BenQ, merek proyektor global terkemuka, hari ini meluncurkan X3000i yang menghadirkan kinerja audio-visual terbaik ke skala proyeksi yang besar. Adegan permainan dihadirkan dengan gamut warna yang luas, DCI-P3 100%, yang didukung oleh teknologi CinematicColor™ eksklusif BenQ dan dipasangkan dengan sistem suara treVolo serta input lag 4ms, memungkinkan gamer untuk bertualang dalam open-world game yang nyata secara langsung.
“Memimpin seri X dengan kombinasi gambar sinematik dan suara realistis yang belum pernah ada sebelumnya, bersama dengan kontrol bebas lag yang berasal dari response time 4ms pada refresh rate 240Hz,” kata Conway Lee, Presiden BenQ Corporation. “X3000i mengajak para gamer untuk menjelajahi alam semesta tanpa batas dan sepenuhnya mewujudkan potensi mereka.”
Untuk pengalaman gaming yang imersif, X3000i mengajak gamer ke dalam alur cerita melalui suguhan color balance otentik dengan 4K UHD asli, kecerahan visual 3000-lumen yang tinggi, kontras super tinggi pada skala 500.000:1 yang tajam dengan algoritma Dynamic Black, kesiapan 3D, dan HDR proyektor yang dioptimalkan dengan dukungan HDR10 / HLG memastikan kinerja visual yang siap untuk menghadapi masa depan, sedangkan sumber cahaya 4LED dengan kalibrasi warna otomatis menjamin kenikmatan bermain game selama bertahun-tahun.
Menambah pengalaman visual dengan audio yang ditingkatkan, X3000i sepenuhnya menyelimuti gamer melalui speaker stereo 5W x 2 yang disetel oleh audio treVolo dari BenQ dan ditingkatkan oleh Bongiovi DSP (Digital Signal Processor) dengan Dynamic Stereo Enhancement, menawarkan detail aural sehingga pengguna akan merasa berada di dalam dunia game, efek suara tiga dimensi. Audio dapat disalurkan ke sistem suara eksternal melalui HDMI eARC untuk pengalaman sinematik terbaik.
Rasakan interaksi yang nyata ketika memainkan Role-Playing Game (RPG), First Person Shooter (FPS), dan Sports Game (SPG) karena X3000i dilengkapi dengan preset Game Mode yang dirancang secara khusus. Kedalaman, kejelasan, definisi, dan kehadiran musik latar dengan bass mendalam, langkah kaki yang semakin mendekat serta suara vokal yang jernih disuguhkan secara terpisah, dengan warna sesungguhnya yang ingin ditampilkan oleh game yang dimainkan. Pengaturan yang dikalibrasi secara cermat ini juga berlaku pada model seperti TK700STi dan TK700 di TK serta Seri TH, melengkapi jajaran proyektor yang didedikasikan untuk bermain game.
Ditata dalam desain dinamis untuk melengkapi dekorasi gamer mana pun dan fleksibilitas setup melalui zoom 1,3x, 2D keystone, dan konektivitas AV canggih, sumber cahaya 4LED X3000i yang menampilkan warna-warna cerah serta kualitas permainan yang indah tanpa tambahan biaya penggantian lampu untuk lebih dari 30.000 jam atau 10+ tahun. Gamer konsol yang bermain selama berjam-jam dapat dengan tenang menjelajahi alur cerita dan menunjukkan kepada dunia mengenai apa yang mereka inginkan.
GAMEFINITY.ID Kutai Kartanegara – Konsol handheld besutan Nintendo, Nintendo Switch Lite, dilaporkan tidak akan mendukung tabletop mode untuk beberapa game dari konsol pendahulunya, Nintendo Switch. Dikutip dari laman web Nintendo Life, konsol ini juga dilaporkan tidak dapat digunakan untuk memainkan beberapa judul game Nintendo seperti Nintendo Switch Sports. Meski begitu, konsol ini masih mendukung untuk memainkan game dengan gyro aiming seperti Fortnite, Splatoon 2, hingga DOOM.
