All posts by Dimas Galih Putrawan

A writer, gamer, content creator. My Gaming Account: Steam: dimaspettigrew Epic Games Store: PTGRW Xbox: PTGRW

The Game Awards 2022, God of War: Ragnarok Mendominasi

GAMEFINITY.ID, Bandung – The Game Awards 2022 hanya tinggal kurang lebih sebulan dan setiap nominasinya baru saja diumumkan. Sesuai prediksi, God of War: Ragnarok mendominasi daftar nominasi. Saingan ketatnya adalah Elden Ring dan Horizon: Forbidden West yang mendapat cukup banyak nominasi.

God of War: Ragnarok Memimpin Nominasi

God of War Ragnarok The Game Awards 2022
God of War: Ragnarok memimpin dengan 10 nominasi

Geoff Keighley mengumumkan nominasi The Game Awards 2022 melalui live stream pada 14 November 2022. God of War: Ragnarok menyabet 10 nominasi termasuk kategori Game of the Year, Best Game Direction, Best Narrative, dan Best Action/Adventure. Meski baru rilis 9 November 2022, nyatanya animo kritikus dan pemain berhasil membuat God of War: Ragnarok mendominasi daftar nominasi.

Baca juga: God of War: Ragnarok Cetak Rekor Penjualan Franchise di Inggris

Elden Ring The Game Awards 2022
Elden Ring jadi saingan ketat God of War: Ragnarok di The Game Awards 2022, termasuk kategori Game of the Year

Saingan God of War: Ragnarok di antaranya Elden Ring dan Horizon: Forbidden West yang mendapat 7 nominasi. Elden Ring menjadi satu lagi game yang digadang-gadang merebut Game of the Year. Game besutan FromSoftware itu juga mendapat nominasi di kategori Best Game Direction, Best Narrative, dan Best RPG.

Xenoblade Chronicles 3 The Game Awards 2022
Mengejutkan! Xenoblade Chronicles 3 juga dapat nominasi Game of the Year

Ketiga game tersebut harus bersaing dengan A Plague Tale: Requiem, Stray, dan Xenoblade Chronicles 3 dalam memperebutkan penghargaan Game of the Year. Hadirnya Xenoblade Chronicles 3 di kategori Game of the Year ikut mengejutkan pemain. Pasalnya, mereka memperkirakan game RPG besutan Nintendo itu akan mendapat snub.

Penentuan Pemenang di The Game Awards 2022

Deretan nominasi di The Game Awards 2022 telah ditentukan oleh dewan juri yang berisi 100 platform media global. Penentuan pemenang dari setiap kategori akan ditentukan oleh 90 persen dukungan dewan juri dan 10 persen dukungan publik.

Pemain dapat mendukung game favoritnya di situs resmi The Game Awards atau di server Discord-nya. Laman voting akan ditutup 7 Desember 2022 pada pukul 18.00 waktu Pasifik.

Daftar Nominasi The Game Awards 2022

Kategori Game

Game of the Year

  • A Plague Tale: Requiem
  • Elden Ring
  • God of War: Ragnarok
  • Horizon: Forbidden West
  • Stray
  • Xenoblade Chronicles 3

Best Game Direction

  • Elden Ring
  • God of War: Ragnarok
  • Horizon: Forbidden West
  • Immortality
  • Stray

Best Narrative

  • A Plague Tale: Requiem
  • Elden Ring
  • God of War: Ragnarok
  • Horizon: Forbidden West
  • Immortality

Best Art Direction

  • Elden Ring
  • God of War: Ragnarok
  • Horizon: Forbidden West
  • Scorn
  • Stray

Best Score and Music

  • A Plague Tale: Requiem – Olivier Deriviere
  • Elden Ring – Tsukasa Saitoh
  • God of War: Ragnarok – Bear McCreary
  • Metal: Hellsinger – Two Feathers
  • Xenoblade Chronicles 3 – Yasunori Mitsuda

Best Audio Design

  • Call of Duty: Modern Warfare II
  • Elden Ring
  • God of War: Ragnarok
  • Gran Turismo 7
  • Horizon: Forbidden West

Best Performance

  • Ashly Burch – Horizon: Forbidden West
  • Charlotte McBurney – A Plague Tale: Requiem
  • Christopher Judge – God of War: Ragnarok
  • Manon Gage – Immortality
  • Sunny Suljic – God of War: Ragnarok

