Category Archives: Game

Microsoft Buat Program Baru Supaya Game Bisa Lebih Diakses Penyandang Disabilitas

GAMEFINITY.ID, Jakarta – Microsoft memperluas upaya aksesibilitasnya dengan program baru untuk mengevaluasi game Xbox dan PC. Tim aksesibilitas game mengumumkan bahwa pengembang dapat mengirim game mereka untuk dievaluasi aksesibilitasnya dan diuji oleh pemain penyandang disabilitas.

“Pengembang sekarang memiliki opsi untuk mengirimkan judul Xbox atau PC mereka kepada Microsoft dan menganalisa serta memvalidasi terhadap rekomendasi yang diberikan di XAG,” kata Microsoft dikutip dari The Verge, Rabu (17/2/2021).

Program ini diumumkan bersamaan dengan pembaruan pada Pedoman Aksesibilitas Xbox yang dirilis pada awal 2020. Panduan Aksesibilitas Xbox mencakup penjelasan menyeluruh tentang pertimbangan desain inklusif untuk pengembang, dan sekarang diperbarui untuk menyertakan bahasa yang lebih jelas, konteks tambahan, dan contoh implementasi.

Laporan pengujian game akan menyertakan tanggapan dari pemain penyandang disabilitas, serta tautan ke informasi tentang desain inklusif, lembaga nonprofit yang relevan, dan pakar aksesibilitas.

Masalah apa pun yang ditemukan selama pengujian akan “dicatat dengan langkah-langkah reproduksi, tangkapan layar, dan informasi lain untuk membantu pengembang memahami aspek apa dari pengalaman tertentu yang mungkin menantang bagi gamer penyandang disabilitas tertentu,” menurut Microsoft.

Sekadar informasi, saat ini lebih banyak perusahaan telah berfokus pada aksesibilitas game dalam beberapa tahun terakhir. Seperti yang dilakukan Microsoft dengan Xbox Adaptive Controller, lalu juga Naughty Dog dengan game The Last of Us Part II. Program seperti ini berpotensi menghasilkan lebih banyak game dengan beragam opsi aksesibilitas.

Resident Evil Revelations 3 Outrage Bakal Eksklusif untuk Switch?

GAMEFINITY.ID, Jakarta – Capcom dikabarkan sedang menyiapkan game ketiga dalam seri Resident Evil Revelations. Menurut Dusk Golem melalui Twitter, game yang dijuluki Resident Evil Outrage ini akan menjadi rilis eksklusif berjangka waktu untuk platform Nintendo Switch.

Dusk Golem sebelumnya berhasil “membocorkan” secara akurat tentang Resident Evil 8 sebelum pengungkapan resminy. Resident Evil Outrage disebut akan menjadi bagian dari perayaan ulang tahun ke-25 Capcom, setahun setelah peluncuran Resident Evil Village tahun ini.

Seri Resident Evil Revelations menjadi spin off dari game-game utama Resident Evil (1-7) di mana Capcom menjelajahi akar horor dari franchise game surival horror itu. Hal ini berbeda dengan Resident Evil 5 dan 6, yang lebih menekankan pada aspek pertempuran dan dikritik telah melepaskan aspek horor, elemen terkuat dari franchise tersebut.

Dusk Golem juga mengatakan bahwa Resident Evil Outrage akan memiliki “anggaran yang lebih tinggi dan waktu pengembang yang lebih banyak” jika dibandingkan dengan Revelations 1 dan 2. Dusk Golem juga menyebut Rebecca Chambers, yang memulai debutnya di Resident Evil pertama, akan menjadi salah satu protagonis di Resident Evil Outrage. Dua karakter lainnya disebut akrab bagi penggemar serial ini.

Resident Evil Revelations dan Revelations 2 adalah game horor-sentris yang berfokus pada cerita sampingan dalam kanon Resident Evil. Revelations pertama kembali ke genre survival horror klaustrofobik, sedangkan Revelations kedua adalah game horor co-op dengan gameplay asimetris. Revelations 1 (2012) mengambil latar waktu setelah Resident Evil 4 dan sebelum Resident Evil 5, sedangkan Revelations 2 (2015) mengambil latar waktu antara RE5 dan RE6.

Sementara game besar berikutnya dalam franchise Resident Evil, Resident Evil Village (RE8) rencananya akan dirilis pada 8 Mei 2021.

Rawan Isu Politik, Game Bertema Perang Irak Six Days in Fallujah Siap Rilis 2021

GAMEFINITY.ID, Jakarta – Setelah bertahun-tahun tidak menjadi sorotan, game PC dan konsol yang telah lama dikembangkan, Six Days in Fallujah direncanakan bakal dirilis pada tahun ini. Game berlatar Perang Irak, tepatnya Pertempuran Kedua Fallujah yang terjadi pada tahun 2004 ini dianggap rawan penggiringan opini dan isu politik.

