GAMEFINITY.ID, Bandar Lampung – Salah satu game hasil adaptasi dari serial anime populer Goblin Slayer akan hadir dalam layanan HTML Game G123, tersedia dalam 3 bahasa, yaitu Inggris, Jepang, dan Chinese Traditional.
G123 sendiri ialah layanan game Jepang yang beroperasi dalam sebuah browser pengguna, terutama yang terfokus pada penyedia judul anime. Game 123 dapat dimainkan di browser, baik di mobile atau PC sekalipun.
Goblin Slayer menjadi salah satu katalog judul baru dalam browser ini dengan judul Goblin Slayer: Endless Hunting. Serial anime-nya sendiri dijadwalkan untuk season 2 di tahun depan.
Goblin Slayer, Dark Fantasy yang Dapatkan Adaptasi dan Season 2
Goblin Slayer adalah animasi serial Jepang yang diadaptasi dari manga dengan judul yang sama. Anime dengan judulnya saja pembaca sudah tau ini anime apa. Dikemas dengan gaya dark medieval ber-genre dark fantasy.
Goblin Slayer ditulis oleh Kumo Kagyu untuk Light Novel dan Kosuke Kurose untuk Manga-nya. Manga-nya sendiri hadir pada Mei2016 dan masih berlanjut hingga saat ini.
Sebagai bagian dari salah satu promosi game sebelum dirilis, Goblin Slayer: Endless Hunting ini menjanjikan dalam memberikan sejumlah besar reward dalam game yang akan dibagikan kepada semua pemain setelah game tersebut mencapai target pra-registrasi tertentu.
Setelah mencapai atrget pra–regist100.000regist, pemain dapat memulai petualangan dengan pemberian reward, seperti sejumlah Gems, Coins, Enchanace Stones, Bnd Stones, dan SSR Ally Ticket.
Join dalam Goblin Slayer: Endless Hunting Limited Quest
Sebagai salah satu dari merayakan perilisan game ini, setiap pemain yang bergabung dalam pertarungan dapat berpartisipasi dalam dailyquest yang diperbarui setiap hari. Pada hari ke-7, pemain mendapatkan reward berupa skin yang dapat digunakan pada karakter untuk upgrade weapon mereka. Misi di sini juga berfungsi sebagai tutorial untuk sistem game yang berbeda, menambahkan sedikit bonus untuk training dalam tutorial.
Karakter Keren dalam Goblin Slayer: Endless Hunting
Game ini hadirkan banyak karakter untuk party seperti pada anime-nya. Beberapa karakter tersebut seperti Sword Maiden, Lancer, dan Sorceress sebagai sekutu sementara dalam battle.
Dalam pengumuman lainnya juga, pengisi suara anime-nya turut hadir untuk kembali memerankan peran mereka dalam mengisi suara karakter di Goblin Slayer.
Update informasi menarik lainnya seputar game hanya di Gamefinity. Gamefinity.id menyediakan jasa pengisian top up dan vouchergame dengan cara yang mudah dan pastinya terjangkau.
GAMEFINITY.ID, PATI – Popularitas group duo Yoasobi saat ini memang sedang berada dipuncak sejak beberapa tahun belakangan. Dari pecinta J-pop hingga mereka yang tidak begitu suka J-pop mulai mendengarkan lagu-lagu Yoasobi saat ini. Bisa dibilang Yoasobi telah berhasil menyentuh hati para penggemarnya yang datang dari berbagai kalangan pecinta musik. Nah, mari kita mengenal lebih dalam duo Yoasobi yang sedang naik daun.
Asal Usul Terbentuknya Yoasobi
Yoasobi adalah duo musik Jepang yang terdiri dari seorang produser dan penulis lagu Ayase bersama penyanyi perempuan Ikura. Mereka terkenal karena lagu-lagu pop yang menyentuh hati yang telah mereka rilis sejak debut mereka pada tahun 2019.
Awal terbentuknya duo Yoasobi bermula pada saat Ayase yang masih seorang produser musik vocaloid mendapatkan tawaran dari situs cerita online monogatary.com. Dalam kolaborasinya Ayase akan membuat lagu – lagu yang terinspirasi dari cerita yang ada di website monogatary.