Rilis pertama kali pada September 2019, Nintendo Lite ditujukan untuk para gamer kasual yang memang ingin memainkan game untuk bersantai. Oleh karena itu, konsol tersebut hadir dengan tawaran harga yang lebih rendah daripada Nintendo Switch, dan menjadikannya sebagai konsol portable-only layaknya Nintendo 3DS.
Berbeda dengan konsol Switch standar dan OLED, kontroler di Switch Lite terpasang langsung ke bagian body. Jadi akan ada beberapa judul game yang mungkin memerlukan Joy-Con tambahan, untuk dapat memainkannya. Dan tidak hanya itu, Switch Lite juga sengaja dibuat dengan tanpa dukungan Docked Mode. Yang artinya, pemain tidak akan bisa menyambungkan konsol ini dengan layar tv seperti konsol Switch standar maupun OLED.
Switch Lite | Twitter: Akfamilyhome (@Akfamilyhome)
Tidak Dapat Memainkan Game Nintendo Switch Sports
Nintendo Switch Sports merupakan game keluarga terbaru dari Nintendo, yang resmi dirilis pada akhir April kemarin. Meski ditujukan untuk konsol Nintendo Switch, game ini tidak dapat dimainkan menggunakan konsol Switch Lite. Jika pemain menjalankan game tersebut dengan Switch Lite, pemain sistem akan langsung meminta pemain untuk menyambungkan konsol mereka ke layar televisi.
“Untuk orang-orang yang berencana menggunakan tabletop mode dengan Switch Sports atau menggunakannya di Switch Lite, game ini akan memaksa mode TV untuk multiplayer lokal” tulis akun Twitter Akfamilyhome (@Akfamilyhome).
Selain game Nintendo Switch Sports, berikut adalah daftar judul game yang juga tidak mendukung mode tabletop untuk konsol Switch Lite:
• 1-2-Switch • Just Dance • Super Mario Party • Fitness Boxing • Fitness Boxing 2: Rhythm & Exercise • Ring Fit Adventure • Nintendo Switch Sports • Nintendo Labo
Meski tidak mendukung mode tabletop, beberapa judul game di atas masih dapat dimainkan dalam mode multiplayer lokal, dengan menggunakan Joy-Con tambahan.
GAMEFINITY.ID, Kota Batu – PlayStation VITA atau lebih dikenal dengan nama PS VITA merupakan sebuah konsol handheld yang rilis sebagai penerus PSP di masa generasi kedelapan konsol game. Nama PS VITA mungkin masih berasa asing yang dibandingkan dengan nama PSP. Meskipun digadang-gadang dapat menjadi perubah pasar konsol handheld di eranya, namun nyatanya adalah kenyataan pahit yang diterima oleh Sony sendiri.
Dapat dikatakan, PS VITA merupakan salah satu kegagalan SONY yang berasal dari segi marketing yang dilakukannya. Keadaan PS VITA sendiri pada saat itu dapat dianalogikan seperti “ditusuk dari dalam dan luar di waktu yang bersamaan”.
Di generasi sebelumnya, PSP memiliki rival yang kuat yaitu NDS yang menjadi konsol handheld paling laris sepanjang sejarah. Kali ini, saingan PS VITA lebih kuat dan lebih ganas dengan potensi yang tidak terbatas, yaitu maraknya pasar mobile gaming serta hadirnya penerus NDS, yaitu 3DS, hingga di akhir masa produksinya, Nintendo Switch dirilis.
Suasana Presentasi PS VITA saat Masih Bernama NGP | Youtube
PS VITA History
Berawal dari rumor yang dikemukakan oleh Eurogamer di bulan Juli tahun 2009 yang berisi bahwa penerus dari PSP telah direncanakan oleh Sony, keberadaan PS VITA yang saat itu belum dinamai demikian sudah muncul di ranah publik. Pada saat itu juga, Eurogamer memberikan laporan terkait penerus dari PSP yang akan menggunakan processor PowerVR SGX543MP, sebuah processor yang juga digunakan dalam mesin Xbox.