Games for Impact

  • A Memoir Blue
  • As Dusk Falls
  • Citizen Sleeper
  • Endlling: Extinction is Forever
  • Hindsight
  • I Waas a Teenage Exocolonist

Best Ongoing

  • Apex Legends
  • Destiny 2
  • Final Fantasy XIV
  • Fortnite
  • Genshin Impact

Best Indie

  • Cult of the Lamp
  • Neon White
  • Sifu
  • Stray
  • Tunic

Best Mobile Game

  • Apex Legends Mobile
  • Diablo Immortal
  • Genshin Impact
  • Marvel Snap
  • Tower of Fantasy

Best Community Support (disponsori Discord)

  • Apex Legends
  • Destiny 2
  • Final Fantasy XIV
  • Fortnite
  • No Man’s Sky

Innovation in Accessibility

  • As Dusk Falls
  • God of War: Ragnarok
  • Return to Monkey Island
  • The Last of Us Part I
  • The Quarry

Best VR/AR

  • After the Fall
  • Among Us VR
  • Bonelab
  • Moss: Book II
  • Red Matter 2

Best Action Game

  • Bayonetta
  • Call of Duty: Modern Warfare II
  • Neon White
  • Sifu
  • Teenage Mutant Ninja Turtles: Shredder’s Revenge

Best Action/Adventure Game

  • A Plague Tale; Requiem
  • God of War: Ragnarok
  • Horizon: Forbidden West
  • Stray
  • Tunic

Best Role Playing Game

  • Elden Ring
  • Live a Live
  • Pokemon Legends: Arceus
  • Triangle Strategy
  • Xenoblade Chronicles 3

Best Fighting Game

  • DNF Duel
  • Jojo’s Bizarr Adventure: All Star Battle R
  • The King of Fighters XV
  • MultiVersus
  • Sifu

Best Family Game

  • Kirbu and the Forgotten Land
  • Lego Star Wars: The Skywalker Saga
  • Mario + Rabbids: Sparks of Hope
  • Nintendo Switch Sports
  • Splatoon 3

Best Sim/Strategy Game

  • Dune: Spice Wars
  • Mario + Rabbids: Spark of Hope
  • Total War: Warhammer III
  • Two Point Campus
  • Victoria 3

Best Sports/Racing

  • F1 22
  • FIFA 23
  • NBA 2K23
  • Gran Turismo 7
  • Olliolli World

Best Multiplayer

  • Call of Duty: Modern Warfare II
  • MultiVersus
  • Overwatch 2
  • Splatoon 3
  • Teenage Mutant Ninja Turtles: Shredder’s Revenge

Best Debut Indie

  • Neon White
  • Norco
  • Stray
  • Tunic
  • Vampire Survivors

Best Adaptation

  • Arcane: League of Legends (Netflix)
  • Cyberpunk: Edgerunners (Netflix)
  • The Cuphead Show! (Netflix)
  • Sonic the Hedgehog 2 (Paramount Pictures)
  • Uncharted (Sony Pictures)

Most Anticipated Game

  • Final Fantasy XVI
  • Hogwarts Legacy
  • Resident Evil 4
  • Starfield
  • The Legend of Zelda: Tears of the Kingdom

Kategori eSports dan Content Creator

Best eSports Game

  • Counter-Strike: Global Offensive
  • Dota 2
  • League of Legends
  • Rocket League
  • Valorant

Best eSports Athlete

  • Chovy (Gen.G)
  • Faker (T1)
  • karrigan (Faze Clan)
  • s1mple (Natus Vincere)
  • yay (Cloud9)

Best eSports Team

  • Darkzero eSports (Apex Legends)
  • Faze Clan (CS:GO)
  • G (League of Legends)
  • LA Thieves (Call of Duty)
  • Loud (Valorant)

Best eSports Coach

  • B1ad3 (Natus Vincere)
  • BZKA (Loud)
  • D00mbr0s (FPX)
  • RobbaN (Faze Clan)
  • Score (Gen.G)

Best eSports Event

  • EVO 2022
  • 2022 League of Legends World Championship
  • PGL Major Antwerp 2022
  • The 2022 Mid-Season Invitational
  • Valorant Champions 2022

Content Creator of the Year

  • Karl Jacobs
  • Ludwig
  • Nibellion
  • Nobru
  • QTCinderella

The Game Awards 2022 akan di-live stream 8 Desember 2022 di YouTube, Twitch, Facebook, Twitter, dan TikTok Live. Tidak hanya itu, acara itu juga akan menghadirkan lebih dari 50 pengumuman game yang akan datang.