Saat itu Ayase sedang mencari – cari vokalis untuk project-nya melalui media sosial. Dan bertemulah dia dengan suara dari seorang penyanyi sekaligus penulis lagu, Lila Ikuta yang mana sekarang menjadi partnernya di Yoasobi sebagai Ikura. Pada awalnya Ikura sendiri masih bingung dengan konsep yang ditawarkan oleh Ayase. Namun setelah dia mendengan karya – karya Ayase sebelumnya yang merupakan musik – musik Vocaloid, Ikura langsung menyadari bahwa mereka berdua memiliki selera musik yang sama.
Nama Yoasobi sendiri bisa diartikan secara kasar “Kehidupan Malam” yang mana memiliki makna bagaiman Ayase dan Ikura yang sebelumnya memiliki karir masing – masing di siang hari sebelum pada akhirnya bersatu menjadi group Yoasobi. Ayase yang awalnya merupakan produser musik – musik vocaloid seperti Hatsune Miku, dan Ikura yang seorang penyanyi sekaligus penulis lagu.
Novel Dan Cerpen Sebagai Sumber Lagu
Seperti yang dijelaskan, Yoasobi terbentuk karena kolaborasi Ayase dan Ikura dengan platform cerita online Monogatary. Maka dari itu hampir semua musik yang dirilis oleh superduo ini diadaptasi langsung dari cerita – cerita para penulis di monogatary.
Contoh paling terkenal adalah Yoru ni Kakeru yang merupakan adaptasi dari cerita karya Mayo Hoshino yang berjudul “Thanatos no yuuwaku”. Meski memiliki irama musik yang asik, ternyata ada cerita kelam dibalik setiap lirik lagu Yoru ni Kakeru. Thanatos no Yuuwaku atau diartikan Godaan Thanatos menceritakan tentang sepasang kekasih yang berulang kali mencoba untuk bunuh diri.
Menurut Ayase apabila dia menulis lagu yang suram untuk mengekspresikan cerita yang suram hanya akan menjadi karya yang biasa saja. Maka dari itu Yoru ni Kakeru dibuat sebaliknya untuk membuatnya lebih menarik dan menonjol. Alhasil lagu ini berhasil trending dan viral di mana – mana hingga saat ini.
Berhasil Meraih Berbagai Penghargaan di Awal Debut
Perilisan lagu pertama mereka berjudul Yoru ni Kakeru berhasil meledak di internet pada tahun 2019. Popularitas lagu ini pun semakin meningkat ketika dirilisnya versi The Home Take di Youtube pada tahun 2020. Dalam lima bulan dirilis, Yoru ni Kakeru berhasil memuncaki tangga lagu Billboard Japan Hot 100 selama tiga minggu berturut – turut. Single ini juga dinobatkan oleh MTV Video Music Award Japan 2020 dan Space Shower Music Awards 2021 sebagai Song of the Year.
Yoasobi dinobatkan sebagai Artist of The Year di Ajang Penghargaan Space Shower Music Awards 2022
Pretasi duo group ini tentunya tidak sampai situ saja. Pada tahun 2021 MTV Video Music Award Japan 2021 kembali memberikan penghargaan terbesar mereka kepada Yoasobi sebagai Artist of The Year. Penghargaan ini juga kembali mereka raih di ajang penghargaan SPACE SHOWER MUSIC AWARDS 2022 yang baru saja diadakan beberapa waktu lalu.
Ikut Terlibat Dalam Pembuatan Anime
Tak hanya fokus pada industri musik, Yoasobi juga sering terlibat dalam pembuatan Anime. Pada tahun 2021 kemarin Yoasobi berkesempatan untuk menangani theme song dari anime populer Beastars Season 2. Yoasobi mengisi opening song dengan judul Kaibutsu (Monster) sekaligus ending song yang berjudul Yasashii Suisei (Gentle Comet). Kedua lagu ini masing-masing didasari pada kisah novel Jibun no Mune ni Jibun no Mimi o Oshi Atete (I Press My Own Ear to My Chest), dan Shishiza Ryūseigun no Mama ni (A Leonid, Always) karya Paru Itagaki.
