murah hati terhadap warga Indonesia, namun bagaimana kah dengan gamenya? inilah preview dari The Bonfire Forsaken Lands.

Impresi pertama penulis terhadap game ini adalah game ini cukup santai untuk dimainkan, artstyle dari game ini menganut ke arah “Minimalist Landscape” yang bertema musim salju. Artstyle dari game ini mengingatkan penulis ke game Alto’s Adventure dan artworks pertama kali penulis buat (psst, ada di Instagram penulis). Sejujurnya, itu bukan hal yang jelek menurut penulis.

Tadi sempat penulis katakan gameplay dari game ini termasuk cukup santai. Dikarenakan memang tidak terlalu banyak aksi didalam game ini dan tidak memerlukan banyak mikir dalam bermain game ini. Namun peru diingat, penulis baru saja bermain game ini beberapa jam saja, ada kemungkin pernyataan diatas akan berubah di saat review.

Jikalau kalian masuk ke dalam pengaturan game ini, di bagian pengaturan bahasa terdapat Bahasa Indonesia. Ada hal bagus dan tidaknya sebenarnya, hal bagusnya, ya menggunakan Bahasa Indonesia, tidaknya ya karena setidaknya ada penggunaan kata yang kurang tepat menurut penulis (akan dijelaskan di review).

Ketika penulis lihat di Playstore, game ini tidak termasuk ke dalam early access game. Perlu ditekankan disini, dikarenakan penulis menemukan beberapa bug yang cukup mengganggu disaat bermain game ini(akan diulas di artikel review).

Sepertinya untuk preview hanya itu yang bisa penulis sampaikan, tidak terlalu banyak memang, mengingat penulis baru saja bermain game ini dengan total gameplay kurang dari 5 jam. Oleh dikarena itu artikel ini dikatakan preview bukan review.