Publisher Six Days in Fallujah, Victure menegaskan pihaknya tidak berusaha membuat “komentar politik” terkait Perang Irak dengan game yang akan datang tersebut. Game ini sendiri memang menceritakan perspektif pasukan Amerika yang memerangi Pemberontak Irak, serta perspektif dari anggota penduduk sipil kota.

Gameplay dari game FPS ini akan berisi 90 persen action, dengan 10 persen lainnya menceritakan alur cerita paralel di mana pemain mengambil peran sebagai penduduk Irak tidak bersenjata, yang mencoba mengeluarkan keluarganya dari kota.

“Bagi kami sebagai tim, ini benar-benar tentang membantu pemain memahami kompleksitas pertempuran perkotaan,” klaim CEO Victure, Peter Tamte dalam wawancara dengan Polygon.

“Ini tentang pengalaman individu yang sekarang ada karena keputusan politik. Dan kami ingin menunjukkan bagaimana pilihan yang dibuat oleh pembuat kebijakan memengaruhi pilihan yang perlu dibuat (seorang Marinir) di medan perang.

“Sama seperti (Marinir) yang tidak bisa menebak-nebak pilihan para pembuat kebijakan, kami tidak mencoba membuat komentar politik tentang apakah perang itu sendiri adalah ide yang baik atau buruk.”

Lebih dari 100 marinir, tentara, dan warga sipil Irak yang hadir selama Pertempuran Fallujah Kedua dikatakan telah berbagi kisah pribadi, foto, dan rekaman video mereka dengan tim pengembangan game tersebut.

Sementara game ini akan menyajikan cerita-cerita melalui rekaman wawancara dokumenter asli, Tamte mengatakan Six Days in Fallujah tidak membawa cerita penggunaan fosfor putih dan uranium oleh pasukan AS.

“Ada hal-hal yang memecah belah kita, mengalihkan perhatian orang dari kisah-kisah manusia yang dapat kita identifikasi. Saya tidak ingin hal-hal yang sensasional mengalihkan perhatian dari bagian-bagian pengalaman itu.”

Six Days in Fallujah awalnya dijadwalkan untuk diterbitkan oleh Konami lebih dari satu dekade yang lalu, tetapi penerbit menarik diri pada tahun 2009 karena sifat tema yang kontroversial dari game tersebut. Perang Irak bagaimanapun juga selalu menuai kontroversi dan mengundang kritik, termasuk dari veteran militer dan kelompok anti-perang.

“Hampir semua kemarahan yang saya dengar berasal dari orang-orang yang tidak berada di Fallujah. Dari pengalaman dan percakapan yang telah saya lakukan selama lebih dari 15 tahun demgan orang-orang di proyek ini, hampir semua ingin tahu apa yang terjadi di Fallujah.”

 

Mihoyo Perbaiki Masalah Quest di Genshin Impact, Traveler Dapat Kompensasi Primogem

GAMEFINITY.ID, Jakarta – Mihoyo telah memperbaiki permasalahan terkait quest di Genshin Impact, Minggu (14/2/2021). Sebagai kompensasinya, Traveler bisa mengklaim primogem secara gratis. Sebelumnya, pada quest Dunia “The Illumiscreen: II”, beberapa Traveler mengalami kesulitan ketika menyelesaikannya.

Dalam laporannya, tim pengembang Genshin Impact melaporkan bahwa harta karun di Minlin dalam Quest Dunia “The Illumiscreen:II” tidak bisa digali. Minlin sendiri ialah wilayah di bagian barat Liyue, dimana quest tersebut berlangsung.

Akibat dari permasalahan tersebut, Traveler tidak bisa menyelesaikan quest tersebut dan mendapatkan reward. Kini, Mihoyo telah memperbaiki kendala tersebut. Dengan demikian, Traveler yang ingin menyelesaikan quest World “The Illumiscreen: II” sekarang sudah bisa bermain dengan normal kembali.

Sebagai kompensasi atas masalah tersebut, Mihoyo memberikan memberikan primogem yang dapat diklaim para Traveler. Syaratnya, Traveler harus sudah mencapai Rank Adventure Level 5 ke atas supaya dapat mengklaim 50x primogem.

Hadiah tersebut telah dikirimkan langsung lewat pesan in game Genshin Impact. Mihoyo mengingatkan hadiah tersebut harus segera diklaim sebelum 17 Februari 2021 pukul 14:45 Waktu Server. Lumayan, bisa buat gacha berikutnya!

Sang Sutradara Akui Final Fantasy 7 Remake Terinspirasi oleh Horizon

GAMEFINITY.ID, Jakarta – Co-director Final Fantasy 7 Remake, Naoki Hamaguchi mengakui bahwa dia sangat dipengaruhi oleh game dari Guerrilla Games, Horizon: Zero Dawn. Menyoroti dunia dan visual Zero Dawn sebagai elemen yang memengaruhinya sebagai pembuat konten, Hamaguchi mengatakan bahwa FF7 Remake diharapkan akan berkembang serupa dengan Forbidden West, game berikutnya yang akan dirilis Guerrilla.