Lagu terbaru, Yoasobi kembali hadir untuk mengisi soundtrack anime mecha populer Mobile Suit Gundam: The Witch from Mercury. Dalam anime ini Yoasobi membawakan lagu berjudul The Blessing yang terinspirasi dari novel karangan Ichiro Okouchi berjudul Yurikago no Hoshi (Cradle Star).
Dalam festival musik Head in The Cloud Jakarta, Yoasobi hadir sebagai bintang tamu untuk memeriahkan acara tersebut. Ini sekaligus menjadi penampilan perdananya di Indonesia mapun di luar negeri. Setelah sukses tampil di HITC Jakarta, Yoasobi menuliskan tweet ucapan terima kasih sekaligus memberikan tease mengenai konser solo mereka. Dalam tweet tersebut Yoasobi seolah telah merencanakan Indonesia sebagai destinasi konser solo mereka nantinya.
Beberapa waktu lalu Yoasobi baru saja memberikan informasi mengenai tour arena pertama mereka yang akan diadakan tahun 2023. Tour ini akan dimulai pada 5 April 2023 di Nippon Gaishi Hall dan berakhir di 4 Juni 2023 di Saitama Super Arena. Dalam tour ini Akan ada total 12 pertujukan di enam lokasi berbeda nantinya.
Jangan lupa untuk kunjungi Gamefinity untuk asupan Informasi seputar game, film, anime, lifestyle, dan pop culture. Nikmati juga kemudahan topup dan voucher games kesayangan kalian dengan harga di Gamefinity.id
GAMEFINITY.ID, Bandar Lampung – God Hand merupakan salah satu beat em up dengan balutan komedi untuk game action. Game ini dirilis pada September 2006 oleh Clover Studio dan diterbitka oleh CAPCOM. Game ini dapat dimainkan di platform PlayStation 2 dan PlayStation 3.
Sinopsis God Hand, Beat Em Up Full SFX yang Ikonik
Berkisah dari keluarga pelindung God Hand yang kehilangan salah satu God Hand, yaitu Left God Hand yang ternyata di curi Azel.
Olivia yang merupakan bagian dari keluarga God Hand Protector ini pergi berpetualang demi mencari Left God Hand bersama Gene yang telah ia percaya untuk menggunakan sisa God Hand yang ada.
Gameplay – Review God Hand, Beat Em Up Full SFX yang Ikonik
God Hand merupakan salah satu beat em up yang populer di konsol PlayStation 2. Game 3D Fighting ini disajikan dalam gaya permainan yang cukup unik, dengan sudut pandang orang ketiga sebagai penggunaanya.
Gameplay-nya juga cukup sederhana, dimana pemain hanya perlu pergi bertualang untuk mengalahkan musuh dan mengalahkan lastboss yang punya kekuatan hampir sama dengan sang maincharacter.
Sesuai dengan judul game-nya, pemain akan mengendalikan seorang karakter bernama Gene yang dimana dirinya merupakan petarung hebat sampai dirinya kehilangan tangan karena terkapak oleh musuhnya. Olivia sebagai keturunan pelindung God Hand ini mempercayakan Right God Hand kepada Gene yang melindungi dirinya dari bahaya sebelumnya.
Tujuan dari game ini adalah, menuntut Gene dan Olivia untuk mencari Left God Hand yang dicuri oleh Azel, Last Boss di God Hand. Ciri khas dari God Hand sendiri ialah memungkinkan penggunanya menembus batasan daripada anggota tubuh terlebih lagi dari tangan yang ditempeli god hand tersebut.
Graphic (9/10)
Graphic – Review God Hand, Beat Em Up Full SFX yang Ikonik
Memiliki visual yang menarik dengan fog yang hampir selalu ada kapanpun. Game ini menghadirkan visual yang baik dengan memperhatikan kualitas visual pada masa itu. God Hand sendiri menggunakan sudut pandang orang ketiga dalam permainannya secara penuh.