Alasan Game Tie-In Film Jarang Dibuat Akhir-Akhir Ini

GAMEFINITY.ID, Bandung – Judul game yang berkaitan dengan film biasanya lazim ditemukan pada era 1990-an dan 2000-an. Sering sekali pemain tertarik memainkannya karena sudah familiar. Pengembang game memanfaatkan tren game tie-in film untuk mengumpulkan pundi uang.

Saat ini, tren game tie-in film sudah hampir tidak bisa ditemukan. Tidak mengherankan ini menunjukkan bahwa industri game semakin berkembang dan harus berubah. Ini menjadi pemicu game jenis tersebut sudah meredup trennya. Berikut alasan game tie-in film jarang dibuat akhir-akhir ini.

Ada Deadline Ketat untuk Menyelesaikan Game Tie-In Film

Untuk membuat game tie-in film, pihak pengembang harus melakukan kesepakatan dengan pihak studio film. Lalu studio film memberi waktu relatif singkat pada pihak pengembang untuk menyelesaikan game tersebut. Alasannya untuk meraup keuntungan selagi film itu sedang tren.

Deadline ketat seperti ini memicu pengembang harus terburu-buru menyelesaikan game tie-in film itu. Alhasil, saat perilisan, kualitasnya sering sekali tidak memuaskan. Tidak jarang game jenis tersebut berakhir mendapat ulasan buruk dari kritikus.

E.T. game tie-in film
E.T. The Extra-Terrestrial jadi salah satu game terburuk sepanjang masa

Contoh paling terkenalnya adalah E.T. The Extra-Terrestrial oleh Atari pada 1982. Produser Howard Scott Warshaw mengungkap pada BBC bahwa ia hanya diberi waktu lima minggu untuk menyelesaikan game tersebut. Alhasil, judul tersebut menjadi game terburuk sepanjang sejarah. Buruknya game E.T. The Extra-Terrestrial turut memicu video game crash pada 1983.

Kurangnya Kebebasan selama Pembuatan Game Tie-In Film

Deadline ketat dari studio film ikut memicu keterbatasan kreativitas dalam membuat game. Biasanya, game tie-in itu harus memiliki cerita yang kurang lebih sama dengan filmnya. Ibaratnya game tersebut merupakan retelling cerita filmnya.

Saat tren ini meledak pada 1990-an, mayoritas game tie-in film bergenre side-scrolling platformer. Contohnya dapat terlihat dari game besutan Disney Interactive seperti The Lion King, The Little Mermaid II, dan Hercules. Pada awal 2000-an, tren ini semakin meledak, namun tidak dapat terbantahkan kurangnya inovasi memicu kritikan buruk.

GoldenEye game tie-in film
GoldenEye 007 dianggap merevolusioner genre FPS di konsol

Meski begitu, Goldeneye 64 oleh Rare justru dianggap merevolusioner genre FPS di konsol dan mendapat berbagai pujian dari kritikus. Game yang menjadi tie-in film James Bond itu menjadi inspirasi game FPS Call of Duty dan Halo.

Spider-Man 2 Activision game tie-in film
Spider-Man 2 besutan Activision turut menjadi salah satu game superhero terbaik sepanjang masa

Satu lagi pengecualian dapat terlihat dari Spider-Man 2 oleh Activision. Game yang rilis 2004 menjadi game superhero pertama yang memakai desain open world. Spider-Man 2 (2004) telah dianggap menjadi salah satu game superhero terbaik sepanjang masa meski berdasarkan film.

Biaya Produksi Game Bisa Melampaui Produksi Film

Semakin berkembangnya industri game, semakin mahal pula biaya produksinya. Bahkan uang yang dikucurkan pengembang game untuk membuatnya dapat melampaui biaya produksi film.

Terlebih, jika sebuah game gagal secara finansial, pihak pengembang akan mengalami kerugian. Mengingat industri game semakin berkembang, begitu juga dengan penikmatnya. Turunnya penikmat game tie-in film turut berkontribusi kerugian yang didapat pihak pengembang.