“Horizon Zero Dawn, game pertama dari franchise tersebut, meninggalkan kesan yang sangat besar bagi saya sebagai pembuat game. Saya terpesona oleh pengalaman mendalam yang diberikan oleh grafik yang luar biasa serta dunia unik tempat saya berada, masa depan di mana peradaban telah runtuh.”

Seperti dikutip dari Blog PlayStation, Hamaguchi mengakui bahaw dirinya merupakan penggemar dari game Horizon, sembari berharap gamenya bisa sukses layaknya game action RPG milik Guerrilla Games itu.

“Saya memiliki ketertarikan pribadi pada Horizon. Sebagai penggemar, saya sangat menantikan Horizon: Forbidden West.”

Episode pertama Final Fantasy 7 Remake tahun 2020 memperkenalkan beberapa elemen non-linier ke gameplay-nya. Walau begitu game ini masih mencakup bagian Midgar pembuka dari game PlayStation klasik, sambil menjaga ketegangan naratif yang diingat penggemar dari aslinya.

“Struktur cerita Final Fantasy 7 yang asli dirancang agar cukup linier hingga pelarian dari Midgar, jadi kami selalu sadar akan risiko merusak rasa ketegangan dan ketegangan bawaan jika kami memperkenalkan lebih banyak keterbukaan tentang bagaimana itu dimainkan,” Hamaguchi menjelaskan dalam wawancara Games Radar tahun lalu.

Hamaguchi menyebut struktur Remake sengaja diputuskan untuk menarik pemain modern secara lebih luas. Hal ini demi menghindari linieritas dan tidak ada derajat kebaruan yang cenderung dipersepsikan secara negatif oleh pemain.

“Oleh karena itu, kami menerapkan beberapa kebebasan bergerak ke dalam skenario di lokasi pemukiman, sehingga pemain dapat menikmati konten sampingan dalam cerita pada poin-poin yang sesuai dengan narasi, tanpa risiko kehilangan rasa urgensi di bagian lain.”

Data Curian Cyberpunk dan Witcher Dilaporkan Terjual, Setelah Dilelang Senilai Rp9,7 Miliar

GAMEFINITY.ID, Jakarta – Data yang dicuri dari CD Projekt Red dalam serangan cyber dilaporkan telah terjual. Menurut vx-underground, data tersebut termasuk file source code untuk engine pengembangan game CD Projekt Red, RedEngine, game-game seperti The Witcher 3: Wild Hunt, versi yang akan datang dari The Witcher 3 (yang disebut akan memiliki fitur Ray Tracing, Thronebreaker: The Witcher Tales dan Cyberpunk 2077 yang baru-baru ini dirilis.

Seperti dilaporkan firma intelijen dunia maya Kela, data awalnya disiapkan untuk dilelang di dark web dengan harga mulai 1 juta USD (sekitar Rp14 miliar), hingga ditawar senilai 7 juta USD (sekitar Rp9,7 miliar). Tetapi pelelang menarik penawaran, setelah menerima tawaran yang “dianggap memuaskan” dari luar.

Serangan ransomware pada CD Projekt Red diduga dilakukan oleh sebuah kelompok bernama HelloKitty, yang dikatakan telah memposting souce code permainan kartu CD Projekt Red, Gwent secara online sebelum pelelangan.

CD Projekt Red pertama kali mengungkapkan pada hari Senin (8/2/2021) bahwa mereka telah menjadi korban serangan cyber yang ditargetkan. Dalam sebuah pernyataan, pengembang mengatakan beberapa sistem internalnya telah disusupi dan “data tertentu” dicuri.

Dalam catatan tebusan yang diterbitkan di samping pernyataan tersebut, pelaku mengklaim bahwa mereka telah mencuri kode sumber (source code) untuk game yang disebutkan di atas serta dokumen yang berkaitan dengan pembukuan perusahaan, hukum, SDM, dan lainnya. Jika CD Projekt Red tidak “mencapai kesepakatan” dengan pelaku dalam waktu 48 jam, mereka mengatakan akan menjual atau membocorkan konten tersebut.

CD Projekt Red mengatakan tidak akan memenuhi tuntutan tersebut dan akan berkoordinasi dengan otoritas terkait, termasuk penegak hukum dan spesialis forensik IT.

Perusahaan asal Polandia itu memang tengah dilanda prahara dalam beberapa bulan terakhir. Sebelumnya, saat rilis Cyberpunk 2077 pada Desember lalu, game yang begitu diantisipasi itu ternyata memiliki sejumlah masalah teknis dan bug, serta gagal perform saat dijalankan di konsol generasi terakhir.

Perusahaan sampai harus menawarkan pengembalian dana (refund) dan game Cyberpunk 2077 telah ditarik dari PlayStation Store. CDPR juga menghadapi tuntutan hukum class action yang diajukan oleh investor atas peluncuran bermasalah Cyberpunk 2077, yang mengklaim bahwa perusahaan telah menyesatkan dengan game tersebut.