Control (8/10)
Control – Review God Hand, Beat Em Up Full SFX yang Ikonik
God Hand merupakan game PlayStation 2. Jadi sangatlah umum dan wajib dalam permainannya, God Hand dibawakan dengan menggunakan kontroler, kurang lebih sama dengan game beatemup kebanyakan.
Addictive (8/10)
Game ini sendiri cukup adiktif dan menarik dikalangan para penikmat beat em up. Game ini juga merupakan game yang disisipi komedi dengan action yang keren. Pemain dapat menemukan banyak cutscene yang membuat game ini jadi lebih menarik.
Music (9/10)
Aspek paling ikonik dair game ini adalah musik. Benar, musik dalam God Hand sendiri sangatlah ikonik dan keren. Setiap gerakan, serangan, scene memberika banyak latar musik dan sfx yang cukup memukau dan menyamankan para pemain.
Kesimpulan
God Hand menjadi salah satu beat em up dengan komedi yang menarik,, berikut kelebihan dan kekurangan God Hand yang dapat penulis sampaikan.
Kelebihan
God Hand sebagai game beat em up tidak hanya sebatas hadir dengan gerakan dan koreografi bertarung saja. God Hand juga menghadirkan sfx yang menarik serta serangkaian komedi yang terbalut dalam cerita hingga gerakan serangan yang Gene atau musuh lancarkan.
Kekurangan
Sedikit kekurangan untuk God Hand terletak pada penguncian kamera saja, God Hand tidak memungkinkan pemain untuk mengganti sudut pandang kamera dari game ini. Jadi diharapkan pemain dapat cepat beradptasi dengan sudut kamera yang setidaknya sudah cukup baik.
Untuk God Hand, Total Score yang dapat penulis berikan adalah 8,4.
Sekian Review God Hand yang dapat penulis sampaikan.
Update informasi menarik lainnya seputar review game hanya di Gamefinity. Gamefinity.id menyediakan jasa pengisian top up dan vouchergame dengan cara yang mudah dan pastinya terjangkau.
GAMEFINITY.ID, Bandung – Memasuki tahun 2023, Hideo Kojima tampaknya akan sangat sibuk. Meski Death Stranding 2 akhirnya resmi diumumkan di The Game Awards 2022, ia masih memiliki satu lagi proyek game. Game tersebut merupakan kolaborasi Kojima Productions dan Xbox Game Studios milik Microsoft.
Hideo Kojima Berkata Hanya Microsoft yang Mengerti Game Biasanya.
Proyek Kojima Productions x Xbox Game Studios masih menjadi misteri
Sejauh ini, detail tentang game tersebut masih belum diketahui semenjak pengumuman dalam acara Xbox & Bethesda Showcase 2022. Saat itu, Kojima hanya mendeskripsikan game-nya itu sebagai “benar-benar baru dan belum pernah terpikirkan siapapun”. Game itu merupakan proyek cloud-based.
Kojima menceritakan proyek game-nya bersama Microsoft dalam wawancara dengan IGN. Dirinya menjelaskan judul game itu berkonsep tidak biasa.
“Selain Death Stranding 2, kami membuat satu lagi judul yang tidak biasa. Saya paham pemain berharap karya pertama Kojima Productions berupa sebuah game. Walau membuat game lebih sulit daripada membuat tipe karya video lain, ini juga menjadi paling menyenangkan,” tuturnya.
Ia mengaku sudah mengajukan memikirkan konsep game itu selama lima atau enam tahun. Ia mempresentasikannya pada berbagai perusahaan besar. Namun, penolakan tidak terhindarkan. Mayoritas dari mereka menganggap dirinya gila.
“Akhirnya Microsoft yang mengatakan mereka paham dan sekarang kami mengerjakan proyek itu bersama-sama, termasuk sebuah technology front,” jelasnya lagi.
Berdasarkan bocoran yang sebelumnya beredar, penggemar memperkirakan game buatan Kojima Productions dengan Microsoft itu adalah Overdose.
Kojima Productions Rayakan Hari Jadi ke-7, Masuki Era Baru
Hari jadi ke-7 Kojima Productions jadi era baru bagi perusahaan
tanggal 16 Desember 2022 menjadi hari jadi ketujuh Kojima Productions. Ini menjadi era baru bagi perusahaan yang disebut Phase 2.