Pertengahan tahun 2010, rumor kembali berkembang terkait penerus PSP yang sudah hadir saat rapat internal eksklusif Sony. Sesaat setelahnya, prototip dari PS VITA dikirimkan kepada para developer untuk dijadikan sebagai dasar pengembangan. Rumor tersebut semakin mencuat karena informasi tersebut dikonfirmasi oleh Shaun Himmerick, executive producer dari Mortal Kombat dan Patrick Soderlund, vice president dari Electronic Arts.
Sony pada akhirnya mengumumkan keberadaan konsol handheld penerus PSP yang pada saat itu diberi nama “Next Generation Portable” atau disingkat NGP. Mereka mengklaim bahwa grafis yang ditawarkan oleh NGP ini akan hampir setara dengan PS3. Mereka juga mengumumkan bahwa NGP akan hadir dengan touchscreen agar para gamer mobile lebih terbiasa dengan kontrolnya, layar yang sudah menggunakan OLED, serta kembalinya sistem kartrid memori.
Di event E3 2011, 6 Juni 2011, Sony baru mengumumkan nama resmi dari NGP, yaitu PS VITA yang berasal dari bahasa latin yang berarti kehidupan. Jadwal rilis PS VITA mengalami pengunduran dikarenakan gempa dan tsunami yang melanda Jepang di tahun 2011. Meski begitu, Sony tetap menjanjikan bahwa perilisan PS VITA di Jepang akan hadir di akhir 2011 dan mulai dari awal 2012 untuk seluruh dunia.
Tanggal rilis resmi pada akhirnya diumumkan oleh Sony dan akan jatuh pada tanggal 17 Desember 2011 untuk kawasan Jepang dan 22 Februari 2022 untuk kawasan Amerika Serikat dan Eropa. Beberapa edisi terbatas dari PS VITA bahkan sudah hadir pada 15 Desember 2012, seminggu sebelum tanggal rilis resmi. Edisi terbatas tersebut merupakan bundle dari game Little Deviant beserta carry case edisi terbatas serta kartrid memori 4GB.
Penjualan PS VITA di Jepang berawal dari 300.000 unit terjual di minggu pertama, lalu turun drastis di angka 50.000 di minggu kedua, dan stabil di angka 12.000 unit terjual setiap minggu setelahnya. Hal yang sama juga terjadi di kawasan AS dimana PS VITA dapat terjual 200.000 unit di bulan pertama lalu turun drastis menjadi 50.000 unit terjual di bulan kedua.
Harga PS VITA sendiri saat perilisannya adalah $249 untuk versi Wi-fi only, dan $299 untuk versi 3G + Wifi. Namun, harga tersebut hanya bertahan satu tahun mengingat pasar yang tidak mendukung PS VITA. Harga tersebut turun menjadi $199 pada Agustus 2013.
Kondisi Pasar yang Tidak Mendukung
Keberadaan PS VITA sendiri pada saat perilisannya tidak mengarah untuk mendukung konsol tersebut. Meskipun memiliki mesin dengan performa unggulan dan kuat, PS VITA sendiri harus menghadapi gempuran dari rivalnya, 3DS yang membawa nama baik NDS sebagai konsol yang “lebih ramah” dimainkan oleh berbagai usia.
Hal ini diperburuk dengan muncul dan menguatnya pasar mobile gaming yang memiliki kemudahan akses lebih baik dan lebih multifungsi dari konsol handheld. Hal ini juga diakui oleh seorang mantan petinggi Sony, bahwa pasar PS VITA dihancurkan oleh keberadaan mobile gaming yang membuat keberadaan dari konsol handheld semakin menghilang.
Sony sendiri dapat dikatakan juga melakukan blunder yang parah dalam pembagian pasar konsol mereka dan PS VITA menjadi korban dari blunder tersebut. PS4 konsol generasi kedelapan milik Sony nantinya hadir dan akan jauh lebih sukses dari PS VITA. Meskipun memiliki perbedaan pasar, namun keberadaan PS4 membuat Sony banting setir dalam memberikan alasan hadirnya PS VITA.