Baca juga: Alasan Anime Jepang Turn-Based Banyak Diadaptasi Jadi Game

Pengembang Memilih Mendapat Lisensi IP untuk membuat Game

Pada 2009, Batman: Arkham Asylum sukses besar di pasaran dan menjadi salah satu game terbaik sepanjang masa. Batman: Arkham Asylum menjadi bukti bahwa game yang hanya berdasarkan IP tanpa tie-in film dapat sukses besar. Berkat kesuksesan tersebut, pengembang mulai berpindah haluan. Alih-alih membuat game adaptasi dari film, mereka memilih mendapat lisensi IP untuk membuat cerita tersendiri.

Spider-Man yang dirilis 2018 menjadi satu lagi contoh sukses. Game besutan Insomniac dan PlayStation itu memiliki cerita original dan mengambil inspirasi dari game Spider-Man sebelumnya.

Sementara itu, Crystal Dynamics membuat game The Avengers yang sama sekali tidak berkaitan dengan filmnya. Begitu juga dengan Eidos-Montreal yang membuat game Guardians of the Galaxy. Namun, kedua game itu tidak mampu mencapai kesuksesan masif seperti Batman: Arkham Asylum dan Spider-Man.

Secara keseluruhan, membuat game yang berdasarkan IP tanpa bergantung dengan cerita film dapat membebaskan kreativitas pengembang. Mereka dapat bebas mengembangkan cerita original sendiri tanpa bergantung pada film. Semakin banyak pengembang yang mengembangkan game berdasarkan IP, bukan game tie-in film, ini menjadi pertanda industri game telah banyak berubah.

God of War: Ragnarok Cetak Rekor Penjualan Franchise di Inggris

GAMEFINITY.ID, Bandung – Baru saja rilis pada 9 November 2022, God of War: Ragnarok sudah cetak angka penjualan sangat tinggi. Di Inggris, game besutan Santa Monica Studios itu sudah cetak rekor penjualan sepanjang franchise.

God of War: Ragnarok Cetak Rekor Penjualan Sepanjang Franchise

Menurut GfK yang dilansir dari GamesIndustry.biz, penjualan versi fisik God of War: Ragnarok di Inggris sudah capai angka tinggi. Disebutkan pula bahwa angka tersebut mengalahkan angka judul lain franchise God of War selama minggu pertama penjualan. Angka tersebut tidak termasuk penjualan digitalnya.

God of War Ragnarok UK sales record 2
God of War: Ragnarok cetak rekor franchise di Inggris

“God of War: Ragnarok akan debut di posisi pertama [di chart penjualan game] dan jadi judul cross-gen pertama seri ini. Penjualan fisik hari pertama sudah melampaui angka yang didapat judul lain dalam franchise selama minggu pertama,” tutur bos GfK Dorian Blosch.

Franchise God of War memang sebelumnya menempati posisi atas di chart penjualan game di Inggris. Entri pertamanya, God of War yang rilis di PS2 pada 2005, debut di posisi kelima. Game keduanya rilis pada 2007 dan debut di posisi pertama. Game ketiganya rilis di PS3 pada 2010 dan juga memuncaki chart penjualan pada minggu pertama rilis.

God of War: Ascension, yaitu prekuel dari trilogi perdananya, rilis 2013. Game tersebut harus menempati posisi kedua pada minggu pertama penjualan di Inggris, kalah dari Tomb Raider reboot oleh Crystal Dynamics. Namun, God of War yang rilis 2018 kembali menempati posisi puncak pada minggu pertama penjualan dan cetak rekor angka penjualan terbaik sepanjang masa.

Baca juga: Horizon Zero Dawn Wajah Baru Game Produksi Sony Playstation

Dapat Sambutan Hangat Kritikus

Per tulisan ini, God of War: Ragnarok sudah mendapat skor 94 di Metacritic. Angka ini menyamai God of War (2005) dan God of War (2018). Ini juga menjadi judul baru dengan skor tertinggi kedua tahun ini setelah Elden Ring.

Kritikus turut menyambut hangat kehadiran sekuel God of War (2018) itu. Beberapa di antara mereka telah menobatkan game ini sebagai sebuah mahakarya (masterpiece). Salah satunya dari VGC yang menyebutnya sebagai salah satu game PlayStation terbaik sepanjang masa.