Era baru itu awalnya akan dimulai pada 2020. Namun pandemi COVID-19 memicu studio menunda casting dan syuting untuk sebuah proyek. Produksi Death Stranding Director’s Cut juga mengalami kesulitan karena pandemi. Ditambah, rencana membuat sebuah film pendek pun harus dibatalkan.
Saat ini, Kojima Productions tengah mengerjakan Death Stranding 2 dan sebuah game kolaborasi dengan Microsoft. Death Stranding juga akan diadaptasi menjadi film live action oleh Hammerstone Studios. Hideo Kojima menyebut film itu akan mengambil arahan yang belum diambil sebelumnya daripada semua adaptasi dari game lainnya.
Hideo Kojima tampaknya akan sibuk dengan berbagai proyek Kojima Productions mulai 2023 mendatang. Selain Death Stranding 2, penggemar tentu tidak sabar untuk menanti pengumuman resmi tentang game kolaborasi dengan Microsoft.
Update informasi menarik lainnya seputar review game hanya di Gamefinity. Gamefinity.id menyediakan jasa pengisian top up dan voucher game dengan cara yang mudah dan pastinya terjangkau.
GAMEFINITY.ID, Bandung – Microsoft kembali mendapat tuntutan hukum karena upaya akuisisi Activision Blizzard senilai US$69 miliar. Kali ini, sebuah tuntutan muncul dari sekelompok gamers beranggotakan 10 orang demi menghentikan proses merger tersebut. Ini menyusul tuntutan dari Federal Trade Commission (FTC) yang diajukan dua minggu sebelumnya.
10 Gamers Dari Amerika Serikat Tuntut Microsoft Atas Akuisisi Activision Blizzard
Merger Microsoft-Activision Blizzard ditentang sejumlah pihak, termasuk FTC
Upaya akuisisi Activision Blizzard oleh Microsoft digadang-gadang sebagai kesepakatan terbesar dalam sejarah industri game. Begitu kabar itu diumumkan pertama kali pada Januari 2022, publik menjadi pro dan kontra. Salah satu yang menolak upaya akuisisi ini datang dari FTC yang menuntut Microsoft demi menghentikannya.
Kali ini, sebuah tuntutan hukum berasal dari sekelompok gamers beranggotakan 10 orang. Tuntutan itu sudah diajukan pada 20 Desember 2022 di pengadilan federal California.
Alasan mereka mengajukan tuntutan karena proses akuisisi Activision Blizzard akan memberi Microsoft kuasa terlalu besar di industri game dengan kemampuan untuk menutup akses bagi pesaing, membatasi output, mengurangi pilihan konsumen, menaikkan harga, dan menghalangi persaingan.
“Industri game terus berubah dan berkembang, sangat penting bagi kita untuk melindunginya dari merger monopolistik yang akan merugikan konsumen dalam jangka panjang,” ungkap Joseph Savari, pengacara pihak penuntut di San Fransisco.
Menurut Kotaku, sekelompok gamers itu menggunakan The Clayton Antitrust Act of 1914 untuk menuntut pemilik Xbox itu. Hukum tersebut memperbolehkan publik Amerika Serikat menuntut sebuah perusahaan atas perilaku antikompetitif.
Mayoritas Publik di Inggris Justru Setuju dengan Proses Akuisisi
Berbeda dari Amerika Serikat, publik Inggris justru menyatakan setuju dengan proses merger ini. Hal ini menyusul permintaan Competition and Market Authority (CMA) mengundang publik untuk berpendapat.
CMA mengungkap 75% dari komentar publik melalui lebih dari 2.100 email menyatakan setuju. Regulator Inggris itu membagikan pendapat publik melalui sebuah dokumen PDF.
“Sony dan Nintendo lebih kuat daripada Microsoft di console gaming, dan merger itu akan membantu Microsoft bersaing dengan keduanya,” komentar salah satu yang menyatakan setuju.
“Microsoft sudah dominan di OS PC, dan merger ini menjadi upaya untuk mendapat posisi serupa di gaming,” komentar salah satu yang menyatakan menentang.