Saat perilisan sendiri PS VITA ditujukan menjadi sebuah konsol handheld yang meneruskan PSP di pasarnya. Namun, saat PS4 rilis keberadaan PS VITA berubah menjadi sebuah alat pendukung dari PS4 dengan kemampuan remote play miliknya. Hadirnya PS VITA TV, sebuah alat agar PS VITA dapat dimainkan dengan layar TV, menjadi puncak dari ketidakjelasan Sony dalam membagi pasar PS VITA.
Game Terlalu Bagus yang Menjadi “Senjata Makan Tuan”
Saat perilisannya, PS VITA menjadi salah satu game yang menjanjikan dengan kapabilitasnya untuk mendukung grafis yang lebih baik dari konsol handheld lainnya. Nyatanya, hal ini adalah sebuah “senjata makan tuan” yang berikan mirisnya oleh Sony sendiri.
Membuat sebuah game dengan kualitas AAA yang mendukung grafis paling tinggi di PS VITA bukan sebuah hal yang murah. Para pengembang besar seperti enggan untuk bertaruh uang yang besar dengan game andalan mereka dalam konsol handheld seperti ini. Karena sejatinya, dari zaman pendahulunya di pasar konsol handheld, game handheld sendiri merupakan versi “lebih murah” dari game aslinya. Hal ini terbukti dengan lebih banyaknya game kualitas AA yang hadir pada konsol ini.
Banyaknya developer besar yang keluar dari persaingan PS VITA dan lebih memilih untuk bersaing dengan konsol seperti PS4 milik Sony, membuat PS VITA sendiri kekurangan game dengan nama tenar. Hal tersebut juga menjadi salah satu pendukung gagalnya penjualan PS VITA sendiri.
Di daerah luar Jepang, keberadaan game yang ada pada PS VITA sendiri sangat bergantung dari developerindie yang memiliki budget terbatas. Game seperti Hotline Miami mencapai kesuksesan pada pasar game PS VITA. Seperti memperburuk keadaan, game seri Monster Hunter yang terkenal di PSP, pada saat itu mengeluarkan serial terbarunya di konsol rival PS VITA yaitu Nintendo 3DS secara eksklusif.
Berbeda dengan keadaan di luar, keberadaan PS VITA di Jepang sendiri masih dapat diangkat karena developer game besar asal Jepang seperti Bandai Namco, Falcom, dan Koei Tecmo masih mendukung game di konsol ini. Game seperti Persona 4 Golden, Atelier series, dan Danganronpa telah menyelamatkan kondisi pasar PS VITA di Jepang. Bahkan, keberadaan game tersebut juga “sedikit” melegakan bagi pasar game PS VITA di luar Jepang setelah versi globalnya muncul.
Dukungan Sony untuk PS VITA berakhir pada tahun 2019 untuk global dan tahun 2020 untuk regional Jepang. Pada akhirnya, PS VITA sendiri harus mengakui superioritas dari perkembangan mobile gaming yang menawarkan game dengan kualitas setara yang dibanderol dengan harga lebih rendah. Rilisnya Nintendo Switch juga menjadi salah satu alasan mengapa Sony harus segera menutup dukungan untuk PS VITA.
SCH-2000 merupakan sebuah tipe lainnya dari SCH-1000 yang merupakan PS VITA dari awal perilisannya. SCH-2000 memiliki ukuran dan berat lebih kecil dibanding versi sebelumnya serta layar yang kembali menggunakan LCD. Keberadaan SCH-2000 sendiri sama sekali tidak membantu menaikkan penjualan PS VITA.
Pada tahun 2021, Christian Phillips, seorang mantan senior director Sony, mengakui bahwa mereka terlalu meremehkan keberadaan pasar mobile gaming. Mereka sudah diperingatkan oleh ahli teknologi yang bekerja di Sony bahwa potensi smartphone yang menjadi platform mobile gaming dapat mengungguli kekuatan komputasi konsol di tahun 2010-2011. Namun, mereka tetap merilisnya saat pasar mobile gaming sedang ada dalam masa berkembang pesatnya dan berakhir dengan keagagalan. Total hanya 10-15 juta unit terjual, jauh lebih kecil dari angka penjualan PSP.