Melihat performanya yang mengagumkan di Inggris dan juga sambutan hangat dari kritikus, bukan tidak mungkin God of War: Ragnarok akan cetak rekor serupa secara global.

Battlefield Mobile Mulai Beta Test di Asia Tenggara

GAMEFINITY.ID, Bandung – Setelah pengumuman perdananya pada April tahun lalu, EA akhirnya menggelar regional beta test pertama untuk Battlefield Mobile. Game FPS itu sudah bisa diunduh di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Akhirnya, Battlefield Mobile Resmi Gelar Regional Beta Test di Asia Tenggara!

Battlefield Mobile lobby
Lobby Battlefield Mobile

EA akhirnya gelar regional beta test pertama untuk Battlefield Mobile mulai 8 November 2022. Terdapat 5 negara Asia Tenggara yang berkesempatan untuk mencoba game tersebut, yaitu Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, dan Filipina.

Karena ini menjadi open beta, pihak EA mengizinkan untuk merekam video dan mengambil screenshot selama gameplay. EA juga berharap setiap pemain yang berkesempatan untuk menikmati Battlefield Mobile dapat berkomentar tentang pengalamannya di media sosial. Diharapkan setiap komentar dapat membantu EA untuk semakin mengembangkan game ini sebelum perilisan resmi.

Saat ini Battlefield Mobile versi beta hanya tersedia di Android. Tampaknya pengguna iOS harus bersabar terlebih dahulu sebelum pengumuman lebih lanjut. Terlebih, Battlefield Mobile merupakan game khusus mobile, maka cross-play dan cross-progression tidak tersedia.

Semua progress selama beta test akan dihapus saat perilisan resminya. Semua pembelian dalam game di versi beta akan dikonversi menjadi Battlefield Coins dengan bonus 25% saat peluncuran nanti.

Baca juga: PMGC 2022 Umumkan Format dan Jadwalnya

Masih Mempertahankan Gameplay Khas Battlefield

Battlefield Mobile gameplay
Gameplay Battlefield Mobile

Pemain masih dapat menikmati gameplay khas Battlefield secara on the go. Untuk itu, terdapat mode yang sudah tidak asing termasuk Conquest, Warpath, Rush, dan Team Deathmatch.

Pemain dapat memilih salah satu dari empat kelas yaitu Assault, Engineer, Support, and Recon. Sambil bermain dan menaikkan rank di player profile, pemain akan unlock ability, gadget, item, dan specialization yang akan menambah keuntungan untuk kelas pilihannya.

Map yang menjadi favorit pemain franchise Battlefield juga tersedia seperti Noshahr Canals dan Grand Bazaar dari Battlefield 3. Kendaraan seperti tank akan muncul dan dapat dikendarai selama gameplay.

Battlefield Mobile sudah dapat diunduh di Google Play Store di Indonesia. Regional beta test rencananya akan merambah ke negara-negara lain. Game ini free-to-play dan tentunya akan menghadirkan microtransaction.

Riot Games Ambil Alih League of Legends di Asia Tenggara

GAMEFINITY.ID, Bandung – Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa League of Legends menjadi salah satu game MOBA terpopuler di dunia saat ini, termasuk Asia Tenggara. Riot Games akhirnya mengumumkan mereka akan mengambil alih hak publikasi game besutannya itu dari Garena setelah 12 tahun mulai awal 2023.

Sebelumnya Dipegang oleh Garena

League of Legends Southeast Asia Garena
Garena menjadi pemegang publikasi League of Legends di Asia Tenggara selama 12 tahun terakhir

Selama 12 tahun terakhir, Garena memegang server League of Legends di Asia Tenggara. Mereka juga memiliki hak publikasi spin-off-nya Teamfight Tactics semenjak rilis pada 2019. Sebelumnya, server Indonesia sendiri diputuskan untuk digabungkan dengan Malaysia dan Singapura pada 15 Mei 2019.

Disebutkan di press release-nya, Garena turut membantu perkembangan League of Legends di Asia Tenggara. Namun, Riot Games telah memilih untuk mengakhiri kerjasama dengan Garena demi berekspansi di Asia-Pasifik. Mereka ingin pemain di daerah tersebut mendapat pengalaman terbaik.

Sementara itu, Riot Games sudah mengurus publikasi Valorant, Legaue of Legends: Wild Rift, dan Legends of Runeterra di Asia Tenggara. Selain itu, mereka berencana untuk membuka kantor perwakilan di Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Filipina agar dapat berfokus menyesuaikan game untuk pemain di negara tersebut.