Sementara itu, Microsoft telah menganggapi tuntutan dari FTC baru-baru ini. Mereka mengaku kesepakatan untuk melakukan merger dengan Activision Blizzard tidak akan membahayakan kompetisi.
“Kami tetap berkomitmen untuk membuat solusi kreatif pada regulator yang akan melindungi kompetisi, konsumen, dan pekerja di sektor teknologi,” tutur Brad Smith, presiden Microsoft.
Jika Microsoft berhasil menyelesaikan proses akuisisi Activision Blizzard pada pertengahan 2023, mereka akan menjadi pemilik sah franchise besar Call of Duty, Crash Bandicoot, Warcraft, dan Overwatch.
Update informasi menarik lainnya seputar review game hanya di Gamefinity. Gamefinity.id menyediakan jasa pengisian top up dan vouchergame dengan cara yang mudah dan pastinya terjangkau.
GAMEFINITY.ID, Jakarta – Diadaptasinya cerita rakyat seperti Snow Queen, Putri Duyung, dan skisah lainnya pada industri hiburan modern menjadi salah satu langkah dalam pelestarian keberadaan kisah yang telah diceritakan sejak turun temurun ini baik lokal maupun mancanegara terlebih mayoritas generasi muda saat ini cenderung menyukai selebriti maupun karakter fiksi. Sebagian menganggapnya sebagai hal yang telah ketinggalan zaman.
Terlepas dari itu kepopuleran sang artis terkadang hanya bersifat sementara dan dapat terlupakan begitu saja di masa mendatang. Hal ini berbeda dengan cerita rakyat yang keeksisannya begitu abadi dikarenakan isinya yang sarat akan pesan moral dan akan diingat selalu sepanjang masa.
The Snow Queen, Mahakarya Dari Hans Christian Andersen Yang Menjadi Inspirasi Film Frozen Dan Cotton Cookie
Hans Christian Andersen
The Snow Queen merupakan cerita rakyat dan dongeng pengantar tidur anak yang dikarang oleh penulis sekaligus penyair masyhur berkebangsaan Denmark Hans Christian Andersen pada tahun 1844. Sosok Hans Christian Andersen memang tidak bisa dipisahkan dari cerita anak- anak. Alasan utamanya dikarenakan cerita yang dibawakan olehnya begitu mendalam dan sarat akan pesan moral yang selalu dikenang sepanjang hayatnya serta inspiratif.
Karya – karya beliau selepas kepergiannya telah diterjemahkan menjadi 147 bahasa yang berbeda di seluruh dunia. Karya beliau yang terkenal diantaranya The Snow Queen, Thumbelina, Putri Duyung, dan masih banyak lagi. Sebagian yang disebutkan juga telah diadaptasi menjadi film.
Menariknya diantara cerita yang dibuat oleh HC Andersen, The Snow Queen menjadi cerita terpanjang dan memiliki adaptasi terbanyak.
Alur Cerita Ratu Salju Yang Banyak Diadaptasi ke Media Modern
The Snow Queen menceritakan seorang gadis bernama Gerda yang berusaha mencari sahabatnya Kai yang hilang dibawa oleh Ratu Salju akibat pengaruh sihir dari serpihan cermin bangsa troll yang jahat. Nenek Kai mengatakan kepada dua anak tersebut bahwa Ratu salju akan datang ketika salju berkumpul semakin banyak.
The Snow Queen merupakan salah satu karya HC Andersen yang banyak mendapatkan adaptasi cerita
Di suatu malam yang bersalju, Kai melihat sesosok Ratu Salju yang kemudian datang untuk menemuinya. Kai seketika takut dan mundur dari dalam rumahnya. Hingga pada musim panas, serpihan kaca yang berasal dari Troll masuk ke diri Kai. Dirinya berubah 180 derajat menjadi begitu kejam terhadap kawannya, Gerda dan sang Nenek serta patuh terhadap Sang Ratu.