Kesimpulan
PS VITA merupakan usaha Sony untuk melanjutkan tradisi PSP sebagai konsol handheld yang mampu bersaing di pasar. Hal tersebut berakhir tragis meskipun PS VITA sendiri memiliki mesin konsol handheld yang jauh mengungguli kompetitornya. Hal ini diperparah dengan kondisi pasar yang lebih mengarah ke pasar mobile gaming.
Kurangnya dukungan dari pengembang eksternal dan internal, adalah hal yang memperparah kondisi pasar PS VITA. Ditambah lagi Sony menerapkan kebijakan usaha yang malah memperburuk kondisi dari pemasaran PS VITA.
Dapat disimpulkan, bahwa PS VITA merupakan “Kegagalan yang Menawan”. Kegagalan Sony dalam memasarkan konsol ini yang dibarengi dengan spesifikasi menawan nan gahar yang berhasil diciptakan oleh Sony sendiri.
GAMEFINITY.ID, Kota Batu – Qualcomm, sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang chipset, baru-baru ini mengumumkan bahwa ARM Chipset terbaru mereka yang dikembangkan bersama Nuvia akan hadir pada 2023.
Pada acara “earnings call” milik perusahaan Qualcomm, Christian Amon mengumumkan progress yang telah dicapai oleh tim Nuvia dalam pengembangan Arm processor milik mereka. Ia memprediksi bahwa laptop yang ditenagai dengan Qualcomm Nuvia akan hadir di pasar pada akhir 2023.
Logo Perusahaan Qualcomm dan Nuvia | Linux Adictos
Saat diwawancarai, Amon mengatakan bahwa ia puas dengan hasil dari Windows 11 yang ditenagai oleh Snapdragon 8CX Generation 3 terbaru milik mereka. Amon menambahkan jawabannya bahwa pengembangan Nuvia masih akan terus berlanjut.
Pada presentasi Qualcomm yang diberikan untuk para investor pada November tahun lalu. Qualcomm berencana untuk melakukan sampling bersama partner mereka di bulan Agustus 2022. ARM Chipset Qualcomm Nuvia sendiri direncanakan rilis pada tahun 2023 yang waktunya spesifiknya saat presentasi tersebut masih belum ditentukan.
Hal ini menimbulkan spekulasi bahwa jadwal rilis dari Qualcomm Nuvia pada akhir tahun 2023 merupakan pengunduran dari jadwal semestinya. Namun, hal tersebut dibantah oleh CEO Qualcomm. Ia mengatakan bahwa jadwal perilisan Qualcomm Nuvia sudah ditentukan dari awal memang akan rilis pada 2023 dan diperjelas lagi lebih detail pada akhir 2023.
Membahas tentang Nuvia, sebuah perusahaan yang baru saja dibeli Qualcomm. Nuvia merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang pengembangan processor.
Diakuisisi oleh Qualcomm, Nuvia sendiri diharapkan mampu menghasilkan processor yang dapat menyaingi processor M-series milik Apple yang menjadi processor terbaik dan paling efisien saat ini.
Nuvia mempunyai founder seorang mantan karyawan Apple yang telah mengembangkan chipset A-series yang hingga saat ini digunakan pada seri Iphone seperti Iphone 13 yang menggunakan Apple Bionic A15.
Potensi dari chipset ciptaan Nuvia sendiri juga bukanlah omongan belaka. Nuvia Orion, sebuah SoC pertama buatan Nuvia yang terbuat dari Phoenix core milik mereka yang berdasar pada Armv9 architecture. Mereka mendemonstrasikan dan membandingkan kekuatan Phoenix Core mereka dengan Sunny Cove dan Skylake milik Intel, Zen2 milik AMD, serta A77 Core milik Arm yang dites pada Geekbench 5.