Riot Games Ambil Alih League of Legends di Asia Tenggara

Mulai Januari 2023, Riot Games resmi ambil alih hak publikasi League of Legends di Asia Tenggara. Berarti server yang dipegang oleh Garena, termasuk untuk Teamfight Tactics, akan dimatikan dan dialihkan. Pemain harus melakukan transisi akun dari server Garena ke server milik Riot.

Riot Games berencana menggelar event untuk menyambut pemain Asia Tenggara demi mengembangkan pengalaman bermain. Selain itu, mereka juga akan memberi gift berupa kumpulan reward in-game. Pendaftaran untuk melakukan transisi ini akan dibuka pada 18 November 2022.

Baca juga: DRX Jadi Juara League of Legends World Championship 2022!

Pemain diminta untuk melakukan migrasi secepat mungkin agar dapat menikmati pengalaman bermain League of Legends dari Riot Games tanpa gangguan. Mereka memastikan semakin cepat pemain melakukan migrasi, semakin banyak reward yang akan didapat.

Begitu transisi selesai, Riot Games mengatakan memiliki kesempatan untuk membawa pengalaman bermain khas League of Legends pada pemain di Asia Tenggara. Pastinya, persaingan untuk menjadi pemain Asia Tenggara pertama yang mencapai rank Challenger akan semakin seru.

Rising Stars Turnamen League of Legends Khusus Putri

GAMEFINITY.ID, Bandung – Riot Games akhirnya mengumumkan mereka bakal menggelar turnamen League of Legends khusus putri bertajuk Rising Stars. Ini adalah kali pertama bagi Riot Games untuk menggelar turnamen profesional League of Legends khusus putri.

Rising Star Jadi Komitmen Riot Games untuk Mempromosikan Inklusi dan Keberagaman di eSports League of Legends

Dengan digelarnya Rising Star, ini menjadi satu lagi komitmen bagi Riot Games untuk mempromosikan inklusi dan keberagaman. Sebelum ini, belum ada turnamen League of Legends khusus putri secara resmi. Sering sekali pihak ketiga yang menggelar turnamen serupa.

Riot Games sebelumnya pernah membuat inisiatif untuk mendukung pemain pro perempuan yang ingin ikut serta dalam esports. Pada awal 2021, mereka menggelar VCT Game Changers, turnamen Valorant khusus putri. Bulan lalu, turnamen Wild Rift khusus perempuan, Wild Circuit Game Changers, telah diumumkan.

“Rising Stars, sebagai turnamen tersendiri, menjadi satu lagi contoh upaya kami dan berbagai mitra untuk mempromosikan keberagaman dan inklusi di komunitas esports. Kenyataan bahwa kami juga dapat mendukung pelajar mengambil langkah profesional pertama bagaikan ceri di atas,” ujar Will Atwood, manajer competitive experiences Riot Games dilansir dari Eurogamer.

Baca juga: MrBeast Berencana Membeli Sebuah Tim League of Legends

Event Pertama Akan Digelar untuk Pemain di Eropa Utara

League of Legends Rising Stars Registration
Pendaftaran untuk turnamen Rising Stars sudah dibuka

Turnamen Rising Stars pertama akan digelar pada 26-27 November 2022 khusus pemain di negara-negara Eropa Utara, yakni Inggris, Irlandia, dan negara Nordik. Namun, pemain dari negara Eropa lain juga dapat mendaftar. Untuk pendaftarannya, pemain hanya harus mengunjungi laman Challenger Mode milik Rising Star NE. Pendaftaran akan ditutup pada 22 November 2022.

Proses pendaftaran akan melibatkan verifikasi gender yang dibuat oleh DivE. Pemain wajib menyertakan berkas identitas untuk memastikan mereka layak untuk ikut. DivE merupakan sebuah organisasi yang mempromosikan keberagaman gender di esports. Mereka telah membantu Riot Games menggelar Valorant Game Changers.

Turnamen ini dapat menjadi langkah besar bagi Riot Games agar mewujudkan turnamen esports khusus putri. Pengembang League of Legends itu sebelumnya pernah tersandung kontroversi karena diskriminasi gender. Saat ini, mereka ingin secara aktif melibatkan keberagaman dan inklusi dalam dunia esports.