Perbandingan Kai dibawa Ratu Salju yang asli vs Cookie Run
Kemudian pada musim dingin, Kai meninggalkan Gerda dan keluarganya untuk ikut bersama Ratu Salju menggunakan kereta saljunya. Untuk melupakan keberadaan Gerda, Ratu salju kemudian mencium Kai sebanyak dua kali, pertama untuk membuatnya mati rasa kemudian ciuman keduanya untuk melupakan sahabatnya. Banyak yang beranggapan bahwa Kai telah meninggal semenjak dibawanya Kai oleh Ratu Salju.
Gerda yang betul-betul paham dengan keadaan Kai menolaknya, ia pun menanyakan keberadaannya, sayang nihil, tak satupun mengetahui Kai. Gerda selanjutnya datang mengunjungi rumah sesosok penyihir. Dan sang penyihir ingin Gerda tinggal bersamanya dengan tujuan melupakan sesosok sahabatnya dan bunga pada taman sang penyihir seketika tenggelam agar tujuan sang gadis tersebut betul-betul dilupakan.
Gerda saat menemukan beberapa bunga mawarnya pun menangis dan bunga bunga yang tenggelam tersebut terangkat. Iapun juga tidak menemukan sang sahabat dan merasa bunga-bunga tersebut tak dapat membantunya lalu pergi dari taman tersebut.
Hingga pada suatu hari, seekor burung gagak memberitahu posisi Kai saat ini kalau ia ada di sebuah Istana sang Putri. Alih-alih Kai, justru sang pangeran yang wajahnya identik dengan Kai bersama sang Putri. Ia lalu menceritakan yang sebenarnya kepada mereka berdua dan merekapun memberikan pakaian hangat kepada Gerda. Sampai pada suatu hari, Gerda ditangkap oleh sekawanan perampok dan dibawa ke kastil mereka. Setibanya di Istana sang Perampok, ia berteman dengan sang Gadis di Istana tersebut.
Sang Putri memiliki seekor burung merpati, dan rupanya sang burung merpati tersebut secara langsung menyaksikan Kai dibawa oleh sang Ratu tersebut. Apa yang dikatakan oleh sang merpati tersebut membuatnya bernapas lega. Sang burung mengatakan bahwa Kai dibawa ke Istana Sang Ratu salju yang berada di Lapland. Begitupun dengan sang Rusa, ia tahu persis lokasi istana tersebut karena tempat tinggalnya tidak jauh dari Istana Ratu Salju.
Sebelum Gerda tiba di Istana Sang Ratu, Gerdapun bertemu dengan wanita berkebangsaan Lapp dan Finlandia. Wanita itu kemudian memberi tahu sifat Gerda yang berhati baik dan tulus. Menurutnya sifat ialah yang dapat mengusir pengaruh jahat sang Ratu Salju. Setibanya Gerda dan sang Rusa di Istana, ia dihadang oleh penjaga kastil. Ia lalu memohon kepada Yang Kuasa untuk membantu dirinya.
Berkat bantuan dari Tuhan, sang penjaga akhirnya mengizinkan Gerda masuk dan terkejut jika Kai diam mematung di danau beku milik Ratu Salju itu. Gerda kemudian memohon Ratu Salju untuk membebaskan Kai. Ratu Salju menyetujui permintaan Sang gadis dengan memberikan tugas berupa sebuah puzzle yang dimana Kai harus merangkainya dan apabila membentuk suatu kata. Kai harus mengejanya agar kutukan tersebut terlepas.
Cotton Cookie pada franchise Cookie Run diambil dari Gerda The Snow Queen
Si Gadis berlari menemui Kai dan menciumnya. Ia pun mengeluarkan air mata yang mampu menghapus kutukan yang mengakar di tubuh sahabatnya. Akhirnya Kai terlepas dari kutukan tersebut dan dirinya kembali seperti yang dahulu. Merekapun menari dan membentuk sebuah kata yang dieja oleh Kai. Sepuas mereka menari serpihan tersebut membentuk sebuah kata keabadian dan Kai mengejanya. Dibantu oleh Rusa, dan dua wanita yang ditemuinya dahulu mereka lantas meninggalkan Istana sang Ratu.
Mereka juga bertemu dengan wanita perampok yang membantu melepaskan dirinya dahulu dan seketika kembali ke Rumah mereka dalam keadaan dirinya yang lebih dewasa.