Hasilnya, Phoenix Core milik Nuvia dapat setidaknya 50% performa optimum dari Zen2 milik AMD dan Sunny Cove milik Intel. Namun, Nuvia tidak pernah mengumumkan Phoenix Core dan Orion milik mereka sehingga tidak ada yang tahu tentang kesiapannya.
GAMEFINITY.ID, BANDUNG – Lenovo akhirnya resmi merilis dua laptop terbarunya dari seri Legion, yaitu Legion 5i dan Legion 5i Pro. Kedua laptop ini cocok bagi penggunanya yang ingin melakukan gaming dan multitasking secara nyaman tanpa hambatan.
Pihak Lenovo sendiri menyatakan melalui press release bahwa tersedianya dua produk ini merupakan bentuk komitmen perusahaan untuk menghadirkan “smarter technology for all” di Indonesia. Kedua laptop ini juga diharapkan dapat diandalkan gamer dan content creator sekaligus untuk memenuhi produktivitasnya.
Spesifikasi Lenovo Legion 5i Pro
Lenovo Legion 5i Pro
Lenovo Legion 5i Pro hadir dengan sistem operasi Windows 11, prosesor terbaru Intel Core i7-12900H dan dukungan GPU Nvidia GeForce RTX 3070 Ti. Laptop ini juga memiliki sistem pendingin Legion Coldfront 4.0 agar pengguna dapat bermain tanpa perlu khawatir cepat panas. Speaker yang berteknologi Nahimic Audio dan 10-band equalizer juga dapat memberi efek suara mengagumkan berkelas profesional.
Tidak sampai situ, Legion 5i Pro juga mengusung layar 16 inci dengan resolusi WQHD Plus dan refresh rate 165Hz. Laptop ini juga dilengkapi akurasi warna 100 persen sRGB dan X-Rite Pantone serta TÜV Rheinland High Gaming Performance yang dapat mengurangi efek negatif pancaran sinar biru,
Legion 5i Pro memiliki kapasitas storage SSD PCIe 512GB dan memori RAM 2 x 8 GB, cocok untuk menampung koleksi game kelas AAA. Terakhir, konektivitas Wi-Fi 6 yang dibawa ini memicu konektivitas internet super cepat agar lancar dalam bermain game.
Spesifikasi Lenovo Legion 5i
Lenovo Legion 5i
Lenovo Legion 5i sebenarnya memiliki spesifikasi hampir serupa dengan Legion 5i Pro. Hal yang menjadi pembedanya adalah CPU dan layar. Legion 5i mengusung layar 15,6 inci dan processor Intel Core i7-12700H.
Berapa Harganya?
Kedua laptop terbaru buatan Lenovo ini dibanderol dengan harga yang berbeda tentunya. Legion 5i dibanderol senilai Rp 20.999.000, sementara Legion 5i Pro dibanderol senilai Rp 29.999.000.
Pembeli kedua laptop ini juga akan mendapat Microsoft Office Home & Student 2019 dan garansi Legion Ultimate Support dan Accidental Damage Protection selama tiga tahun.
Apakah pemain siap untuk membeli laptop terbaru dari Lenovo ini? Untuk berita tentang teknologi dan gadget gaming terbaru, jangan lupa untuk selalu update di Gamefinity. Jangan lupa juga top up buat game kesayangan kalian dapat dilakukan di gamefinity.id
GAMEFINITY.ID – Jakarta, Pada 22 Maret 2022 ASUS, perusahaan IT terkemuka dalam sistem server, motherboard server, dan workstation, hari ini mengumumkan bahwa server GPU ASUS ESC80000A-E11 dan ESC4000A-E11 akan mendukung akselerator AMD Instinct™ MI210 terbaru dan power discoveries dalam komputasi exascale, memungkinkan para ilmuwan untuk mengatasi masalah terbesar umat manusia tantangan yang mendesak – dari perubahan iklim hingga penelitian vaksin.
Memanfaatkan prosesor AMD EPYC™ Generasi ke-3 terbaru dan kartu akselerator AMD Instinct MI210 (PCIe®), server ESC8000A-E11 dan ESC4000A-E11 dapat memanfaatkan paket lengkap teknologi server AMD untuk menghadirkan performa terbaik untuk AI dan simulasi beban kerja dari edge ke pusat data dan cloud.
Desain server GPU ASUS yang canggih memberikan keunggulan kompetitif
ESC8000A-E11 dalam sasis 4U adalah server soket ganda berdasarkan prosesor AMD EPYC Generasi ke-3 terbaru dan mendukung hingga delapan akselerator AMD Instinct MI210, menjadikannya ideal untuk mengoptimalkan pelatihan AI, analitik, dan beban kerja pembelajaran mesin. Selain itu, desain termal dan pendinginan canggih, yang mencakup terowongan aliran udara independen untuk CPU dan GPU, memungkinkan pembuangan panas yang sangat efisien. Fitur terdepan di pasar mencakup dukungan hingga empat power supply redundan 3000 W 80 PLUS® Titanium. Konfigurasi ini memberikan efisiensi hingga 96%, dan memastikan daya disuplai ke sistem secara merata dari semua PSU – memaksimalkan efisiensi dan memastikan operasi tanpa gangguan.
“ASUS memiliki sejarah panjang dalam menggabungkan teknologi baru dengan AMD untuk memberdayakan solusi server yang dioptimalkan aplikasi untuk beban kerja yang berbeda. Desain server GPU kami yang inovatif memberikan keunggulan kompetitif di pasar, memberikan pelanggan kami kemampuan untuk memecahkan tantangan kompleks lebih cepat dari sebelumnya,” kata Robert Chin, General Manager of ASUS Server and Workstation Business Unit. “Kami akan terus menghadirkan lebih banyak server yang terintegrasi dengan inovasi canggih AMD untuk membantu mempercepat perkembangan di HPC dan AI.”
ASUS juga menawarkan ESC4000A-E11 dalam sasis 2U, server soket tunggal yang cocok untuk menerapkan kluster pelatihan AI modern dalam skala besar dengan dukungan hingga empat akselerator AMD Instinct MI210. Desainnya yang fleksibel memungkinkan ekspansi grafis, jaringan dan penyimpanan, serta peningkatan perangkat keras, termasuk kemampuan hingga sebelas slot PCIe 4.0 untuk aplikasi yang beragam, dan desain panel depan akses mudah yang menampilkan empat drive SSD NVMe dan pilihan OCP opsional. 3.0, adaptor ASUS Hyper M.2 atau kartu HBA/RAID melalui slot PCIe 4.0.
Inovasi AMD menghadirkan kepemimpinan kinerja
Akselerator AMD Instinct MI210 dibuat untuk mempercepat pelatihan pembelajaran mendalam, menyediakan berbagai kemampuan presisi campuran yang diperluas berdasarkan teknologi AMD Matrix Core, dan memberikan kinerja FP16 dan BF16 teoritis puncak 181 teraflops yang luar biasa untuk menghadirkan platform yang kuat bagi pengguna memicu konvergensi HPC dan AI.
Dengan kemampuan Matrix Core presisi ganda (FP64) baru yang inovatif, bersama dengan Arsitektur Infinity AMD Generasi ke-3, AMD memberikan peningkatan kinerja, efisiensi, dan throughput sistem secara keseluruhan untuk HPC dan AI – semuanya didukung oleh CPU AMD EPYC dan AMD Instinct MI200 terbaru. -seri akselerator
Tentang ASUS
ASUS adalah pemimpin teknologi global yang menyediakan perangkat, komponen, dan solusi paling inovatif dan intuitif di dunia untuk menghadirkan pengalaman luar biasa, yang akan meningkatkan standard kehidupan setiap orang dimanapun dia berada. Dengan tim yang terdiri dari 5.000 ahli R&D internal, ASUS terkenal di dunia karena terus-menerus menata ulang teknologi hari ini untuk masa depan, mengumpulkan lebih dari 11 penghargaan setiap hari untuk kualitas, inovasi, dan desain, serta termasuk dalam Fortune’s World’s Most Admired Companies.